Orbituary, Rektor Ulama! (September Kelabu, UIN Ar Raniry Berkabung)

Oleh: Sayed Fuadi Al Ba’bud & Muhammad Reza Fahlevi Al Bernuny

Bulan September adalah bulan kemalangan bagi Kampus UIN Raniry secara spesifik, dan rakyat Aceh secara holistik.

Catatan sejarah yang tertulis di Al-manak, di bulan ini, tepatnya tanggal 16 September 2000, ulama serta tokoh Pemersatu Aceh, yang pada saat itu juga menjabat sebagai Rektor IAIN Ar Raniry, syahid ditembusi 3 bulir timah panas, di dadanya.

Ya, pada saat itu pembunuh melakukan cover sebagai mahasiswa yang hendak menandatangani skripsi. Aceh pun berkabung, langit ikut mendung, dunia pendidikan Aceh berduka.

Ini tak terlepas dari akibat treginas konflik Aceh, satu mutiara harus hancur tak tersisa, kecuali diktat dikampus, serta buku yang ditulis Allayarham Prof DR H Safwan Idris MA.

Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang akademisi namun juga sebagai ulama pemersatu ummat, seketika meninggal beliau masih menjabat sebagai ketua MUI Aceh (Red ; sekarang MPU).

Kini hingga waktu berumur 16 tahun, Kami tidak pernah tahu apa dosa rektor kami, sehingga nyawa beliau harus dirampas secara paksa, oleh pelaku secara biadab. Tanpa menghiraukan sisi kemanusiaan. Dari sekian pelaku yang tertangkap. Sosok intelektual pemberi perintah atau dalam bahasa lain Otak Dalam Pembunuhan belum pernah terungkap, hal ini bukan saja menimbulkan tanda tanya hingga lembaran sejarah Aceh tercatat halaman demi halaman hingga dunia ini berakhir.

Pihak kepolisianpun tidak mampu mengurai benang kusut, siapakah aktor intelektual pembunuhan sadis itu. Cerita dari mulut ke mulut adalah beliau dianggap saingan karena pada saat itu Aceh krisis tokoh yang akan di ajukan ke DPRD untuk dipilih sebagai Gubernur, ada juga yang mengatakan terkait fee proyek pembangunan kampus, namun yang pasti adalah Negara Gagal memberi keamanan kepada warganya, hukum sebagai panglima pun belum mampu menjawab siapa dan untuk apa beliau dibunuh, kami sebagai generasi UIN selanjutnya, hanya bisa meratapi, dengan sesak di dada menyayat hati, sambil terus berzikir dan mendoakan beliau husnul khatimah.

Risalah singkat ini, di tulis adalah bukan untuk mengungkit luka lama, tapi sebagai ikhtibar dalam berinteraksi sosial untuk setiap individu, tidak selamanya dan semuanya orang menyukai kita, dan tokoh kita. Dengan ini kami ingin mengenang, karena jasa almarhum tidak mampu kami balas hingga saat ini. Semoga Allah memberi tempat yang pantas untuk beliau. Insya allah beliau ahli syurga jannatun naim.

Semoga dengan tulisan singkat sebagai alarm pengingat untuk kami generasi kesekian dari kampus biru yang memakai nama tokoh kontrovesir Nuruddin Ar Raniry.

Setidaknya mahasiswa UIN Ar Raniry kedepan tahu peristiwa tragis ekses konflik Aceh pernah terjadi menimpa pada kampus kita. Biaya perang itu mahal. Mengutip Pesan Prof Dr Yusny Saby MA “Perang hanya diciptakan untuk membuat Kartel – kartel menjadi hartawan dengan bisnis senjatanya” disisi lain Kalau kata Idrus Bin Harun, tulisan ini ditulis untuk membangun kesadaran kolektif dalam dua kata yaitu “Menolak Jawai.”

Wass
Darussalam.
Sabtu 03 September 2016

IMG-20160903-WA0054

*Penulis adalah Demisioner, pemangku jabatan Presiden dan Sekretaris Jendral Badan Eksekutif Mahasiswa UIN Ar Raniry Periode 2015-2016.

KOMENTAR FACEBOOK