Menakar Mualem Dengan Perempuan dan Seksualitas

Muallem Bersama Istrinya

Sebagai bakal calon Gubernur Aceh termuda dalam pentas Pilkada 2017 kali ini, Muzakir Manaf selalu saja menarik dilirik dalam ragam perspektif. Salah satunya melalui kacamata perempuan dan seksualitas. Seakan, pria yang akrab disapa Muallem ini tiada habisnya untuk dibahas; mulai dari “brewokannya”, karakter, profil kharismanya, dan paling seksi adalah pilihannya dalam berpoligami.

Adalah Michel Foucault, filsuf postmodernisme yang juga pelopor aliran strukturalisme yang memandang bahwa suatu kekuasaan memiliki korelasi erat dengan perempuan dan seksualitas. Dalam narasinya, kekuasaan adalah salah satu dimensi dari relasi. Dimana relasi itu ada, maka disanalah kekuasaan tumbuh (The History of Sexuality: 1976). Dalam tulisan ini, “kedekatan” Muallem dengan perempuan dan santernya ia dikabarkan berpoligami menarik saya untuk menilik korelasi lebih jauh antara ia, kekuasaan, perempuan dan seksualitas.

Dalam kacamata saya, teori Foucault tentang adanya dimensi relasi antara seksualitas dan kekuasaan telah memberi penegasan bahwa perempuan dan seksualitas itu menjadi salah satu instrumen pengalihan pemahaman tentang kekuasaan. Jadi, bagaimana seksualitas diwacanakan maka menjadi ungkapan dari kekuasaan. Dimana ada seks, disitulah muncul kekuasaan, pun sebaliknnya.

Dua elemen itulah (seks dan kekuasaan) yang sangat menentukan untuk mencapai klimaks kekuasaan, sehingga dalam tataran tertentu hal ini menjadi masalah publik. Dengan menunjukkan hubungan antara seksualitas dan kekuasaan, Foucault menggaris-bawahi bahwa kekuasaan dan resistensinya terhadap kekuasaan itu ada di mana-mana.

Dalam tulisan “Lingkaran Perempuan Muzakir Manaf (Calon Gubernur Aceh 2017)” yang saya baca disalah satu laman internet terungkap beberapa perempuan yang menjadi istri Muallem, dan saya kira ini telah menjadi rahasia umum bagi publik di Aceh. Beberapa nama yang beredar dan muncul ke permukaan; Marlina Usman (istri yang tampil secara “resmi” mendampingi Mualem selama ia menjadi Wakil Gubernur Aceh), Salmawati (pernah tampil saat pemilukada tahun 2012), dan Kiki, perempuan yang akrab disapa Kiki Mualem dan berprofesi sebagai PNS di Banda Aceh (baranom..com). Tidak hanya itu. Ada beberapa nama lainnya selain tiga orang perempuan tadi yang menjadi istri Muzakir Manaf dan berdomisili di luar Aceh.

Deskripsi ini menawarkan kita pemahaman bahwa seksualitas tidaklah sebatas “isi” wacana, melainkan “bagaimana” pembentukan seksualitas itu bisa menjadi wacana. Tepatnya, bagaimana kekuasaan merambah dan menguasai kenikmatan seksualitas itu sendiri. Berpijak dari kenyataan ini, ragam publik di Aceh dapat merenungkan dan berspekulasi secara radikal bahwa seksualitas sangat erat kaitannya dengan terbentuknya kekuasaan. Frasa seksualitas disini harus dilihat dengan kacamata (meminjam Foucault) episteme, bukan tafsiran bias seperti tawaran liar yang berkembang dalam imaji nakal.

Oleh karena itu, jika ditakar dengan konteks seksualitas dan kekuasaan dari Foucault tersebut, maka keberhasilan Muallem dalam pesta demokrasi 2017 sebagai penguasa dirasa semakin dekat. Mualem memiliki intervensi kekuasaan dalam seksualitas terhadap perempuan-perempuannya untuk meraih kursi Aceh satu. Mualem bisa mengatur resistensi terhadap kekuasaan yang diinginkan.

Karena sejatinya, kekuasaan itu terbentuk dengan korelasi alamiah sebagaimana kekuasaan, perempuan dan seksualitas. Mungkin, bagi Muallem seperti kata salah satu teman saya; Bahwa lebih baik berbicara kepada wanita cantik dengan gagasan tertuju kepada Tuhan, dari pada berdoa kepada Tuhan dengan pikiran tertuju kepada wanita dan kekuasaan. Entahlah!

KOMENTAR FACEBOOK