Fiqh Qurban (7): Hukum Berqurban untuk yang Sudah Meninggal Dunia

Banyak fenomena dan problema dalam masyarakat yang terkait dengan qurban. Namun alangkah indah dan bersahajanya fenomena dan problema itu ditanggapi dengan ilmu dan arif bijaksana, sehingga tidak menimbulkan efek dan gesekan sosial dalam bertaqarrub kepada Allah SWT.

Di antara yang sering terjadi di mana seorang yang berqurban atas nama orang lain. Hal ini secara jelas syara tidak memperkenankan tanpa seizinnya seperti yang disebutkan oleh Imam Nawawi dalam karyanya Minhaj At-Thalibin : Tidak sah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seijinnya. (Imam Nawawi, Minhaj At-Thalibin, hal. 321).

Imam Nawawi juga mengemukakan pendapat yang sama dalam kitab Majmu Syarah Muhazzab: Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. (Imam Nawawi, Majmu Syarh al-Muhadzdzab, Bairut-Dar al-Fikr:VIII: 406). Pernyataaan yang sama juga disebutkan dalam kitab Minhajul Qawim: Tidak diperkenankan seseorang berkorban atas nama orang hidup tanpa seizinnya dan juga atas nama mayit yang tidak mewasiatkannya. (Minhajul Qawim:1:630). Syekh Ibnu Hajar juga menyebutkan boleh berkorban terhadap orang yang masih hidup tanpa izinnya. (Syekh Ibnu Hajar, Tuhfah Al-Muhtaj :9:426)

Qurban untuk orang Meninggal
Persoalan ini berbeda dengan berqurban atas nama orang yang sudah meninggal baik itu orang tua atau lainnya sewaktu hidupnya belum pernah berqurban. Imam Nawawi membahas problema ini dalam kitab Minhaj ath-Thalibin dengan tegas menyatakan tidak ada kurban untuk orang yang telah meniggal dunia kecuali semasa hidupnya pernah berwasiat dengan ungkapan beliau :tidak sah berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia apabila dia tidak berwasiat untuk dikurbani (Imam Nawawi, Minhaj ath-Thalibin, Bairut-Dar al-Fikrh. 321).

Syekh Khatib Syarbini juga sependapat dengan Imam Nawawi yang dinukilkan dalam kitab Mughni Muhtaj : Tidak sah berkorban atas nama mayit yang tidak mewasiatkannya, karena firman Allah swt (artinya) :Dan sesungguhnya bagi manusia hanyalah apa yang dia usahakan. Jadi jika dia mewasiatkannya maka boleh sampai ungkapan Dikatakan : sah berkorban atas nama mayit walaupun dia tidak mewasiatkannya, karena berkurban merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat. (Mughni Muhtaj:4:292-293).

Namun ada argumen lain yang menyebutkan boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia sebagaimana dikemukakan oleh Abu al-Hasan al-Abbadi. Alasan beliau bahwa berkurban termasuk sedekah, sedangkan bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia adalah sah dan bisa memberikan kebaikan kepadanya, serta pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana yang telah disepakati oleh mayoritas para ulama.

Argumentasi ini disebutkan dalam kitab al-Majmuk Syarah Muhazzab:‘Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama (Imam Nawawi, al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab; 8: 406,).

Dalam persfektif mazhab Imam Syafii, pendapat yang kuat (sahih) adalah yang pertama yakni tidak boleh dan tidak sah berqurban terhadap orang yang telah meningal tanpa wasiat. Argument ini juga dianut mayoritas ulama dari kalangan madzhab syafii. Kendati pandangan yang kedua tidak menjadi pijakan mayoritas ulama madzhab syafii, namun pandangan kedua didukung oleh madzhab Hambali Hanafi, dan Maliki,. Hal ini sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah yang berbunyi: Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk dikurbani kemudian ahli waris atau orang lain mengurbani orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri maka madzhab Hanafii, Maliki, dan Hambali memperbolehkannya. Hanya saja menurut madzhab Maliki boleh tetapi makruh.

Alasan mereka adalah karena kematian tidak bisa menghalangi orang yang meninggal dunia untuk ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji (Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah: 5: 106-107).

Salah satu solusi terhadap problema semacam ini dengan metode seperti yang direalisasikan oleh baginda Rasulullah SAW sendiri dengan mengirim pahala kurban saja terhadap orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat, bahkan kepada siapa saja boleh dikirim pahalanya baik orang tua, kerabat, teman serta terhadap seluruh kaum muslimin lainnya. Hal ini telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW saat menyembelih Qurban beliau berdoa: “Bismillah. Allahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad wa min ummati Muhammad”. (Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah Qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad)”. (HR Muslim).