Group Musik Made in Made, Diabaikan Di Negeri Sendiri, Dipeduli Negara Lain

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Group Musik Made in Made akan meriahkan International Reggae Musik Festival yang pertama sekali diadakan di  Malaysia pada tanggal 9 s/d 10 September 2016.

Mereka akan berangkat Jum’at (9/9/2016, dan tampil pada tanggal 10 September 2016 dengan menyanyikan Lagu Berbahasa Aceh yaitu  Instrument Opening/ Ranup lampuan, lagu  Saleum Peumulia Jamee, Tanoh Lon Sayang, Bungong Jeumpa,Tarek Pukat Jame, Prang Sabi dan lain lain.

Personel yang berangkat adalah
Ramadhan Moeslem Ar Rasulli-  lead vokal/rapa’i, Melon – perkusi (jimbe, rapa’i, seurune kale/Vocal), Teuku Dedenio – guitar/vocal, Fadlul Sunni – lead guitar/vocal, Safrullah – bass guitar/vocal dan Muhammad Ridha – perkusi, geundrang, rapa’I/vocal

Nama Made In Made (Melayu, Aceh and Reggae) memang tidak asing lagi di belantika Musik Aceh bahkan di luar Aceh. Tahun 1999 Ramadhan yang akrab di sapa Made ini awalnya bergabung disebuah komunitas Seni Punk, Plastic Exs/band (Hardcore Punk) lalu mendirikan group musik beraliran Rock ‘n’ Roll, juga Rock, Blues, Pop jazz, kemudian setelah Tsunami ia mulai membentuk band bergenre Melayu  Reggae  sebagai pilihan terakhir di tahun 2007, dan Melayu, Aceh and Reggae pun akhirnya dideklarasikan pada tanggal 6 Juli 2008 .

Untuk soal manggung di event International, ini bukanlah yang pertama. Made In Made pernah tampil di berbagai acara seperti
1. Indonesia Reggae Festival Mei  2011 yang dimeriahkan oleh  band 60 band reggae (Aceh hingga Papua) dan juga band reggae dunia Big Mountain yang berasal dari America  dan Iwan Fals sebagai Undangan.
2. Bokor River  International Reggae oktober 2015
3.International Reggae di Thailand 2013 (yang di meriahkan oleh Band Dunia dari berbagai Negara)
4. Rain Forest Reggae Musik Festival  Desember 2014 di Kuala Lumpur
6.Aceh Rapa’i International  Festival 2016  di Banda Aceh bersama Moritza Thaher
7. Dan juga event-event International lainnya yang terlewatkan/batal diikuti dengan berbagai macam hal.

Made In Made berharap agar pemerintah bisa merespon apa yang sudah dilakukan oleh pekerja seni lokal khususnya Aceh.

Menurutnya, pekerja seni di Aceh bekerja dengan tulus dan ikhlas untuk mengharumkan nama Aceh keluar Aceh, memperkenalkan musik tradisional Aceh, dan sebagai pelakunya juga adalah anak-anak Aceh.

“Selama ini saya sebagai penanggung jawab segala sesuatunya bagi kawan-kawan/personil Made In Made, kecewa jelas ada, karena selama ini para pekerja seni lokal di Aceh khususnya yang benar-benar menjalani profesi ini sangat kurang mendapat support untuk berkreatifas di negeri sendiri, sedangkan di luar sana kita adalah prioritas,” katanya.

Mereka menyadari bahwa mereka adalah para pekerja seni yang sadar akan hal berkesenian dan mereka bertekad akan terus berkesenian dan mengharumkan nama Aceh di luar Aceh.

“Hanya itu yang kami bisa lakukan walaupun tanpa dukungan pemerintah, padahal kami telah menjadi bagian dari program berkesenian di Aceh, juga telah terdaftar (Organisasi/Komunitas/Sanggar MADE IN MADE) dan memiliki legalitas berkesenian yang sah dan resmi melalui Disbudpar Aceh khususnya Disbudpar Kota Banda Aceh  sejak tahun 2010,” tambahnya lagi.

Mereka juga menyorot soal anggaran untuk berkesenian yang masih mengabaikan padahal setiap tahun anggaran seni budaya itu berlimpah ruah.

“Kita sangat memiliki hak itu,  semoga saja untuk kedepannya tidak terjadi lagi hal seperti ini untuk generasi yang akan datang dan secara pribadi saya sangat ingin juga memotivasi kawan-kawan lainnya, karena kita ini keren diluaran sana, jayalah ureung seni yang na di nanggroe Aceh,” kata Ramadhan.

Ramadhan juga berkata jika di tanah kelahiran sendiri tidak pernah dilibatkan dalam event-event yang bersifat International, tapi di negara luar mereka selalu ingin untuk dilibatkan dalam event yang bertaraf international.

Made in Made selalu terlibat dievent seni budaya, charity, sosial, bencana alam/ lingkungan, perdamaian di Aceh, Sumatera, Indonesia dan international sejak 2008 hingga 2016. []