Kopi Nurlis E Meuko

Di Aceh, minum kopi juga sebuah deklarasi jati diri. Jika bisa ngopi dengan siapa saja, tanpa sunkan, apalagi ketakutan, itu tanda bahwa ia bukan sekedar penikmat kopi, tapi juga manusia merdeka.

Sebaliknya, jika hanya bisa ngopi dengan satu golongan, maka ia sebatas manusia golongan. Dari mulai rasa kopi, sampai tafsir keadaan semua milik golongan. Tubuh dan jiwa hanya sekedar kendaraan, bagi pemuasan sang penguasa golongan.

“Sekarang saya bisa ngopi dengan semua orang…” tulis Nurlis E Meuko, pemimpin umum media online atjehpost.

Itulah kalimat deklarasi kemerdekaan bagi seorang Nurlis E Meuko. Mantan wartawan Tempo ini seperti terlahir kembali, setelah sebelumnya menempuh perjalanan yang endingnya harus melewati “jembatan” pemaafan.

“Maaf itu adalah rakit yang menghubungkan diri yang terpisah, sekaligus jembatan menuju masa depan.”

Kalimat yang kerap saya sampaikan di awal musim damai itu dipraktekkan oleh Nurlis E Meuko, sosok yang sempat “mengelola” kebijakan redaksi, yang oleh sejumlah orang bisa dibaca sebagai pesanan politik. Setidaknya, kesan itu ada pada diri saya, yang juga pernah menemaninya dalam perjalanan jurnalistik media atjehpost.

Padahal, di awal tahun “perjalanan” visi jurnalistik media atjehpost sangat keren, ingin menjadi media yang jika pun pada waktunya harus berpihak, maka pemihakannya adalah pada gagasan, semangat, alias visi besar, dan bukan pada pribadi-pribadi.

Untuk sekedar contoh, pemihakan ada pada gagasan besar Hasan Tiro yaitu standar hidup Aceh yang mesti lebih baik dari standar hidup daerah lain (tiroisme) dan jika ada para pengikut (tiroist) tidak menghadirkan standar hidup yang lebih dari daerah lain, maka perlu diingatkan, dikritik, dan sebagainya, dan kritik itu tidak boleh untuk kepentingan meraih kekuasaan, melainkan untuk memperbaiki kekuasaan.

Misalnya, jika di daerah lain boleh menebang pohon sesuka hati, maka di Aceh tidak boleh. Jika di daerah lain boleh ada uang pelicin, maka di Aceh haram, dan contoh-contoh lainnya, baik yang sederhana maupun yang lebih rumit.

***
Entah karena Nurlis E Meuko terlalu sering minum kopi dengan Bang Man becak, sehingga ia makin kuat kembali pada kesadaran bahwa menulis itu memang tidak boleh didasari oleh pesanan kebencian pihak lain.

Persis seperti abang becak. Jika para abang becak menarik becak dengan kebencian maka ia hanya mungkin mendapatkan penumpang dari orang tertentu saja. Idealnya, semua abang becak harus bebas menarik becak dari semua ragam kebencian agar bisa menerima semua penumpang, dari semua golongan.

Tapi, kita bisa maklum, karena setiap orang punya keinginan untuk mengubah dunia. Semua kita pernah punya hasrat agar segera bisa membalik keadaan Aceh sesuai dengan keinginan kita, atau keinginan kelompok kita, dan wajar saja manakala kita ingin pemimpin yang kita yakini mampu bisa menjadi nakhoda bagi Aceh.

Tapi, sebagai penikmat kopi yang akrab dengan penyair sufi Jalaluddin Rumi, Nurlis E Meuko menemukan satu pelajaran bahwa mengubah dunia itu kuncinya adalah mengubah diri, dan menjadi pribadi yang lebih bijaksana adalah jalan terbaik menuju perubahan yang membahagiakan semua orang.

***

Dari kisah si abang becak, teman ngupi hari-harinya Nurlis E Meuko, tanpa menjadi pribadi yang diringankan jiwanya, maka perjalanan mengayuh becak adalah perjalanan penuh beban alias tidak merdeka.

Kuncinya adalah seperti apa yang pernah disampaikan oleh penulis buku terkenal “Happiness Inside” Gobind Vashdev bahwa “Manusia telah melupakan kapasitas kemampuannya untuk mencintai tanpa batas,” dan satu lagi “Tujuan manusia bukan untuk bersaing, tujuan kita adalah mengeluarkan yang terbaik dalam diri pada dunia yang sudah terlalu baik pada kita.”

Dan, ketika Nurlis E Meuko dengan penuh sadar lalu memilih jalan untuk meminta maaf kepada Abu Doto dan Ummi Niazah dan Abu dan Ummi juga berbesar hati memaafkan si penikmat kopi bersama Bang Man becak, maka sahabat saya itu sudah mencapai maqam yang oleh Gobind Vashdev disebut capaian: “Merendah sampai tak bisa direndahkan, Mengalah sampai tak bisa dikalahkan. Kini, sosok yang akrab dengan Toke Li di dunia kampus itupun bebas ngopi dengan semua orang, yang disebutnya saudara.

Saya juga, diam-diam salut dengan beberapa pemimpin Aceh yang memiliki kemampuan memaafkan. Dan itu, sampai saat ini baru terlihat pada Abu Doto dan istrinya, Irwandi Yusuf dan istrinya, juga ada pada Sulaiman Abda dan almarhumah istrinya. Pada mereka ini tidak ada lawan abadi, yang perlu didendami seumur masa. Kita doakan, semoga semua pemimpin kita juga punya kemampuan untuk terus memperbaiki diri agar mampu memperbaiki Aceh dan hanya dengan mewujudkan Aceh lebih baik saja menjadi cara terbaik pula meminta maaf kepada rakyat dan Aceh. Percayalah, Aceh tidak bisa diperbaiki dengan kebencian dan permusuhan. Mari kita ngopi bebas lagi. []

KOMENTAR FACEBOOK