Tu Sop: Trauma Orde Baru dan Politik Kepentingan Pribadi

Ada dua hal, yang membuat alim ulama melihat politik sebagai sesuatu yang tidak baik bagi kalangan mereka. pertama trauma orde baru. Orde yang dibangun oleh Soeharto sedikit banyak telah mengubah mindset para ulama tentang perpaduan agama dan politik. Dulu, setelah difusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ulama yang berhimpun didalamnya mencoba melanjutkan perjuangan Islam dalam bingkai NKRI. Namun setiap “tendangan” yang berpotensi goal, gawangnya selalu digeser oleh Soeharto.

Trauma kegagalan ini terus-menerus menghantui para alim ulama. Hingga akhirnya mereka “sepakat” hanya sekedar menjadi penasihat, yang wejangannya didengar namun tidak dijalankan. Dihadirkan pada acara seremonial, sebagai sekedar simbul tanpa pengaruh.

Kedua (dalam konteks Bireuen) sebenarnya yang sedang ditolak kehadirannya bukanlah ulama. Namun pribadi Tu Sop yang mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat Bupati Bireuen. Yang hendak dicoba hadang adalah Tu Sop yang dianggap punya pengaruh.

“Ketika ada wacana saya dijadikan wakil untuk salah seorang calon gubernur, semua mendukung. Semua sepakat golongan dayah harus mengambil posisi. Namun ketika itu saya menolak. Aceh terlalu besar bagi saya, saya ingin membangun fondasi ini dari Bireuen. Seperti kabar yang teungku dengar, ternyata untuk maju sebagai bacabup, lahirlah perbedaan pendapat, sebagian menolak ulama, padahal yang hendak ditolak itu pribadi saya,” ujar Tu Sop pada tengah malam awal Juni 2016.

Di Bireuen, beberapa cendekia Islam berpendapat, tidak etis bila seorang ulama maju sebagai calon bupati. Bila menang lumayan, bila kalah, mau dibawa kemana muka ulama dan dayah? Ulama cukup menjadi penasihat saja bagi umara. Tidak perlu mengotori diri di dalamnya.

Terkait pandangan ini, Tu Sop menjawab. Bahwa selama ini ulama sudah pernah hadir sebagai penasihat umara. Tapi sepertinya umara tidak mendengar apa yang disarankan ulama. “Sudah berapa lama ulama hadir sebagai penasihat? Apakah didengar?,” Tanya Tu Sop.

Bagi Tu Sop, para umara telah terlalu lama dibiarkan mempermainkan ulama. Cerdik pandai Islam hanya dijadikan tameng untuk mengaminkan kegagalan mereka, menjadi kesuksesan. Ketidakmampuan mereka membangun peradaban, ditutup oleh “wejangan” ulama yang “memberikan pengakuan” seakan-akan mereka sudah bekerja sesuai dengan jalurnya.

Tu Sop juga mengatakan, bahwa ulama sejatinya adalah kaum yang tidak takut kotor. Bila selama ini diasumsikan politik itu kotor, maka ulama harus hadir untuk membersihkannya.

“Fungsi ulama itu bukan sekedar penceramah, tapi juga pelaku lapangan. Sangat salah bila memposisikan ulama sebagai orang yang harus berdiri di atas awan, kemudian hanya berceramah saja, tanpa mau terjun ke dalam lumpur untuk memperbaiki kondisi bangsa. Ulama khittahnya adalah guru sekaligus contoh tauladan. Bila tauladan saja takut kotor, sehingga tidak mau berjuang secara nyata, lalu kepada siapa lagi bisa diharapkan?,” Gugatnya.

Lalu kenapa Tu Sop sangat komit maju? “Bireuen sudah terperangkap dalam carut marut. Saya punya ilmu untuk menyelesaikan masalah ini. Tentu semampu saya. Dengan kapasitas ini, saya dipanggil untuk turun gunung. Bukankah sudah tanggung jawab si pemilik ilmu untuk membenahi kondisi? Itulah alasannya,”

Bicara harta, bagi Tu Sop, apa yang ia miliki sejauh ini sudah di atas cukup. Ia memiliki segalanya untuk ukuran dirinya. “Saya termasuk memiliki apa yang diidamkan oleh orang lain. Majunya saya bukan hendak merebut kapital dari tangan orang lain,” katanya.

Pada akhirnya Tu Sop berpendapat, bahwa ia dengan kapasitas yang dipunyai, sudah waktunya untuk turun gunung. Membiarkan Bireuen semakin dibekap masalah, adalah sebuah kesalahan. “Bila menang, tanggung jawab besar sudah di pundak. Tak ada waktu untuk lambong kupiyah. “Bila kalah, saya sudah siap. Cendekia Islam sejati adalah ia yang berani berjuang dalam peperangan nyata, bukan mereka yang takut kotor dangan alasan yang dibuat-buat,” imbuhnya. []

KOMENTAR FACEBOOK