[STORY FK] “Demi Suguhan Kopi Terbaik”

“Kita punya kopi kualitas terbaik yang apabila diproses secara benar akan setara dengan kopi-kopi terbaik dunia lainnya.” Agam pendiri Fakultas Kopi

***

“Perjalanan Fakultas Kopi dimulai tahun 2015, dan itu di kota Medan,” kata Agam.

Agam adalah salah seorang pendiri Fakultas Kopi (FK). Dua rekan lainnya adalah pecinta kopi.

Sebelum menuju kopi arabika, para pendiri FK memang sudah memiliki beberapa kedai kopi. “Tapi masih berkonsep tradisional Aceh (robusta Uleekareng) dan tidak mengedepankan unsur edukasi tentang kopi,” jelas Agam.

Warga ADO Jakarta
Warga ADO Jakarta

Di Medan, Agam dan rekannya
Para pendiri FK terdiri dari Agam tergerak terjun ke dunia kopi karna melihat begitu banyaknya kedai kopi khas Aceh yang bermunculan di Medan.

Namun, dari hasil amatan sedikit yang paham bahwa kopi Gayo yang juga berasal dari Aceh sudah diakui oleh pasar donya (internasional), sebagai salah satu yang terbaik.

Menurut Agam, kopi gayo yang berjenis arabika ini tidak cukup hanya diproses dengan metode tradisional Aceh yaitu dengan disaring, karena itu harus menggunakan mesin kopi (espresso) yang mumpuni.

warga ADO Jakarta
warga ADO Jakarta

Berangkat dari kesadaran tersebut, Agam selaku pemilik merek Fakultas Kopi memutuskan untuk mempelajari lebih dalam tentang kopi, bukan hanya dari bisnis penyajiaanya saja (cafe) tetapi juga bagaimana menghasilkan bahan baku yang berkelas dunia dan rasa yang konsisten.

“Ya, menghasilkan bahan baku yang berkelas dunia dan rasa yang konsisten, bah meukeutam meunan, itu tantangan awal,” kata Agam dengan ekpresi yang membangkitkan hawa meukupi.

Warga ADO Jakarta
Warga ADO Jakarta

Agam berkisah, setelah mengambil kelas barista dan cupper di Jakarta, Agam langsung bergerak ke Tanah Gayo yang merupakan penghasil kopi arabika terbesar di Asia.

“Ini (Gayo) surga arabika Asia,” kata Agam.

Setiba di Gayo, Agam melihat ada fenomena yang sang membingungkan bahwa dengan besarnya volume produksi dan banyaknya varian kopi arabika di Gayo, dan Agam lalu memutuskan untuk memproduksi sendiri kopi, dan itu berarti harus dari kebun sendiri.

“Kopi arabika Gayo yang digunakan di FK ini adalah hasil dari kebun sendiri yang diproses secara khusus (specialty), yang apabila dijual ke pasar internasional, harganya menjadi sangat mahal,” terang Agam.

Tapi dengan tekad untuk memberikan suguhan terbaik bagi anak bangsa, Agam melanjutkan rencana konsep FK dengan harapan kelak pecinta, penikmat dan peminum kopi di Indonesia semakin mengerti bahwa “kita punya kopi kualitas terbaik yang apabila diproses secara benar akan setara dengan kopi-kopi terbaik dunia lainnya.”

“Kalau sudah begitu, kenapa kita masih ngopi di gerai-gerai asing?” tanya Agam seperti menantang para pecinta kopi Indonesia untuk berpaling dari gerai asing.

Begitulah asbab nuzulnya, dan Fakultas Kopi Medan yang telah dibuka pada oktober 2015 pelan-pelan mulai dipenuhi oleh pecinta kopi, dari berbagai kalangan terutama anak muda.

Setelah mereka mencoba, dan mendapat informasi yang benar tentang kopi, mereka makin sadar dan bangga dengan kopi negeri sendiri, apalagi harga yang ditawarkan juga terjangkau untuk kantong anak muda.

Melihat perkembangan di Medan, Agam memutuskan untuk mengambil tantangan yang lebih serius, Jakarta.

Berbekal jaringan pertemanan dan komunitas di Jakarta terutama perantauan dari Aceh & sumut, FK JKT mulai menemukan pasarnya.

“Tetapi tantangan terberat bukan disitu,” tegas Agam.

Soalnya, pasar warga Aceh-Sumut di JKT terbatas, dan mereka tidak semua beraktivitas di sekitar kawasan Senayan.

“FK harus bisa diterima oleh masyarakat JKT pada umumnya,” kenang Agam akan tekad bulatnya.

Tantangan di Jakarta terutama di kalangan muda dan pekerja dengan keberadaan beberapa gedung perkantoran, pusat perbelanjaan dan perguruan tinggi di sekitar lokasi FK jln Hangtuah.

“Seharusnya FK mudah mendapatkan pelanggan, kenyataannya tidak demikian,” ujar Agam soal tantangan.

Bagi sebagian besar mereka, kata Agam, kebiasaan ngopi belum seperti di Medan atau Aceh, ngopi masih dianggap mahal dan kalaupun bukan di warung-warung tradisional haruslah di gerai-gerai asing.

“FK JKT harus mencari cara dan berusaha sekuat tenaga agar mudah diterima oleh kalangan pekerja dan mahasiswa sekitar kawasan senayan & kebayoran baru,” kisah Agam.

Salah satu upaya yang akan mereka lakukan adalah dengan mengadakan even-even dan promo sehingga mereka lebih familiar dengan FK, kopi kelas dunia tetapi harga terjangkau.

“Dan ada satu lagi, di FK ini “warga” ADO Jakarta bertemu, berkumpul, dan menjadikan Aceh menjadi bagian dari rasa kopi mereka di rantau,” kata Agam.

“Mudah-mudahan keberadaan FK semakin diterima oleh pasar Indonesia, bukan hanya sebagai kedai kopi biasa tetapi juga sebuah tempat yang menampilkan kekayaan & kebangsaan bangsa,” tutup Agam penuh harap sekaligus juga penuh yakin. Semoga []

KOMENTAR FACEBOOK