Abu Doto Dalam Aquarium

Zaini Abdullah adalah orang baik. Ia suka menolong dan peduli. Namun beberapa orang di lingkar pinggang yang ia percaya selama ini, telah mengkhalwatkan dirinya dari rakyat Aceh. Ia, di usianya yang semakin senja, telah berhasil “dikuasai” untuk kepentingan beberapa orang saja.

Doto Zaini, begitu ia akrab disapa oleh kolega seangkatan. Sahabat sekaligus pengikut Hasan Muhammad di Tiro itu merupakan dokter umum di sebuah rumah sakit di negeri pelarian. Kontribusinya terhadap cita-cita Aceh Merdeka yang digagas Hasan Tiro, tidak bisa dinafikan begitu saja. Ia salah satu orang lama di tubuh GAM yang masih hidup sampai sekarang.

Banyak yang berharap bila dirinya dan Muzakir Manaf mampu membawa Aceh ke tempat terhormat, minimal di Pulau Sumatera. Mereka punya modal. Dana otsus yang melimpah, keduanya diharapkan mampu mengubah Aceh menjadi makmur. Namun harapan manis itu tidak maujud. Seperti ayam mati di lumbung padi. Rakyat Aceh sekarat di tengah melimpahnya dana otonomi khusus.

Bagi pikiran awam, aneh bin ajaib bila Doto –dan Muzakir Manaf– gagal menjaga Aceh. Secara kepartaian keduanya memiliki perwakilan mayoritas di legislatif dan eksekutif. Namun sepertinya, keduanya gagal memanfaatkan jaringan besar itu.

Bagi yang tahu, pasti tidak akan begitu kaget. Selain tidak sejalan dengan wakilnya, ia juga “dipenjara” oleh satu dua orang di lingkar pinggangnnya. Bahkan, sejatinya orang itulah yang Gubernur Aceh, bukan Zaini. Karena si pulan itulah yang menentukan boleh atau tidak sebuah gagasan disampaikan ke Gubernur Aceh. Ia semacam man behind the scene. Pilkada tak ikut, tapi menikmati dengan nyaman posisi sebagai penentu.I a semacam dalang dalam sebuah pementasan wayang.

Banyak orang baik-baik yang kemudian terjengkang ke luar gelanggang. Bukan karena tidak sepakat dengan Abu Doto, tapi karena ditentukan oleh “siluman” yang selalu “memeluk” doto.

Ada yang menduga bahwa man behind the scene itu adalah Umi Niazah. Jelas dugaan itu salah besar. Ia wanita baik- baik yang tahu menempatkan diri. Lihat saja, walau Muzakir Manaf tidak lagi menaruh hormat kepada suaminya, ia tetap dengan tangan terbuka menerima second lady Aceh, Kak Na, istri Mualem. Bila ada yang menuduh bahwa Umi Niazah sebagai tukang balot Abu Doto, itu salah besar. Wanita yang bagus perangainya itu tidak tahu apa-apa.

“Nyaris semua ide dan saran terhalang palang pintu tak resmi. Doto Zaini, sejauh ini kurang mendapatkan asupan informasi yang benar. Ada palang pintu yang menghalangi. Abu dibuat seakan-akan tak tersentuh,semacam makhluk dalam mitologi. Seakan-akan Doto milik dia dan beberapa kolega yang sependapat dengannya. Dia tak peduli bahwa Doto adalah pemimpin Aceh,” ujar seorang sumber.

Diakui atau tidak, menjelang pemilukada, semakin banyak orang baik yang tak lagi bisa mengakses ke Doto. Mereka terpental ke luar gelanggang. Dengan dalih menetralisir Zaini dari anasir busuk, man behind the scene semakin liar bergerak, dengan memakai topeng kesantunan kalimat.

Tanpa sadar, Doto semakin banyak ditinggalkan oleh loyalisnya yang sejati. Ini sebuah ancaman. Zaini akan semakin jauh dari asupan informasi yang sebenarnya tentang Aceh. Akan semakin banyak “opium” yang masuk ke ruang kerja pribadi gubernur di pendopo. Mungkin Doto takkan pernah menyadari, karena ia pun–mungkin–menikmati “aroma madat” yang dihembuskan oleh mereka yang picik.

Sama halnya seperti tulisan ini, yang berpotensi takkan masuk ke ruang pribadi Doto, karena ketatnya pengawalan info yang boleh dan tidak boleh sampai ke meja yang bersangkutan.

Maka wajar saja, teriakan mereka yang teraniaya tidak pernah sampai ke hadapan yang berkuasa Baginda Abu Doto Zaini Abdullah. Konon lagi menjadi buah pikirannya untuk mencari solusi. Sungguh doto di tikungan zaman, sebuah era dimana pemimpin tertinggi dimasukkan dalam aquarium dan dikunci dalam lemari emas. Tak tersentuh dan tak tahu apa- apa.

Ekstrimnya lagi, saat ini yang berada di lingkar pinggang Doto, adalah mereka yang sejatinya pemegang belati yang sedang bersiap menikam Doto dari belakang. Mereka hanya sedang menunggu momen. Ah, kenapa Doto tak belajar ilmu politik sistem sel?. []

KOMENTAR FACEBOOK