Saya dan Kandidat di Pasar Pilkada Aceh 2017 (1)

Siapa lebih bagus, memiliki gubernur humoris agar lebih ringan melaksanakan tugas berat pembangunan, atau gubernur cerdas agar kita tidak kerap mentertawai kerja-kerja pembangunan yang memang berat?

***

Sebagai pemilih yang sedang berada di pasar Pilkada Aceh 2017, saya sedang terus melihat, mengenali, dan mencermati semua kandidat.

Saya suka dengan Zakaria Saman. Soalnya beliau sosok yang humoris. Asyik juga rasanya punya gubernur yang humoris. Hal-hal berat dalam membangun Aceh terasa ringan jika dipimpin sosok yang humoris.

Jadi teringat Gus Dur, dengan kemampuan humornya, perjalanan Indonesia melewati periode berat akibat masa lalu yang diwariskan oleh orde baru dapat lebih ringan dihadapi. Diplomasi-diplomasi humoris yang dimainkan oleh Gus Dur juga cukup membantu proses membangun kembali posisi Indonesia di mata internasional.

Meski humoris, bukan berarti kepemimpinan akan banyak gagalnya. Buktinya, Gus Dur mampu menurunkan jumlah utang luar negeri secara signifikan dalam waktu singkat, yakni hanya dengan waktu 1,9 tahun sebagai presiden.

Gus Dur yang humoris itu juga keren dalam merajut harmonisasi bangsa yang plural, dan yang lebih utama, mampu menjaga keyakinan umat Islam bahwa Islam adalah ruh bagi Pancasila. Bisa dibayangkan jika umat Islam memiliki pandangan menentang Pancasila, gawat.

Sosok Apa Karya yang tegas juga terbayang pada Presiden Filipina sekarang Rodrigo Duterte. Siapa tahu, jika Apa Karya menjadi Gubernur kasus narkoba yang kita mengancam Aceh akan “diselesaikan” dengan tegas oleh Apa Karya.

Saya simpan dulu keasyikan yang dimiliki Apa Karya. Pingin juga lihat dan kenali kandidat lain. Siapa tahu ada yang menarik juga.

Tarmizi Karim. Sosok ini cerdas, agamis dan kaya pengalaman di birokrasi. Sejenak saya jadi suka. Kebayang hambatan-hambatan birokrasi dalam proses pelayanan publik, dan jika ada Tarmizi Karim barangkali hambatan yang ada bisa teratasi.

Aceh, dengan kesempatan yang dimiliki saat ini, tentu butuh sosok yang cerdas untuk mengelola birokrasi pembangunan. Siapa yang tidak paham dunia birokrasi maka ia akan dikendalikan oleh birokrasi. Bahkan tidak jarang banyak kepala daerah yang berakhir masuk penjara karena tidak paham dunia birokrasi.

Sebagai sosok yang pernah menjadi penjabat Gubernur di Aceh dan provinsi lainnya, dan juga lama di kementerian, bahkan pernah menjadi Bupati Aceh Utara, modalitas kepemimpinan Tarmizi Karim sudah lengkap.

Sebagai orang yang sudah lama dekat dengan pusat, hambatan komunikasi Aceh – Jakarta barangkali bisa diatasi oleh Tarmizi Karim. Tapi memang, apakah dengan segenap kecerdasan dan pengalaman yang ada pada Tarmizi Karim, ia lebih tepat untuk mengelola pembangunan di Aceh?

Saya simpan dulu sosok yang memiliki akses dengan pemerintah pusat ini, dan juga sosok humoris Apa Karya yang kini berkat humor Mukidi, sangat mungkin kembali terangkat. siapa tahu ada hal menarik di kandidat lain. Bersambung…[]

KOMENTAR FACEBOOK