Apa Karya Maunya Apa?

Pesta demokrasi di Aceh sudah sangat mengebu-gebu. Baik itu para kandidat ataupun masyarakat Aceh. Pilkada yang berkisar 5 bulan lagi membuat seluruh para kandidat, para timses dan masyarakat deg-degan untuk tahu siapa yang menjadi pemenang dan siapa yang legowo menerima kekalahan dalam kompetisi pesta demokrasi di Aceh ini.

Salah satu kandidat Calon Gubernur Aceh 2017-2022 mendatang yaitu Apa Karya (Zakaria Saman) merupakan Cagub yang sangat homuris melihat kondisi kancah “persaingan” saat ini. Apa Karya melihat kondisi politik dengan penuh canda tawa tanpa harus menjadi seolah terpaksa terjun dalam kancah politik. Mantan Menteri Pertahanan GAM ini merupakan wujud representasi dari keinginan seluruh rakyat Aceh yang sudah sangat gerah dengan “kerasnya” politik di Aceh termasuk pada ranah yang hanya bermain di arena simbol. Cukuplah simbol yang sudah kita punya yaitu UUPA, Wali Nanggroe, Partai politik lokal. Hal tersebut sangat menujukkan kekhasan Aceh tanpa harus ada benderapun.

Jika dulu terjadi sekat antara Indonesia – Aceh, maka sekarang itu antara masyarakat dan pemimpin Aceh itu sendiri. Hadirnya Apa Karya dan “celotehnya” memang sangat kita nantikan untuk meleraikan ketegangan-ketegangan kondisi ekonomi, sosial, budaya politik dan lainnya di Aceh saat ini. Aceh memang sangat butuh hiburan. Kita jenuh dengan berbagai manipulasi dan tipudaya perpolitikan sehingga terjadi perpecahan diantara kita sendiri.

Apa Karya melihat dinamika ini sebagai wujud bahwa janganlah hanya bermain di arena simbol tetapi lebih pada peningkatan kesejahteraan Rakyat Aceh. Adapun statement Apa Karya yang sangat menarik pada Serambi Indonesia 11 Mei 2016 yaitu “Kesejahteraan Dulu, Baru Bendera” (Bagi lon, bendera kon hana galak, tapi ureung Aceh utamakan pruet dilee. Keupeu bendera meunyoe pruet ureung Aceh mantong deuk, kon tacok tatiek lam parek keudeh/Saya bukan tidak suka dengan bendera, tapi orang Aceh harus kita utamakan dulu masalah perut (kesejahteraan)-nya. Untuk apa bendera kalau orang Aceh masih lapar, ambil lempar ke parit saja).

Apa juga menjelaskan bahwa kondisi Aceh memang sangat spesial yaitu adanya Wali Nanggroe. Fungsi WN itu sendiri adalah menyatukan seluruh orang Aceh tanpa memihak kepada siapapun. Maka dalam kondisi politik saat ini WN harus netral supaya tidak memperkeruh kondisi politik Aceh. “Celoteh” APA pun sangat menarik di portalsatu.com yaitu “Jika Dukung Satu Pihak, Wali Nanggroe Jadi ‘Wali Songo” (Wali Nanggroe adalah milik rakyat Aceh, bukan milik salah satu golongan, apalagi milik partai. Ia berharap Wali Nanggroe bersikap netral, karena yang bakal maju dalam pilkada mendatang bukanlah hanya dari satu kubu).

Maunya Apa memang maunya seluruh rakyat Aceh. Persoalan mendasar adalah persoalan kesejahteraan yaitu peningkatan ekonomi, dan keadilan demi tercapainya kedamaian. Sangat menarik jika Apa Karya terpilih menjadi Gubernur Aceh 2017-2022. Apa akan melihat bahwa perjuangan rakyat Aceh bukannya hanya sebatas perjuangan untuk mendapat simbol tapi lebih kepada perjuangan untuk mensejahterakan rakyat Aceh.[]

KOMENTAR FACEBOOK