Said Rafiie: Kyoto dan Perlakuan Terhadap Bangunan Bersejarah

ACEHTREND.CO, Jepang – Bagaimana Kyoto – Jepang memperlakukan bangunan bersejarah di sana?

Said Achmad kabiru Rafiie,Dosen Universitas Teuku Umar, yang menjadi perwakilan Indonesia dalam forum pemimpin muda ASEAN-Jepang IATSS 2016 melaporkan dari Kyoto – Jepang untuk pembaca aceHTrend.

Dalam rangka mengikuti forum International pemimpin muda ASEAN – Jepang IATSS 2016, kami beserta rombongan dari delegasi negara ASEAN mendapat kesempatan untuk mempelajari bagaimana cara kota Kyoto-Jepang melestarikan bangunan tua diantara bangunan-bangunan modern yang ada di kota tersebut.

Kyoto merupakan kota seni, budaya, agama, dan pemikiran masyarakat Jepang yang terbaik. Kyoto pernah menjadi ibukota Jepang selama lebih dari 1000 tahun. Pada tahun 1864, kota Kyoto menderita kebakaran karena Pemberontakan Hamaguri. Hal ini mengingatkan kami pada provinsi Aceh yang merupakan daerah pertama sekali Islam datang ke nusantara. Sangat banyak bangunan-bangunan kerajaan islam di Aceh yang belum mendapatkan perawatan yang maksimal. Sehingga perlu upaya untuk melestarikan cagar budaya islam di Aceh.

Kembali ke Tyoto, setalah perang usai, bangunan-bangunan yang tinggal dan tidak musnah akibat perang inilah yang menjadi machiya machiya tua yang masih tersisa sekarang. Selama perang dunia ke II 1943-1945, Kyoto selamat dan aman dari gempuran bom Perang Dunia II yang menghancurkan sebagian besar kota di Jepang, sehingga banyak bangunan kayu serta peninggalan sejarah kuno yang terpelihara dengan utuh, termasuk bangunan machiya, rumah-rumah toko khas Zaman kekasisaran Edo.

Machiya-machiya kota ini disebut dengan “kyo-machiya”. Machiya Kyoto banyak terkonsentrasi di Distrik Gion. Tempat dimana kami berkunjung dan mendengarkan langsung upaya untuk tetap mempertahankan bangunan rumah tua tersebut diantara bangunan-bangunan pencakar langit kota Kyoto.

Rumah tua Machiya di Kyoto telah disulap untuk digunakan sebagai tempat bekerja yang memiliki nilai seni yang tinggi sehingga apabila memiliki kantor di rumah tua Machiya maka dianggap perusahaan tersebut memiliki prestise di masyarakat. Hal ini merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke kota Kyoto-Jepang untuk melihat bangunan-bangunan rumah tua dalam kota modern sebagian dari rumah tersebut telah berusia lebih dari 400 hingga 500 tahun dengan terawat dengan rapi.

Kita berharap pemerintah di Aceh tidak merobohkan bangunan bersejerah dan memelihara peningalan budaya Islam sebagai warisan untuk anak cucu kita nantinya. Bahwa di Aceh pernah berdiri kerajaan islam pertama di Nusantara. []

KOMENTAR FACEBOOK