Mie Caluk dan Ziarah Makam

Kak Limah adalah tetangga saya. Ia adalah time keeper yang selalu ada di dekat kuburan. Bukan sebagai juru kunci makam. Tapi sebagai penjual mie caluk dan lontong tiap lebaran tiba. Bila tidak salah, ia sudah belasan rahun bersetia basa di TPU Teupin Mane. Menyajikan menu sederhana untuk tiap peziarah yang singgah.

Baru dua kali lebaran saya mengajak istri tercinta, Mutia Dewi, untuk singgah di sana. Karena ayahanda baru setahun ini pula dimakamkan di sana. Setiap singgah, saya selalu memesan mie caluk yang digelar di dalam sebuah rak terbuka. Harganya murah meriah, dan terjangkau sampai kalangan cit murit alias anak-anak kecil.

Kak Limah adalah legend. Minimal bagi saya. Ia–semenjak saya kanak-kanak– sudah berjualan mie caluk dan lontong kuah. Tempat jualannya berpindah-pindah hingga akhirnya “menetap” di dekat kuburan. Mungkin hasil analisa ekonominya, lapak di dekat “museum” kematian itu cukup menjanjikan bagi dirinya. Tanpa saingan dan konsumennya jelas. Ah, Kak Limah memang pintar.

Bagi saya, Kak Limah adalah pertautan masa lalu. Saya punya kenangan tersendiri pada perempuan egaliter itu. Pernah suatu ketika, saat ekonomi keluarga kami morat-marit, ia “memperkerjakan” saya dan adik saya. Kami bekerja mengiris keripik pisang dan ubi yang ia goreng dua hari sekali. Ia bukan orang kaya, bahkan usaha keripiknya untuk konsumsi warung Teupin Mane saja. Memperkerjakan kami, sejatinya ia sedang tidak melalui analisa ekonomi yang tepat. Tapi itulah kelebihan perempuan legend itu.

Kami baru diperbolehkan pulang ketika usai makan serta dibekali satu kantong plastik keripik dan sedikit jajan. Ah, betapa mulia perempuan itu.

Ia adalah guru bagi saya. Dalam kesempitan, ia telah mengajarkan tentang makna memberi. Memang, kemurahan hati tidak mengenal kelas. Ia telah menanam satu hal di hati saya bahwa memberi dengan ikhlas tidak akan pernah mengurangi apapun.

Hari-hari di dekat makam, dengan berjualan mie caluk murah, Kak Limah terus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Di hari-hari lain, ia tetap membuat kue untuk dijual ke berbagai warung kopi. Ia memang tak pernah kaya, tapi tak seharipun saya menemukan ia mengeluh hidup miskin.

Kini, setelah belasan tahun, kami kembali “dipertemukan”. Setiap ziarah, ia selalu ada dengan mie caluknya. Sayapun–walau masih kenyang– tetap membeli apa yang ia jual. Ah, semoga Allah memudahkan rezeki perempuan mulia itu. Semoga pula umurnya dipanjangkan, agar saya selalu bisa menikmati sepiring mie caluk murah yang kaya kenangan. []

KOMENTAR FACEBOOK