Realisasi Rabithah Menuju Gerbang Mardhatillah (V)

Helmi Abu Bakar El-Langkawi

DALAM merealisasikan nilai rabithah itu mencakup segala aspek, bukan hanya dalam ibadah saja yang vertical bahkan realisasi terhadap orang tua dalam dimensi birul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua)pun, nilai rabithah menjadi sebuah nilai yang sangat sakral dalam hal ini. Salah satu kebahagian orang tua yang tidak bernilai adalah ketika mereka mendengar suara tangisan bayi lahir melihat dunia ini yang merupakan amanah dan titipan Allah kepada mereka. Orang tua akan merawat bayi tersebut dengan penuh kasih sayang dan tanpa pamrih. Mendidik dan Membesarkannya dengan penuh rasa cinta dan tulus ikhlas, bahkan rela berkorban agar anaknya dapat terus bertahan hidup dan bahagia walaupun orang tua kita tidak pernah mengungkapkan sepatah katapun ungkapan keluh kesah, mengeluh. Terkadang mereka mengayomi dan merawat kita dengan untaian air mata dan kepiluan yang mendalam, mereka simpam rapat-rapat dalam hatinya. Jangankan suara tidak boleh terdengar, “aroma” saja tidak boleh tercium. Memang seperti itulah perhatian orang tua kepada anaknya, terlebih khususnya sang “ummi”. Dikisah kan dari Abu Hurairah, ada seorang yang bertanya, “Ya, Rasulullah siapakah orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Nabi menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian kerabat yang dekat dan yang dekat.” (HR Muslim. no 6665).

Salah satu kewajiban anak yakni membalas kebaikan kedua orang tuanya dengan cara berbakti kepada mereka. Secara esensinya seorang anak tidak akan mampu membalas kebaikan kedua orang tuanya meskipun dia bersungguh-sungguh berbuat baik kepada mereka. Pernyataan tersebut dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadist:, “Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa kedua orang tuanya, kecuali ia dapati (orang tua) nya sebagai seorang hamba sahaya, lalu dia membelinya kemudian memerdekakannya.” (HR. Muslim: 20, kitab Al-‘Itqu, hal. 25-26) ). “Birrul Walidain” (berbakti kepada orang tua) merupakan amal shalih yang sangat mulia dan agung, bahkan terlebih utama dibandingkan jihad fisabilillah. Diceritakan dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam, Pekerjaan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, “Mendirikan shalat tepat pada waktunya.” ‘Kemudian apa?’ Tanyaku. Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rabitah kita kepada orang tua dengan mengingat kembali dengan hati nurani yang dalam pengorbanan, perjungan mereka sehingga kita hari ini kita bisa mencicipi dan merasakan berbagai kenikmatan dan karunia yang dibanugerahi oleh Allah didunia, baik sebagai presiden, gubernur, pengusaha, dosen, doctor, professor, ulama, guru dan berbagai titel sosial dan finansial lainnya yang telah kita raih merupakan karena jasa orangtua. Namun sangat kita sayangkan sebagian saudara kita yang masih melupakan jasa mereka, terkadang tidak sedikit yang menghardik dan melukai hatinya. Malah sebagaian saudara kita masih ada menitipkan orang tuanya yang telah lanjut usia di panti jompo, layakkah demikian? Seharusnya sebagai seorang anak berkewajiban mencoba untuk membalas jasanya sebagai mana dia dulunya di asuh oleh orang tua. Ketika rabitah itu telah pupus dan hilang dari lubuk hati sanubari, naluri untuk berbakti pun akan hilang ditelan oleh “ombak” dan “badai” hawa nafsu dan tipuan dunia. Sudahkah kita merealisikannya untuk menggapi kunci sa’adah ad-daraini (kebahagian dunia-akhirat) dengan berbakti kepada orang tua? Tentu saja jawabannya ada dalam hati individu masing-masing. Konkritnya hati itu pasti tidak akan mendustai pemiliknya.

