Fajran Zain: Ketika “Peunutoh” Mualem Tidak Lagi Sakti

*Implikasi bagi Partai Aceh (PA) adalah terjadinya proses demokratisasi.

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Penolakan dari internal PA dan beberapa DPW Partai Aceh di daerah terhadap kandidat wakil gubernur yang mendampingi Muzakir Manaf atau lebih dikenal dengan sebutan Mualem, maupun penunjukan calon kepala daerah di beberapa kabupaten mengindikasikan bahwa “Peunetoh” dari orang nomor satu di tubuh Partai Aceh tersebut sudah mulai tidak cukup menyakinkan, bahkan ditentang oleh internal PA.

Hal tersebut di katakan oleh DR.Fajran Zain dalam wawancara dengan aceHTrend di sela-sela Diskusi Aceh Institute: intensive study & buka puasa bersama mitra dengan tema: “Tesis-Tesis PILKADA 2017” yang berlangsung pada hari Jum’at, (24/6/2016) di kantor Aceh Institute.

“Mengenai di tolaknya “Peuneutoh” Mualem di satu sisi saya melihat ada proses demokratisasi ditubuh Partai Aceh secara umum, sebenarnya praktek peuneutoh sudah lama terjadi, termasuk proses gagalnya PA di pemilu Aceh Selatan, apa lagi selama ini di internal PA ada praktek pengambilan keputusan yang mengandalkan satu dua orang saja,” ujar Fajran Zain

Menurut Fajran selama ini Mualem sendiri terkesan tidak membicarakan secara lebih terbuka dengan unsur-unsur pimpinan partai ketika menentukan siapa wakilnya, termasuk untuk penentuan kepala daerah di kabupaten kota, dan ini semakin menarik ketika “Peunutoh” mualem tidak lagi sakti, implikasi bagi PA adalah terjadinya proses demokratisasi, maka diharapkan ini harus jadi refleksi bagi Mualem, bahwa kedepan Mualem tidak bisa lagi mengambil pola-pola otoritarian, karena semua harus mengunakan proses demokrasi.

Sekilas tentang diskusi
Diskusi yang di selenggarakan oleh Aceh Institute ini menurut Fajran Zain menjadi sangat menarik adalah ketika kita mencoba memetakan apa saja kira-kira hal yang menarik untuk dicermati terkait Pilkada 2017 dengan mengangkat tesis-tesis, dan kita berangkat dari tesis besar yaitu pertama tesis terkait penyelenggaraan pemilu, kedua terkait dengan figur atau kandidat yang di unggulkan termasuk disana kita ingin melihat suara badan dan pasangan apakah simetris atau asimetris, dan yang ketiga adalah tesis hasil pilkada itu sendiri.

Kita ingin melihat outcome seperti apa, apakah bila si A terpilih akan berdampak pada ekonomi Aceh atau politik Aceh dan hubungan Aceh dengan Jakarta? Tiga variabel itu penting, dan ini merupakan diskusi pembuka. “Kita harapkan dua minggu lagi akan ada diskusi yang lebih spesifik tentang tesis-tesis ini,” ujar Fajran kepada aceHTrend.

Acara diskusi ini yang ditutup dengan pembagian sumbangan untuk anak yatim dan buka puasa bersama ini menghadirkan narasumber redaktur senior Serambi Indonesia Yarmen Dinamika, pembina Aceh Institute, DR.Saiful Mahdi, dengan moderator Muhammad Syuaib.

Selain itu tampak hadir Fuad Mardatillah, komisioner KIP Aceh Robby Syah Putra,SE, akademisi UIN Ar Raniry diantaranya Muazinah Yakob, Danil Akbar Taqwaddin dan sejumlah undangan serta wartawan.[]

KOMENTAR FACEBOOK