Al-Fudhail dan Umar

al-Fudhail Ibn Iyad al-Tamimi atau akrab dipanggil Fudhail bin Iyadh 
atau Abu Ali adalah sosok yang dikenal sebagai ulama yang ahli ibadah. Beliau hidup di masa Khalifah Harun al Rasyid dan sangat pantang menerima pemberian dari penguasa.

Meski Abu Ali ahli ibadah dari hasil taubat akan masa gelapnya dahulu, kisah Sa’ad bin Abi Waqqash yang dianjurkan Nabi agar membersihkan makanan agar doa dikabulkan Allah selalu menjadi pegangannya agar tidak menerima pemberian dari penguasa, kecuali apa yang diyakininya sebagai rezeki yang seluruh prosesnya halal.

Itulah sebabnya Abu Ali menolak pemberian 1000 dinar dari Khalifah, dan berkata: menolaknya dan berkata, “Subhanallah, aku hanya menunjukkan kamu jalan menuju keselamatan, mengapa kamu membalasku dengan cara seperti ini? Semoga Allah memberikan kesejahteraan dan taufik kepadamu.”

Itulah Fudhail bin Iyadh yang lebih dikenal sebagai ulama. Ada juga sosok Umar bin Abdul Aziz yang sangat terkenal sebagai umara.

Sisi kepemimpinan Umar sangat mengagumkan, tegas, adil, dan bijaksana, cepat dan tidak menunda-nunda. Tingkah laku dan ucapannya penuh kesantunan. Hana beda kata ureung Aceh.

Konflik internal yang nyaris membuat golongan Qaramita keluar dari barisan kaum muslimin langsung diselesaikan secara damai dan dialog.

Begitu adilnya, kepemimpinan Umar dirasakan juga oleh non muslim, tidak sekedar oleh Muslim. Tidak heran, hanya dalam waktu 2,5 tahun mampu mengangkat harkat dan martabat peradaban Islam setelah 60 tahun terjebak dalam KKN semasa Bani Umayah berkuasa.

Di masa Umar, dengan kebijakan politik yang berpihak ke rakyat, ragam golongan ideologi dalam Islam kehilangan argumen untuk menyerangnya. Saleh dan sederhana itulah kuncinya.

Alkisah, ketika seseorang menghadiahkan apel karena Umar sangat ingin memakannya, Umar dalam kapasitasnya berkata:  “Aku tidak menerima hadiah selama aku menjadi khalifah bagi kaum Muslimin.” 

Itulah Umar, sosok umara yang juga menjaga dirinya, sama seperti Abu Ali, yang lebih dikenal sebagai ulama, ahli ibadah.

Siapa yang telah mendidik Umar hingga menjadi pemimpin paling dikagumi hingga saat ini? Sosok itu adalah ulama yang dikenal sebagai Al Imam, Al Hafidz, Ats Tsiqoh, yaitu Shaleh bin Kaisan.

***

Di Aceh juga ada klasifikasi ulama dan umara, dan keduanya memiliki kedudukan penting dalam masyarakat. Ulama adalah pemimpin bagi semua golongan yang dari kepemimpinannya lahir pemimpin, sebagaimana Shaleh bin Kaisan telah melahirkan Umar sebagai pemimpin hebat.

Di Aceh, dayah sebagai rumah pendidikan telah berkembang, dan kini juga ada dayah entrepreneur. Barangkali, Umara hasil Pilkada 2017 bisa juga mendorong lahirnya Dayah Kepemimpinan yang santrinya berasal dari berbagai dayah dan dinilai memiliki bakat untuk menjadi pemimpin besar di Aceh.

Akhirnya, sebuah hadis yang berasal dari Fudhail bin Iyadh perlu menjadi panduan bagi semua, juga bagi ulama dan umara, yaitu: “jika kamu tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu.” []