Realisasi Rabithah Menuju Gerbang Mardhatillah (1)

Helmi Abu Bakar El-Langkawi

Oleh :Helmi Abu Bakar El- Langkawi

Kehidupan manusia dalam keseharian tidak terlepas dari interaksi (hubungan) antara satu sama lainnya. Hubungan ini disebabkan manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin hidup sendiri tanpa membutuhkan kepada yang lain. Prosesi interaksi manusia tersebut melahirkan sebuah jamaah atau perkumpulan. Islam sangat menganjurkan umatnya hidup dalam berjamaah. Perintah ini seperti disebutkan dalam banyak hadist diantaranya seperti kutipan Imam Bukhari dalam kitabya Tarikh al-Khabir menyebutkan :.Kalian hatus berjamaah.( Kitab Tarikh al-Kabir, Jilid VIII, hal 447). Saidina Umar Bin Khatatab dalam khutbahnya menyampaikan sabda nabi yang berbunyi :..Kalian harus berjamaah dan hindarilah bercerai (dari jamaah), karena setan bersama orang yang sendirian”. (Kitab Sunan Tumudzi, jlid IV: 465, Sunan al_kubra, Jld V, hal.388). Dalam dunia tasauf keterikatan tersebut lebih dikenal dengan sebutan rabithah.

Mengupas pembicaraan tentang rabitah tidak terlepas perannya wasilah, wasilah dan rabitah ini dua unsur yang saling berkaitan. Membahas tentang wasilah dan rabitah, sesungguhnya juga membahas tentang fenomena rohaniah. problema ini merupakan masalah yang amat sangat halus dan oleh sebab itu pengkajiannya adalah amat tinggi dan terkadang logika tidak samapi merabanya dan sangat diperlukn keyakinan dan kepekaan hati dalam memahaminya. Rabitah dan wasilah dia merupakan kunci, merupakan power, merupakan kekuatan dalam beramal. Dia adalah sumber keikhlasan, yang merupakan kunci dari diterimanya amal ibadat dan kesuksesan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Rabithah dalam etimologinya diartikan dengan perhubungan, perikatan.(Kamus Arab-Indonesia, Mahmud Yunus, 136). Dalam kamus Al-munawir disebutkan bahwa rabitah adalah hubungan atau ikatan. (kamus al-Munawir, hal 501). Syekh Daud al-Fatani di dalam kitabnya Diya ‘ul-Murid” menyebutkan bahwa rabitah itu mengkhayalkan rupa syaikhnya di antara dua matanya maka yaitu terlebih sangat muakkad bagi memberi bekas. Maka dihadirkan rupa syaikh pada hatinya..

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh ‘Abdus Shamad Al-Palimbangi di dalam kitabnya Hidayatus-Salik mengatakan tentang adab-adab berzikrullah, antara lain beliau menyebutkan adab yang ketujuh dengan katanya:”Ketujuh, menyerupakan rupa syaikhnya antara kedua matanya dan adab ini terlebih muakkad (sangat dituntut) pada ahli tasawuf.”

Sementara itu dalam persfektif Syekh Muhammmad Amin Al Kurdi menyebutkan diharuskan seorang murid terus menerus merabitahkan rohaniahnya kepada rohaniah Syekh gurunya yang mursyid, guna mendapatkan karunia dari Allah SWT. Beliau mengatakan sebuah karunia yang didapati itu bukanlah dari mursyid, seorang mursyid tidak memberi bekas, pemberi bekas yang hakiki dan sesungguhnya hanya Allah SWT.

Dia pemegang peranan seluruh perbendaharaan di langit dan di bumi, dan tidak ada yang dapat berbuat untuk mentasarufkannya kecuali sang khalik sendiri melalui pintu- pintu yang telah ditetapkan-Nya atau menjadi Sunnah-Nya, antara lain melalui para kekasih-Nya, para wali-wali Allah SWT yang memberikan syafaat dengan izin-Nya ( Tanwirul Qulub, Syekh Amin Al Kurdi, hal 448).

Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah al-Khani di dalam kitab“Bahjah Saniyyah“ setelah beliau menerangkan dengan panjang lebar tentang pentingnya rabitah dan cara mengamalkannya, beliau menyimpulkan nasihat terhadap para salik dengan katanya hendaklah (salik / murid) itu mengekalkan rabitah di sepanjang masa dan tidak boleh meninggalkan rabitah itu sama sekali. Kemudian, ketahuilah bahawasanya murid itu perlukan rabitah, sekiranya murid itu tidak mendapatkan limpahan rahmat dari Allah tanpa wasitah.

