Penjelasan Abdullah Saleh Dinilai Jadi Bukti Kalau Kunker DPRA Sia-Sia

ACEHTREND,CO, Banda Aceh – Penjelasan Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh tentang apa yang mereka lakukan dalam kunjungan kerja mereka ke Amerika Serikat justru dinilai menjadi bukti bahwa Kunker DPRA sia-sia alias peuhabeh peng.

“Sia-sia alias peu habeh peng,” kata Teuku Yusra Dharma dalam group komunitas Awak Droe Only.

Menurut lelaki romantis yang akrab disapa TYD itu, disebut sia-sia karena sebelumnya, beberapa anggota Komisi V DPRA yang membidangi Pendidikan, Sains dan Teknologi sudah pernah berkunjung ke tempat yang sama.

Melalui aceHTrend, Abdullah Saleh mengatakan bahwa kunjungan mereka difasilitasi oleh Mr. Brook William Rose, dari Founder & Manager Indonesian Education Patnership. Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah University of Rhode Island (URI), pada hari Selasa, (26/7/ 2016).

TYD menambahkan, pihak URI juga sudah pernah melakukan kunjungan balasan ke Aceh. Mereka bertemu kembali dengan pihak Komisi V, dan juga membicarakan perihal kemungkinan kerjasama. Pihak URI, mengutip penjelasan Ketua Komisi V kala itu mengatakan bahwa mereka serius bekerjasama dengan Pemerintah Aceh untuk memajukan dunia pendidikan di Aceh dan perekonomian dibidang perikanan.

TYD juga mengatakan bahwa pihak URI juga sudah bertemu dengan Unsyiah. Dalam pertemuan itu, Presiden University of Rhode Island (URI) Amerika Serikat URI Dr. David M. Dooley menawarkan kerjasama kepada Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang telah mendapatkan akreditasi A. Kunjungan tersebut disambut oleh Wakil Rekor IV Bidang Kerjasama Unsyiah Dr. Nazamuddin, SE., M.A di Balai Senat Unsyiah, Selasa (22/3/2016).

Nazamuddin yang dimintai tanggapan soal kunker DPRA ke Amerika Serikat yang double dengan Komisi V DPRA menilai jika kunker itu tidak tepat. Jika pun harus juga ditindaklanjuti mestinya cukup satu dua orang saja.

“Ya tidak tepat. Kalaupun dikunjungi cukup 2-3 orang dan harus ada hasil konkrit kerjasama,” katanya.

Malik Feri Kusuma, Ketua The Aceh Human mengatakan bahwa dengan doublenya kunjungan, apalagi sampai berombongan plus membawa istri maka makin banyak uang rakyat yang sia-sia.

“Banyak biaya yang dihabiskan kunker ke LN itu, apalagi bawa istri. Sangat tidak etis kalau pakai uang APBA untuk jalan2 ke Amerika. Harusnya, jika memang diundang, maka pihak pengundanglah yang membiayai,” tegas Feri.

Dalam penelusuran aceHTrend, Indonesian Education Patnership adalah lembaga “broker” dibidang pendidikan. Lembaga ini dan sejenisnya memang aktif menjajaki kerjasama dengan pihak universitas dan pemerintah daerah guna membangun kerjasama pendidikan, pengembangan kapasitas dan penelitian dengan berbagai lembaga pendidikan di Amerika Serikat.

“Lembaga ini mendapat imbalan dari lembaga pendidikan di Amerika manakala berhasil menggaet kerjasama dengan lembaga pendidikan di berbagai daerah di Indonesia,” kata salah seorang narasumber aceHTrend di Jakarta, yang juga bergiat dalam bidang sponsor pendidikan. []

KOMENTAR FACEBOOK