Toleransi Kultural ; Hentikan Diskriminasi

Toleransi selalu mengisyaratkan hal positif dalam perwujudan relasi sesama manusia. Menciptakan titik temu antara kerenggangan dan persatuan. Memberi sinergi dalam perdamaian. Dalam terminologi Islam, istilah yang dekat dengan toleransi adalah ”tasamuh”.

Sekalipun tidak secara utuh menunjukkan pengertian yang sama, tetapi secara essensial mengandung tujuan yang diinginkan, yaitu saling memahami, saling menghormati, dan saling menghargai sebagai sesama manusia. Tasamuh memuat tindakan penerimaan dan tuntutan dalam batas-batas tertentu.

Badan Pusat Statistik menyebut ada 1.128 suku di Indonesia yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau. Keberagaman ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan budaya paling kaya. Di sisi lain, keberagaman juga dapat memicu konflik bila tak dijembatani dengan baik. Maka dari itu, toleransi inilah yang sering dijadikan alternatif bagi manusia untuk meredam konflik sesamanya, juga sebagai penawar untuk menghapus rasa ego dan negatif dari sikap-sikap menggolongkan atau membedakan sesama manusia. Sikap-sikap itu sering dinamakan Diskriminasi.


Dalam bahasa Arab istilah diskriminasi dikenal dengan Al-Muhabbah yang artinya membedakan kasih antara satu dengan yang lain atau pilih kasih. Sedangkan menurut istilah diskriminasi adalah bersikap membeda-bedakan atau memisahkan antara sesama manusia, baik karena perbedaan derajat, suku, bangsa, warna kulit, jenis kelamin, usia, golongan, ideologi dan sebagainya. 

Membahas soal diskriminasi, sikap menggolongkan manusia berdasarkan entitas suku sering menjadi problem krusial yang dihadapi oleh sebuah negara dengan beragam etnik dan budaya didalamnya. Dan jelas hal itu menyangkut prinsip, dan identitas suatu kelompok manusia. Menyinggung suku atau daaerah tertentu berarti harus menghadapi segelintir urusan yang kompleks yang begitu sensitif menyangkut norma-norma yang telah tergeneralisasi dalam bentuk budaya dan adat tertentu, dan harga diri suatu kaum.

Pun begitu juga sebaliknya, bersikap terlalu membanggakan suku sendiri atau lebih dikenal sukuisme, hingga terkesan mengurung diri dari sikap menghargai dan menghormati suku lainnya yang juga akan berdampak negatif. Boleh jadi karena adanya sikap tersebut, asumsi kita selalu didominasi kekurangan dalam menilai suku tertentu, tanpa menilai sisi lebihnya, hal itu bahkan sampai pada level menggeneralisasikannya. Dan kadang sulit untuk dilogikakan, mengapa terkadang ada saja orang yang menilai status sosial, karakter kepribadian, perbuatan baik benar dan salah adalah sebab dari pengaruh fundamental suku yang di anut sejak lahir daripada individu itu sendiri.

PBB mencatat sebanyak 75 persen dari konflik besar yang terjadi di dunia saat ini berakar pada dimensi kultural. Dalam hal ini anomali multikulturalisme dalam esensi suku sering menjadi kendala dalam merangkul peradaban masa. Demi martabat dan kehormatan suatu suku, sekelompok orang harus rela bertumpah darah dan berperang. Cukuplah sejarah mengukir pengalaman pahit pada Tragedi Sampit yang melibatkan konflik antara etnis Dayak dan Madura, Penindasan terhadap etnis Tionghoa, intimidasi, serta pemerkosaan terhadap para perempuannya, dan lain-lain.

Jika konflik peradaban seperti ini, masih mampu dikontrol dengan meniadakan ego dan diskriminasi dalam keberagaman. Maka kita sudah mampu menjembatani wujud keberagaman yang ada agar tidak mengundang perpecahan didalamnya. Hal ini bisa kita tunjukkan dari perilaku toleransi itu sendiri.