Penulis disini hanya menyebutkan beberapa cara berbakti kepada orang tua, diantaranya: Pertama, mendoakan keduanya dan memohonkan ampun bagi mereka. Doa yang dipanjatkan kepada orang tua hendaknya bisa merabitah (membayangkan) berbagai perjuangan dan pengorbanan mereka untuk kita sebagai anak sehingga kekusyukan dan hadir hatipun akan terwujud. Namun fenomena yang sering terjadi dalam berdoa hanya lisan, tetapi hati hanya diam bahkan melayang entah kemana arahnya dan tidak ditadabbur makna serta terkoneksi dengan apa yang diucapkan. Berdoa tidak mesti dengan bahasa arab, boleh dengan bahasa apa saja. Allah menyebutkan dalam firman-Nya: “Dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu aku kecil.’” (QS. Al-Israa’: 24). Dalam ayat diatas Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa berdoa kepada kedua orang tua, dengan memohonkan rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala.

Kedua, Menyambung silaturrhmi. Termasuk cara berbakti kepada orang tua adalah dengan menyambung silaturrahni dan kekerabatan yang pernah ditempuh oleh orangtua selama keduanya masih hidup. Namun yang paling afdhal dengan menyambung kekerabatan dengan kawan atau saudara ayahnya. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya (salah satu) kebaikan yang paling baik (berkaitan dengan orang tua) adalah seorang anak menyambung hubungan (silaturahmi) dengan kawan dekat ayahnya.” (HR. Muslim). Ketiga, merendahkan diri dan jangan menyakiti hati mereka. Sikap ini merupakan sebagai wujud sikap tawadhu seorang anak terhadap kedua orang tuanya dan rasa kasih sayang seorang anak. Allah Ta’ala berfirman dalam hal ini yang berbunyi: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang.” (QS. Al-Isra [17]: 24). Masih banyak praktek dan usaha untuk mewujudkan konsep birrul walidaini yang tidak mungkin disebutkan disini. Ulama terdahulu mereka sangat hati-hati dan berusaha agar tidak sampai tersakiti perasaan kedua orang tuanya walaupun dengan suara yang keras sekalipun. Diantara cuplikan kisah teladan tersebut dinukilkan oleh Syekh Abdurrahman bin Ali dalam kitabnya “Shifatush Shafwah” disebutkan bahwa: “Pada masa kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, harga sebatang kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah (bin Zaid) mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pokok kurma berwarna putih, berlemak, berbentuk seperti punuk onta biasa dimakan bersama madu, pent.), lalu diberikan kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu, padahal engkau tahu bahwa pokok kurma ini harganya mencapai seribu dirham?” Beliau menjawab, “Ibuku menghendakinnya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya.”(Syekh Abdurrahman bin Ali Al-Bagdadi, Shifatush Shafwah: 1: 522].

Pada kesempatan lainnya dalam kitab Shifatush Shafwah disebutkan:”Apabila Muhammad (bin Sirin) menemui ibunya, dia tidak pernah berbicara kepadanya dengan suara keras, demi menghormati ibunya.” (Shifatush Shafwah: 3: 245). Perhatikan dan lihatlah bagaimana akhlak ulama terdahulu kepada kedua orang tua, dia tidak bersuara keras jika di depan orang tuanya. Sebagaiman Allah perintahkan kepada kita agar berkata-kata yang baik kepada orang tua. Allah Ta’ala berfirman “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada kedua orang tuamu perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23). Memohon selalu dalam setiap kesempatan supaya Allah senantiasa menjaga kita semua dan memudahkan kita agar dapat berbakti kepada orang tua. Jangan sia-siakan birrul walidain dan amalan kebaikan terlebih kedua orang tua kita masih diberi umur panjang oleh Allah, kalau tidak sekarang untuk berbakti kepada kedua orang tua, kapan juga?…bersambung!!!

KOMENTAR FACEBOOK