Ada Cabang Mudi Mesra di Tanah Eropa

ACEHTREND.CO, Copenhangen- Teungku Abdul Razaq Ridhwan, Pembina Majelis Zikir Kota Langsa, beberapa waktu lalu berkunjung ke beberapa negara di benua Eropa, memenuhi undangan warga Aceh di sana. Ia mengaku bangga dengan diaspora Aceh di benua biru.

Dalam kesaksiannya yang dikirimkan ke redaksi aceHTrend, Rabu (7/9/2016) Teungku Abdul Razaq Ridhwan mengatakan, terharu dan bahagia ketika berada di Eropa dalam kegiatan safari Dakwah bersama MAZKA (Majelis Zikir Kota Langsa) beberapa waktu yang lalu, ialah ketika ia melihat keadaan warga Aceh di Eropa. Mereka masih tetap mempertahankan kultur dan budaya Aceh di negara Eropa seperti di Denmark, Norwegia, dan Swedia. Warga Aceh selalu tampil memamerkan budaya Aceh kepada warga Eropa pada hari-hari tertentu.

“Bahasa Aceh mereka juga masih sangat kental, bahkan anak-anak mereka selalu berbicara bahasa Aceh ketika berada di dalam rumah bersama keluarga mereka. Sedangkan di luar mereka berbicara bahasa Inggris dan bahasa negara mereka.
Walaupun mereka hidup di tengah kota dan di Negara Eropa tapi mereka masih lancar dan fasih berbicara bahasa Aceh, Bahkan yang lucunya banyak anak-anak Aceh yang sudah menjadi Warga di Eropa susah memahami bahasa Indonesia, karena sudah terbiasa dengan bahasa Aceh dan bahasa negara mereka,” katanya.

Ia juga menyebutkan, silaturahmi warga Aceh di Eropa pun sangat kuat, walaupun beda pandangan politik tapi tidak memisahkan tali persaudaraan. Saling menghormati dan selalu menghadiri undangan serta berbagi pendapat itulah yang mereka terapkan di Negara Eropa.

Berbicara soal agama warga Aceh di Eropa membuat dirinya kagum dan sangat terharu.

“Selama saya berada di sana saya tidak pernah melihat warga Aceh yang tidak memakai jilbab, mereka semua menggunakan jilbabnya walau dalam kedaan sedang kerja sekalipun, bahkan banyak wanita Aceh di Eropa memilih meninggalkan pekerjaannya daripada harus meninggalkan Jibab dan Agamanya. Anak-anak mereka pun banyak yang memakai jilbab di sekolah mereka masing-masing, dan hal itu tidak membuat mereka minder dan malu, bahkan mereka bangga dengan jibab dan agamanya. Subhanallah,ini membuat saya sangat terharu,” terangnya.

Hal lainnya, walaupun dalam kesibukan tapi mereka tetap mempelajari Ilmu agama pada hari Sabtu dan Minggu, seperti di Denmark yang sudah memiliki Meunasah Aceh, dan di Norwegia yang sudah memiliki tempat pengajian yang di beri nama ANA (Achehnese Norway Al Aziziah) yang mana tempat pengajian tersebut merupakan cabang dari Dayah Mudi MESRA Al Aziziah Samalanga. Tempat Pengajian tersebut dipimpin oleh Tgk Abdul Qadir, beliau merupakan alumni dari Dayah MUDI MESRA Samalanga.

Rasa cinta warga Aceh di Eropa terhadap agama terlihat dari keseriusan mereka dalam mencari ilmu pengetahuan agama. Pada setiap hari Sabtu dan Minggu mereka berbondong-bondong membawa keluarga ke Meunasah Aceh bagi warga Aceh yang ada di Denamrk dan mesjid turki yang di gunakan oleh warga Aceh di Norwegia untuk melakukan aktivitas pengajian. Bagi anak-anak Aceh di Norwegia selain ilmu agama mereka juga di memiliki kelas khusus Bahasa Inggris dan Bahasa Aceh, sungguh luar biasa.

“Semangat anak-anak Aceh di Eropa terhadap Ilmu Agama bisa kita lihat dari kesengguhan mereka, mereka yang sudah tamat dari Sekolah menengah ke atas ada beberapa orang yang melanjutkan pendidikan Agama di Aceh, tepatnya di Pondok pasantren MUDI MESRA Samalanga. Mereka yang sudah menjadi warga negara Norwe memilih melanjutkan Pendidikan agama ke Dayah Salafiah yang ada di Aceh. Dan MUDI MESRA salah satu Dayah di Aceh yang banyak mondok warga asing,”

Ia merincikan, Di antaranya dari Norwegia ada tiga orang yang merupakan anak dari Tgk Abdul Qadir, dari Denamrk ada satu rang anak dari Tgk Usman dan dari Swedia ada satu orang anak dari Tgk. H. Bakhtiar Abdullah. Dan ini baru tahap pertama, insya Allah tahun depan akan bertambah lagi anak-anak Eropa yang melanjutkan pendidikan ke Dayah-dayah di Aceh.

“Coba kita bayangkan, untuk melangkah kakinya ke Aceh harus mengurus Visa karena mereka sudah berpasport asing, dan ongkos perjalanan mereka rata-rata per orang memakan biaya 20 juta rupiah. Kalau kita pasti sudah mengurungkan niat untuk menimba ilmu agama ke Aceh ketika tahu biaya dan proses pengurusan belajar memiliki lika liku dan butuh perjuangan yang extra, tapi hal itu tidak dimiliki oleh anak-anak Aceh Eropa yang ingin menuntut ilmu agama ke Aceh. Malah hal itu menjadikan mereka semakin semangat dalam belajar dan besungguh-sungguh dalam menentut ilmu agama, ketika melihat perjuangan dan usaha orang tua mereka dalam mengurus kembali ke Aceh untuk meraih cita-cita anak-anak yang sangat mulia,” katanya.

Ia juga bercerita kisah seorang warga Aceh yang baru-baru ini menyantrikan anaknya ke Aceh. Sang ayah harus mengeluarkan dana yang besar, selain tiket bersama anaknya dan Visa belajar, ia juga harus bolak balik dari Aceh ke Singapura untuk mengerus visa anaknya.

“Ketika itu saya berjumpa dengan beliau di Malaysia saya bertanya “ Puna heuk Bang? Dia menjawab “Karena semangat aneuk gadeuh heuk lon tengku” (karena semangat anak maka hilang rasa capek saya) Subhanallah, saya sangat terharu mendengarnya. Kita doakan semoga Allah memberikan rezeki kepada keluarga mereka,” kisahnya.

Ia berharap kisah ini bisa membangkitkan semangat para orang tua dan anak-anak kita di Aceh Khususnya untuk lebih mementingkan ilmu agama dalam kehidupan yang fana ini. Apalagi di Aceh masih sangat banyak dayah-dayah dan tidak perlu menghabiskan dana puluhan juta untuk sampai ke tempat yang mulia tersebut.

KOMENTAR FACEBOOK