Mayoritas ulama dalam mendefinisikan rabitah ini hampir sama mafhum (pemahaman)nya walau dengan redaksi yang berbeda, bisa ditelaah lebih lanjut dalam kitab karangan Syaikh ‘Abdul-Majid bin Muhammad al-Khani, yang berjudul “Sa ‘adah al-Abadiyyah, Syekh al-Dihlawi pula di dalam kitabnya Qawl al-Jamil, Shaikh Husain bin Ahmad al-Dawsari di dalam kitabnya Rahmah al-Habitah dan masih banyak lagi yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu.

Rabitah dalam banyak literatur para ulama dapat disimpulkan merupakan suatu perikatan dan hubungan rohaniah murid dengan rohaniah sang guru, guna mendapatkan wasilah yang ada pada rohaniah Syekh Mursyid, di mana rohaniah Syekh Mursyid tersebut telah berhubungan, berhampiran serta terkoneksi dengan rohaniah Syekh-Syekh Mursyid sebelumnya, sampai dengan rohaniah Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW.

Seorang yang menempuh jalan ibadah (salik) meyakini bahwa para guru dan masyaikhul kiram hingga rasulullah SAW merupakan wasilah dalam meniti jalan ibadah untuk sampai kepada hail akhir dari ibadah itu sendiri dan bukan sebagai maqasid. Maqasid (tujuan)nya tetap Allah SWT. Realisasi kehendak seseorang hamaba kepada lainnya yakni membutuhkan sesuatu selain allah merupakan suatu bentuk majaz bukan hakikat, kalau kita beriktikad memohon secara hakikat tentulah perbuatan tersebut merupakan syirik yakni menyukutukan Allah SWT.

Kedekatan seseorang dengan guru (syekh mursyid) bukanlah dikarenakan dekat zatnya dan bukan pula karena mencari sesuatu dari pribadinya tetapi karena mencari hal-hal yang dikaruniakan Allah kepadanya(kedudukan yang telah melimpahkan Allah atasnya) dengan meyakni bahwa yang membuat dan memberi bekas hanya semata-mata karena Allah SWT seperti orang yang fakir berdiri berdiri dipintu orng kaya dengan tujuan meminta sesuatu yang dimilikinya sambil mengiktikadkan bahwa yang mengasihi dan memberi nikmat hanya Allah yang mempunyai gudang langit dan bumi serta tidak ada yang menciptakan selainnya.

Penyebab dia berdiri di depan rumah orang kaya itu karena dia meyakini bahwa di sana ada salah satu pintu nikmat Allah yang mungkin Allaha membeikan nikmat itu melalui sebab orang kaya itu. (Tanwirul Qulub, Syekh Amin Kurdi, hal. 527)

Wasilah secara etimologi bermakna “perhubungan (Kamus Arab-Indonesia, Mahmud Yunus, Hidakarya Agung, 1999)“. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa wasilah itu merupakan sesuatu yang menyampaikan kepada tujuan. (Tafsir Ibnu Kasir II : 52-53).

Pengertian yang hampir sama juga diutarakan oleh Syekh Muhammad Amin Al Kurdi, beliau mengatakan Wasilah ialah sesuatu yang menyampaikan ke Hadirat Allah SWT ( Tanwirul Qulub, Amin Al Kurdi, hal 447). Secara global wasilah dapat dirtikan sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan kita kepada suatu maksud atau tujuan. Nabi Muhammad SAW adalah wasilah yang paling dekat untuk sampai kepada Allah SWT, kemudian kepada penerus-penerusnya yang Kamil Mukammil yang telah sampai kepada Allah SWT yang ada pada tiap-tiap abad atau tiap-tiap masa. (Sulaiman Zuhdi, 1288 H : 3)

Bersambung

Wallahul Muwafiq Ilaaawamith Thariq,
Wallahu Allam Bishawab

*Staf pengajar Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga
dan Jamaah Tariqat Naqsyabandiah Aceh
lamkawe82@gmail.com
085277842982

KOMENTAR FACEBOOK