Abu Doto

Abu Doto adalah contoh “api kepemimpinan” yang tak padam.

Dalam usia beliau yang tidak muda lagi, Abu Doto masih tetap gagah melangkah, menuju medan pertempuran politik.

Hari ini, Abu Doto melalui 201.150 lembar KTP tidak bisa mundur lagi. Abu Doto didaulat untuk menyeru kemenangan kembali kepemimpinan di Aceh.

Minggu (31/7) lalu, bertempat di Hotel Atjeh, Abu Doto juga mendeklarasikan AZAN sebagai gerakan untuk memastikan kemenangan bagi semua.

Tiga Simbol
Abu Doto sepertinya sedang bermain simbol untuk Pilkada kali ini. Saat deklarasi di Hotel Atjeh, Abu Doto mengingatkan sosok Soekarno dan Daud Beureuh. Dan, pada saat yang sama juga menyinggung Hasan Tiro yang disebutnya tidak pernah mundur dari tujuan perjuangannya.

Memang, manusia berbicara tapi simbollah yang membuatnya jadi manusia. Pernyataan filosof ini sepertinya sedang dikomunikasikan Abu Doto untuk menjelaskan siapa dirinya di mata semua orang, dan mungkin ini cara Abu Doto menjawab kritikan dan saran agar dirinya memilih mundur dari politik Pilkada 2017.

Bagi Abu Doto yang memilih berjuang di usia masih muda bersama Hasan Tiro, akan terus melanjutkan perjuangan yang disebutnya untuk mensejahterakan rakyat Aceh.

“Kekuasaan bagi saya adalah kehormatan menjaga sebuah janji yang dipegang teguh hingga nafas terakhir. Dari sana seluruh kesungguhan dan perjuangan politik saya tempatkan,” ungkapnya.

Begitulah Abu Doto, dan melalui penyatuan tiga simbol, Soekarno, Daud Beureueh dan Hasan Tiro, Abu Doto seperti sedang memanggil (AZAN) semua orang untuk memasuki era persatuan sesungguhnya, di atas kesadaran keindonesiaan, yang Aceh ada di dalamnya.

Kita semua mestinya mencontoh Abu Doto, yang dalam usia muda tidak justru memilih jalan aman dan nyaman melainkan harus memilih jalan pergerakan untuk memastikan Aceh merdeka dari seluruh standar hidup yang membuat Aceh tidak aman, tidak sejahtera dan tidak bahagia.

Dan kini, Aceh kembali memasuki musim Pilkada. Para pejuang dari jalur independen sudah dipanggil oleh KIP Aceh untuk segera menyerahkan syarat pertarungan, dan Abu Doto telah melakukannya, juga beberapa lainnya.

Dan para kandidat dari jalur partai sudah ditentukan pula syarat memasuki medan kontestasi kepemimpinan. Beberapa sudah memiliki pasangan, dan lain juga bakal menyusul kemudian.

Sebagai rakyat, ditangan kitalah keputusan akhir, siapa yang bakal kita pilih untuk memimpin pergerakan pembebasan Aceh dari ketertinggalan. Semua bakal calon sudah ada, baik yang muda maupun yang lebih tua. Baik dari yang berlatar perjuangan, maupun dari yang berlatar birokrasi, baik yang berpendidikan apa adanya sampai yang berpendidikan tinggi.

Satu hal yang jangan kita padamkan, yaitu “api kepemimpinan”. Biarlah ia terus menyala, dengan harapan Aceh akan terang pada waktunya, dan kita upayakan agar api itu tidak menjadi malapetaka yang membakar kita semua. Caranya, menjadi pemilih yang memiliki spirit perjuangan menuju kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dipesankan Abu Doto dalam AZANnya.

Sungguh, Abu Doto sudah mengumandangkan AZAN, menyeru kepada kemenangan. Tapi siapa yang akan menang di Pilkada 2017? Mari kita melafaz “La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim” dan tunggulah keajaibannya. []