7 Indikator Pemimpin Aceh Mengikut Perspektif Hasan Tiro

Almarhum Hasan Tiro> Soource: AP Photo.

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Siapa sosok yang layak untuk menjadi kepala daerah di Aceh? Mari kita cari jawabannya dari perspektif Hasan Tiro.

Menyambut Pilkada 2017 ini, hampir semua kandidat memiliki hubungan atau minimal memiliki dukungan dari mereka yang menjadikan Hasan Tiro sebagai teladan dalam hal kepemimpinan.

Tentu saja keteladanan yang baik itu manakala tidak sekedar bersandar kepada Hasan Tiro untuk memperoleh suara dari pemilih, melainkan juga menerapkannya dalam semangat memperbaiki Aceh menuju kesejahteraan rakyat Aceh.

Berikut 7 indikator utama pemimpin Aceh sebagaimana pernah dipraktekkan dalam kehidupan Hasan Tiro sendiri dalam usahanya mewujudkan Aceh yang lebih baik melalui jalan kemerdekaan Aceh. 7 indikator ini barangkali bisa dipakai pemilih untuk melakukan uji kelayakan dalam menentukan siapa yang layak menjadi kepala daerah di Aceh.

1. Pemimpin Aceh adalah dia mengutamakan Aceh ketimbang diri dan keluarganya

“Perhatian beliau terhadap Aceh lebih besar dibanding kepada keluarganya sendiri,” kata Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, Rabu (25/5/2016) saat ziarah ke Makam Wali Hasan Tiro.

2. Pemimpin Aceh harusnya sosok yang berjuang dengan dasar perjuangan keadilan

Dalam sambutan singkatnya seusai doa di Makam Wali Hasan Tiro, Muzakir Manaf menyampaikan bahwa,  Almarhum Teungku Hasan Bin Muhammad di Tiro telah banyak mencurahkan waktu dan pikirannya untuk memperjuangkan keadilan bagi rakyat Aceh semasa hidupnya.

3. Pemimpin Aceh harusnya sosok yang peduli sesama dan lingkungan

Diceritakan oleh Azhari, teman kecil Hasan Tiro bahwa jalan menuju desa tempat ia tinggal mengalami kerusakan dan berlubang, Hasan Tiro memobilisasi teman-temannya untuk menutup jalan yang berlubang tersebut dengan pasir dan kerikil agar tidak seorang pun yang terjatuh akibat jalan tersebut.

4. Pemimpin Aceh haruslah sosok yang cerdas, berani dan peduli pada hak Aceh

“Banyak masyarakat, terutama mahasiswa tidak tahu siapa Hasan Tiro. Padahal dari sisi akademis, dia adalah seorang intelektual dengan gelar akademik Ph.D yang diraihnya di Amerika Serikat,” kata Haekal, Ketua Institut Peradaban Aceh,
di Banda Aceh, Selasa (2/12/2015). “Hasan Ditiro juga cerdas. Dia menguasai tujuh bahasa asing, di antaranya Arab, Belanda, Perancis, Swedia dan Inggris. Spirit untuk maju dan berkembang ini yang harus dihidupkan kembali.”

Haekal juga menyebut Hasan Ditiro sebagai sosok yang akrab dengan dunia seni. Dia tercatat sebagai salah satu sutradara drama. Namun tak banyak orang yang mengenal langkah Hasan Ditiro selain dia sebagai seorang yang ingin memerdekakan Aceh dari Indonesia.

5. Pemimpin Aceh harusnya sosok yang mementingkan persatuan sebagai kunci kemakmuran

Amrizal J Prang menulis: Ada tiga substansi dapat dikutip dari pernyataan HT, yang lebih dikenal sebagai Wali Nanggroe, yaitu: Pertama, hidup dan kemakmuran Aceh tergantung tanah air Aceh; Kedua, untuk mencapai kemakmuran, perlu perencanaan yang baik, namun tergantung kepada pemimpin dalam mengelola pemerintahan, dan; Ketiga, yang paling penting adalah persatuan seluruh elemen rakyat Aceh.

6. Pemimpin Aceh harusnya sosok yang peduli lingkungan hidup

Peuseulamat uteun Aceh, sabab uteuen njan nakeuh salah saboh pusaka keuneubah endatu njang akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukeu.”

Amanah sangat penting itu dititipkan Tgk. Hasan Tiro kepada rakyat Aceh, saat menerima kedatangan mantan Panglima GAM Wilayah Linge, Fauzan Azima yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), di kediamannya, Stockholm, Swedia, 15 Juni 2009 lalu.

“Saat itu saya datang bersama Pak Mike Griffiths (salah seorang pengurus BPKEL). Sedangkan Wali didampingi oleh Meuntroe Zaini Abdullah, Ustadz Muzakir Abdul Hamid, dan Syarif Usman.” ungkap Fauzan kepada Tabangun Aceh, Senin (07/06/2010).

7. Pemimpin Aceh haruslah sosok yang bertanggungjawab, dunia dan akhirat

Yusra Habib Abdul Gani menulis: Tgk Hasan Tiro secara pribadi, dalam sepucuk surat yang dialamatkan kepada Tgk Muhammad Mahmud (abang Dr Zubir Mahmud/Menteri Sosial GAM), pada pertengahan 1992; yang dibacakan di depan beliau oleh Bakhtiar Abdullah, disaksikan oleh Musanna Abdul Wahab, Razali Abdul Hamid, Iklil Ilmy dan saya sendiri, menyebutkan: “Saya bertanggungjawab di hadapan Allah dunia akhirat, atas semua korban yang diakibatkan dari revolusi ini.” []