Diskriminasi dan Kemiskinan Moral

Di negara yang menerapkan sistem demokrasi, primordialisme tidak seharusnya menjadi tolak ukur atau nilai yang membedakan kesadaran bersosial dalam bermasyarakat, justeru ia dianggap sebagai manivestasi hadirnya sikap-sikap bertenggang rasa dan saling menghormati, menghargai, dan dipandang sebagai kekayaan atau khasanah budaya yang melekat dalam persatuan bangsa.

Menurut saya sikap-sikap yang menggambarkan pecelecahan etnis atau suku, merupakan bentuk kemiskinan moral dan intelektualitas seseorang. Berangkat dari pengalaman situasi sosial yang saya amati, diskriminasi terhadap suku menjadi persoalan jadul yang masih menyelimuti iklim perkembangan zaman. Permasalah ini ibarat penyakit kronis yang menghinggap dalam paradigma manusia dan harus segera diobati. Mengapa saya kerap terpancing emosi dalam benak pribadi, tatkala seseorang sering menghukum keadaan atau situasi seseorang atau sekelompok orang dengan mengkait-kaitkan suku atau daerah dimana ia berasal dan dilahirkan disana. Bentuk pelecehan suku, seperti sikap menyindir, mengejek dan sebagainya menjadi sangat sensitif apabila terucap secara gamblang dalam lisan atau bahasa-bahasa teks serta menguhubungkannya dengan penghukuman keadaan tertentu yang jelas tidak berkesinambung dan tidak rasional.

Saya teringat ketika seorang teman melakukan sebuah kesalahan menyangkut etika kepada dosennya, namun justeru hukuman sang dosen kepada dirinya selaku mahasiswa yaitu merendahkannya dengan suku daerah dimana dia berasal. Seolah kesalahan mahasiswa tersebut disebabkan oleh karakter sukunya. Bukankah seharusnya sanksi akademik yang tepat diberikan kepada mahasiswa itu adalah yang sesuai untuk mengubah pola dan etika sebagai seorang mahasiswa. Mengamati situasi demikian, saya merasa begitu miris terhadap dunia pendidikan seperti ini yang masih mengalami krisis moral dam kekerdilan intektualitas kultural oleh kaum pengajarnya.

Berkaca pula dari kronologi ceramah Ust. Khalid Basalamah. Ceramah yang baik untuk mencerahkan dan menjadi ikhtibar dalam menambah nilai-nilai ketaqwaan bagi ummat Islam. Dalam beberapa durasi petikan ceramah itu sendiri belakangan ini menjadi viral perbincangan hangat para nitizen di Aceh yang ada menyinggung esensi kedaerahan tatkala beliau menyampaikan kesalahan argumen dalam menilai tradisi budaya dan ganja, sebagai sebuah dosa merata yang menyebabkan datangnya musibah Tsunami bagi orang Aceh. Tidak ingin terkesan mengungkit kembali kasus tersebut. Saya hanya mengambil sebuah kesimpulan, bahwa hakikatnya manusia atau sekelompok orang tentu akan merasa memiliki kesamaan dan perasaan yang selaras ketika seseorang menilai rancu atau rendah akan historis daerah yang merupakan bagian dari identitas yang harus dijaga penuh kehormatannya. Khususnya bagi masyarakat suku Aceh sendiri.

Mencintai Keragaman

Setiap sudut pandang yang digunakan tentu akan melahirkan kosekuensi didalamnya, terlebih dalam menjalani kehidupan dan berusaha beradaptasi dan mencintai keragaman. Itu sebabnya toleransi menjadi fondasi penting untuk saling merangkul peradaban. Jika tak bisa untuk sekedar menyanjung dan menghargai, maka hormatilah.

Diskriminasi justeru akan melahirkan konflik dan bara perpecahan. Jika penyakit ini mampu kita hentikan, tentu tidak akan ada lagi perspektif untuk saling merendahkan, men-judge suatu suku atau daerah dalam pranata sosial ini. Maka apapun segala aspek hubungan sosial, tidak lagi ada yang namanya saling membedakan, antara suku Aceh dan Jawa, Batak, Minang, Melayu, baik juga membedakan seseorang baik dari Agama, derajat, warna kulit, adat dan budaya, serta wujud pranata sosial lainnya.[]