HPN Aceh Diantara Mazhab Darussalam dan Mazhab Halimon

Secara umum Hari Pendidikan Nasional Indonesia memang dirayakan pada hari kedua bulan Mei. Menariknya Aceh justru memiliki Hari Pendidikan sendiri yang diperingati pada bulan September.

September seperti memiliki makna tersendiri bagi dunia pendidikan Aceh sehingga salah satu hari di bulan ini didaulat sebagai hari Pendidikan Aceh. Peringatan Hari Pendidikan Aceh pada 2 September dilandasi dengan peresmian Darussalam sebagai pusat peradaban dan keilmuan di Aceh yang ditandai dengan didirikannya Universitas Jantong Hate Rakyat Aceh.

Pendirian pusat pendidikan di ibukota Aceh ini diresmikan oleh Sukarno pada tanggal 2 September 1959 yang diawali dengan peresmian satu fakultas yakni fakultas ekonomi Universitas Syiah Kuala di atas sebidang tanah yang luasnya kira-kira 200 Ha. Pusat pendidikan ini kemudian dinamakan dengan kota pelajar-mahasiswa darussalam (kopelma darussalam). Dalam perjalanannya, di tempat ini pemerintah mendirikan dua perguruan tinggi; Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry (kini UIN Ar-Raniry). Disamping itu juga didirikan sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah, bahkan juga taman kanak-kanak. (Hasjmy, 1985 : 540)

Pendirian kampus tersebut merupakan salah satu upaya pelaksanaan pembangunan terhadap apa yang kemudian dinamakan dengan Tri Karya Bakti sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat terhadap pelaksanaan Konsepsi Prinsipil Bijaksana dan Ikrar Lamteh yang mana itu adalah salah satu hasil negosiasi dan juga termasuk cita-cita di bidang pendidikan dari pemberontakan Darul Islam Aceh. Cindera mata tersebut diberikan pada tahun 1959 sebagai hadiah karena (sebagian) para pejuang Darul Islam telah bersedia untuk “turun gunung” dari perlawanan melawan pemerintah Soekarno. Tri Karya Bakti itu sendiri terdiri dari tiga bidang, yakni pemulihan keamanan, pembangunan dalam segala bidang dan pengembangan otonomi yang luas. Pendirian kampus ini sendiri termasuk dalam pelaksanaan butir yang kedua.

Selain Mazhab Darussalam dengan Universitas Jantong Hate-nya, pada September juga muncul Mazhab Halimon dengan University of Atjeh-nya yang didirikan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Universitas yang bertempat di rimba gunung halimon itu didirikan pada tanggal 20 September 1977 yang bertujuan untuk mendidik para as-sabiqin al-awwalin atau awak awai dari pemberontak Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF). Walaupun secara kasat mata fasilitasnya sangat kontras dengan universitas jantong hatee, University of Atjeh juga melahirkan alumni yang berkompeten, salah satunya adalah yang sedang menjabat sebagai gubernur Aceh saat ini. (Hasan, 2015:98)

Meskipun ia adalah sebuah kampus darurat di hutan rimba, University of Atjeh sebagaimana institusi pendidikan pada umumnya juga memiliki konsentrasi pendidikan yang berkualitas tentunya sesuai dengan kebutuhan ideologi dan konteksnya saat gerilya. Materi kuliah University of Atjeh juga terbilang cukup elit sebagai satu kampus darurat di tengah hutan rimba aceh. Ia meliputi international law, Islam dan politik antarbangsa, bentuk-bentuk pemerintahan, pendidikan kesehatan, United Nations, International Court of Justice, UNICEF, UNESCO, UNHCR, International Red Cross, Amnesty International dan lain-lain.

Momentum yang Tepat
Menjadikan 2 September sebagai hari pendidikan bagi Aceh adalah momentum yang tepat. Mengingat September merupakan masih berada dalam tahap awal mulainya tahun ajaran baru bagi segenap institusi pendidikan. Momen ini sekaligus bisa dijadikan ajang refleksi dan persiapan untuk kemajuan mutu pendidikan dan pembelajaran di Aceh agar tercapai tujuan menuntut ilmu yang melahirkan orang-orang yang beradab.

Satu PR penting bagi Aceh saat ini adalah melahirkan kader-kader diplomat yang handal. Karena kemampuan berbicara (afsahu lisanan) sangat penting untuk Aceh yang merupakan titik nadir kelemahannya sejak masa lampau. Jika mau menoleh kebelakang kekalahan Aceh pada dasarnya bukan dalam hal peperangan melainkan diplomasi. Kelemahan dalam mengemukakan pendapat pada suatu perundingan dan atau lainnya dapat menyebabkan kesalahan yang fatal.

Memang cukup memprihatinkan ketika mengetahui bahwa pendidikan di Aceh saat ini yang notabenenya memiliki dana APBA yang melimpah justru anjlok berada pada peringkat ke 32 di tingkat nasional. Harapannya Aceh ke depan mampu menghasilkan tokoh-tokoh intelektual yang mampu membangun Aceh ke arah yang lebih baik beserta diplomat-diplomat ulung layaknya Harun a.s di mata Musa a.s.

Semoga apa yang diharapkan Sukarno 57 tahun lalu yang kini masih terpahat di Tugu Darussalam masih menjadi semangat pembangunan pendidikan Aceh masa kini
Tekad bulat melahirkan perbuatan nyata
Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita.

Wallahu a’lamu bi al-shawab