Bang Lah

Tugas Abdullah Puteh di Aceh belum selesai. Barangkali itulah kenapa suami dari Marlinda Purnomo ini kembali mencalonkan diri sebagai calon gubernur di Pilkada 2017.

Abdullah Puteh menjadi Gubernur Aceh mulai November 2000 dan digantikan oleh Wakilnya, Azwar Abubakar pada 19 Juli 2004. Mestinya, mantan anggota DPR RI memimpin Aceh hingga 30 Desember 2005.

***

Dua hari paska Aceh diguncang gempa dan tsunami hape satelit saya berbunyi, dan nyaris tidak saya angkat. Maklum, menjaga “nyawa” hape satelit juga penting.

Namun, saya tersadar, betapa orang-orang diluar sana juga sangat “tersiksa” dengan ketiadaan informasi tentang Aceh, dan akhirnya saya angkat juga. “Halo, ini siapa?”

“Saya Abdullah Puteh, dan ingin tahu apa benar menara mesjid raya Baiturrahman patah?”

Saya tak tahu harus menjawab apa. Soalnya hari itu saya belum menuju ke daerah seputar mesjid kebanggaan Aceh. Saya masih berada di seputar Kuta Alam. Soalnya, dari bandara saya memilih turun di depan rumah sakit tentara di Kuta Alam. Maklum saya menumpang mobil tentara untuk menuju kota.

Tapi, saat itu saya menjawab saja polos, dengan ragam kalkulasi dasyatnya gempa dan tsunami: “iya pak, patah.” Dan, suara Abdullah Puteh yang kerap disapa Bang Lah, terasa bergetar dan lama-lama lemah seperti orang yang dilanda kesedihan yang sangat.

***

Itulah Bang Lah, yang ia tanyakan pertama sekali adalah Rumah Allah. Entah itu menjadi pertanda betapa yang ia alami telah menjadikannya sosok yang religius, saya hanya menduga.

Yang jelas, selama saya di Jakarta, ada yang aneh. Kami, sempat menyewa satu tempat untuk mengelola media, yang oleh orang lain itu disebut kepunyaan Bang Lah. “Patutlah, tidak rumit segala urusan,” bisik saya dalam hati, dan akhirnya kami memilih pindah.

Di Jakarta saya juga sempat sekali mengunjungi Bang Lah di “istana” pembinaan negara. Dan, Bang Lah sama sekali tidak kehilangan pesonanya sebagai pemimpin. Bagi sesama penghuni “istana” pembinaan, Bang Lah adalah sosok yang disegani, dihormati dan penolong.

***

Selebihnya saya hanya pernah berkomunikasi dengan istrinya Linda Purnomo. Sosok yang selalu ramah, ceria, dan selalu penuh cerita manakala sudah berbicara tentang Aceh, apalagi tentang lika liku konflik.

“Saya sih berani saja jalan-jalan ke mana-mana di Aceh. Mana mau orang GAM tembak saya hahaha,” kata Linda dahulu bercanda.

***

Abdullah Puteh memang pantas untuk kembali. Sama pantasnya dengan kandidat yang lainnya. Sebagai manusia, Abdullah Puteh sudah tampak kekurangannya dan itu sudah dijalaninya, meski tidak tertutup kemungkinan Abdullah Puteh membela diri secara sosial dan politik. Sebab, selalu saja ada kisah-kisah pahit terkait penerapan hukum di negeri ini.

Apalagi dalam Islam, tidak ada hukuman abadi. Bagi Islam, semua orang baik berpotensi menjadi tidak baik, dan sebaliknya, orang tidak baik juga berpotensi menjadi baik. Ada banyak kisah-kisah keteladanan dimana para pendosa akhirnya tobat dan ketaubatannya itu justru menjadi sinar surya bagi semua orang.

Sayangnya, Bang Lah tidak sedang berada di pemilihan melalui DPRA, seperti yang dahulu pernah dijalaninya dan menang 33 suara dari 54 suara total. Kini, Bang Lah mesti merebut sebanyak mungkin suara para pemilih, dan dengan modal 188.458 lembar fotokopi KTP yang dihantar menggunakan becak motor dan mobil pada Jumat (5/8/2016) Bang Lah dan pasangannya Sayed Mustafa Usab mesti berkerja lebih giat lagi untuk merebut dukungan pemilih.

***

Pasangan cagub Aceh lainnya tentu bek anggap enteng Bang Lah. Pada Oktober 2010, beliau mendapatkan rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas semangat juangnya untuk memperoleh gelar doktor meskipun berstatus terpidana. Dan Abdullah Puteh lulus dengan gelar Cumlaude dari Universitas Satyagama dengan IPK 3,78. Nyan ban!