Nasib Pilu Kepentingan Aceh dalam Pilkada 2017

Akankah Pilkada 2017 menjadi ajang mewujudkan kepentingan Aceh? Atau, Pilkada 2017 menjadi momentum bagi elit Jakarta untuk kembali menculik Aceh, dan membawa Aceh menjauh dari rahim kesadaran keacehan.

Sebelum mengulas lebih dalam, terlebih dahulu kita pahami makna kepentingan Aceh yang dimaksud dalam tulisan ini. Kepentingan Aceh, meminjam pengertian politik dari Aristoteles, adalah kebaikan bersama.

Jika begitu, ijma’ rakyat Aceh tentang kebaikan bersama itu adalah terwujudnya tujuan bersyariah, yaitu: adanya perlindungan atau memelihara jiwa (Hifz Al Nafs), akal (Hifzh al-aql), agama (Hifzh Al-din), keturunan (Hifzh al-Nasl), harta (Hifzh  al-Mal), dan terkini juga perlunya perlindungan atau pemeliharaan lingkungan (Hifzh al-Bi’ah).

Dengan adanya perlindungan enam hal inilah, maslahah atau kebaikan bisa dicapai. Meminjam istilah Hasan Tiro, inilah yang kini mesti disebut kepentingan nasional Aceh. Atau, kembali ke makna politik Aristoteles, inilah yang disebut kebaikan bersama bagi Aceh. Atau, mengacu kepada cita-cita rakyat Aceh, dengan jalan syariat, inilah yang mesti diterapkan sebagai manhaj mewujudkan keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan di bumo Aceh.

Lantas, apa yang dimaksud dengan momentum elit Jakarta kembali menculik Aceh, dan membawa Aceh menjauh dari rahim kesadaran keacehan. Disebut elit Jakarta karena elit inilah yang sepenuhnya melihat politik sebatas politik kepentingan.

Bagi mereka, Pilkada di semua daerah, termasuk di Aceh adalah sebatas kapital, dan menguasai kursi-kursi kekuasaan sama artinya menguasai mesin uang, yang bisa dipakai kembali untuk menguasai “kursi.” Jadi, kursi dan uang adalah “peternakan” bagi elit Jakarta, baik kini masih mandiri maupun yang sudah berhasil menyusup ke partai politik.

Jadi, kalau hari ini belum ada partai nasional yang memutuskan untuk bersepakat mengusung/mendukung siapa sebagai calon gubernur Aceh atau calon kepala daerah di kabupaten/kota maka patut diduga Parnas sedang dalam cengkeraman elit Jakarta yang orientasi politiknya sebatas kursi dan bisnis, atau kita sebut saja orientasi pragmatis.

Mereka hanya mau mengusung atau mendukung yang menurut mereka dijamin menang, bukan calon yang menurut mereka secara kepentingan politik, ideal untuk diusung atau didukung, dan bersama-sama diperjuangkan agar menang.

Kesadaran Aceh
Bagi elit Jakarta yang pragmatis ini, membiarkan Aceh terus berada dalam ruang kesadaran keacehan adalah hal yang tidak memberi keuntungan bagi mereka. Tidak bisa menguasai Aceh selain tidak bisa mengekploitasi Aceh juga dipandang dapat mengancam politik kepentingan mereka di masa depan. Jika Aceh dibiarkan terus tumbuh dengan kesadarannya dipastikan akan menjadi inspirasi bagi nasional untuk juga meneladani Aceh.

Kajian ini mengharuskan elit Jakarta untuk ikut bermain dalam mengatur aras politik nasional guna mendukung siapa calon gubernur Aceh yang bisa menjaga dan memberi keuntungan bari mereka, dan bila perlu ikut berkerja untuk mengamankan jalan kemenangan bagi calon kepala daerah yang diinginkan elit Jakarta dalam prinsip politik kepentingan.

Jika Pilkada Aceh sudah berada dalam cengkeraman elit Jakarta maka dipastikan kepentingan (politik) Aceh terabaikan dalam Pilkada 2017. Kalau sudah begini, bisa jadi, siapapun yang bakal dipilih oleh rakyat Aceh adalah “boneka” elit Jakarta yang akan berkerja untuk tuan mereka, dan itu artinya kepentingan Aceh terabaikan. Rakyat Aceh akan kembali sekedar menikmati pembangunan simbolis dimana rakyat kecil sebatas menjadi aksesoris dari kehendak elit Jakarta yang kepentingannya dilakoni oleh putra dan putri Aceh yang terjebak untuk kesenangan sesaat.

Masih ada waktu bagi elit Aceh yang masih terus untuk mewujudkan kepentingan Aceh untuk menyadari keadaan ini dan sama-sama menolak politik peuglah pucok droe yang kini sedang merasuki alam batin sejumlah calon kepala daerah. Sedihnya, dalam situasi Aceh bakal diculit elit Jakarta, dua ulama Aceh yang cendikia sudah dipanggil Allah SWT. Akankah ada ulama lainnya yang bisa menambal lubang yang ditinggalkan Abon Seulimum dan Abuya Djamaluddin Waly, atau rakyat Aceh sudah tiba waktunya untuk kap igo, dan dong beukong dalam arus kehancuran negeri? Allah SWT saja tempat kita berlindung dan lakee tulong. Allahu Akbar. []

KOMENTAR FACEBOOK