Tu Sop dan H. Saifannur, Epicentrum Baru Kota Juang

Daerah ini sudah sumpek, membosankan dan nyaris tanpa inovasi. Uang semakin sulit dicari. Orang miskin kian terpuruk. Program pembangunan hanya lips service semata. Penguasa lalai dengan kekuasaan, rakyat terjebak dalam kutuk- mengutuk, karena nyaris tak punya kepastian masa depan.

Itulah fenomena yang akhir- akhir ini kian kerap terpampang dihadapan. Sumpah serapah kepada pemimpin yang belum bersikap adil, bila bisa maujud dalam bentuk benda, sungguh akan menenggelamkan kota yang dikenal karena perannya di masa pergerakan kemerdekaan RI.

Sebagai daerah yang selalu bangun jelang musim politik –lazimnya daerah lainnya di Aceh– suara kritis, keluhan, tangisan baru dimulai ketika momentum ini muncul. Kenapa? karena saat-saat seperti inilah, mereka yang telah malang melintang di dunia perpolitikan, kembali muncul dengan berbagai wajah manis nan sendu.

Mereka hadir dengan ragam kamuflase. Tiba-tiba alim. Tiba-tiba dermawan nan bijak dan bentuk-bentuk lain yang bertujuan untuk “menipu” daya ingat rakyat yang sekarat. Mungkin, mereka berpikir bahwa, dengan kemiskinan yang nyaris abadi, rakyat akan berlaku layaknya sapi yang temali hidungnya dipegang oleh agen di pasar Glumpang Payong tiap hari Sabtu, ketika pasar lembu dibuka.

Bireuen adalah kawasan yang dinamis. Walau belum sepenuhnya rakyat berani, namun simpul-simpul rakyat yang sadar mulai bangkit dan bergerak. Mereka mencoba memberi nilai terhadap mereka yang kembali menunjukkan batang hidung di depan rakyat, dengan mimik memelas dengan berbagai jargon yang menipu.

Adalah Tu Sop dan Haji Saifannur, yang kemudian muncul di baliho-baliho politik. Keduanya, dengan kendaraan politik yang berbeda, menawarkan aura baru bagi dunia politik di kota keripik yang produknya kerap kena fitnah itu.

Mereka muncul dari dua mata angin yang berbeda. Tu Sop di barat dan Saifannur di timur. Sinar mereka mulai menyelinap, ibarat mentari pagi yang menawarkan harapan baru bagi sebuah kehidupan.

Keduanya keluar dari zona nyaman. Ini tentu langkah berani dan penuh resiko. Tu Sop keluar dari dayah dan turun ke gelanggang. H. Saifannur juga demikian. Hidup sebagai kontraktor yang berlimpah materi, ia memilih terjun ke dunia politik yang serba tidak pasti.

Banyak tafsir yang muncul atas kehadiran keduanya. Berbagai isu ditimpa ke mereka. Namun rakyat punya penilaian sendiri. Dari berbagai suara yang terdengar, banyak yang sudah abadi dengan pilihan golput, kini mulai bergerak. Alasannya cukup mendasar. Tu Sop dan H. Saifannur adalah dua sosok yang punya nama besar serta memiliki rekam jejak yang cemerlang. Harapan akan hadirnya perubahan, kini disandingkan ke bahu mereka.

“Memilih percaya kepada muka-muka lama adalah kesalahan. Mereka sudah pernah hadir dengan berbagai jargon. Hasilnya apa? Tak satupun masalah yang selesai,” gugat Irawati, gadis desa di pedalaman Juli.

“Kami butuh pemimpin, bukan penguasa. Sosok itu ada pada Tu Sop. Sebagai tokoh panutan dan rekam jejaknya bagus, beliau layak untuk dipilih,” sebut Ihsan, pemuda asal Jeunib.

“Saya kira tembok dan jalan aspal pun mengenal H. Saifannur. Ia kontraktor yang sukses. Dia pun punya kemampuan yang mumpuni di bidang pembangunan,” kata Taufik, warga Peusangan.

Ragam kalimat positif, yang cuplikannya hanya tiga ditampilkan di tulisan ini, menjadi bukti bahwa kedua– terlepas mereka sadar atau tidak– telah menjadi epicentrum baru di Bireuen. Soal siapa yang kelak sukses menjadi top leader, itu soal hasil akhir. Penentuan final ada di tangan rakyat. []

KOMENTAR FACEBOOK