Ikhlas

Ketika yakin bahwa permintaan untuk menyembelih Ismail kecil–kelak menjadi Nabi– Nabi Ibrahim segera menindaklanjuti perintah Allah. Hatinya mantap untuk menunaikan perintah yang mungkin bagi manusia biasa, perintah Allah untuk “memotong leher” Ismail adalah sesuatu yang gila.

Ketaqwaan Ibrahim dan keihlasan Ismail dalam rangka menunaikan perintah Allah kemudian berbalas indah. Allah melalui malaikatnya telah mengirim seekor domba sebagai pengganti Ismail. Ayah dan anak pun berbahagia.

Ibrahim adalah pemimpin umat. Ia diutus untuk mendakwahkan ketauhidan di masa Namruz berkuasa di Mesir. Sebagai pembawa risalah ketuhanan, ia banyak mengalami penderitaan. Dibakar hidup-hidup dalam kobaran api yang maha dahsyat, serta derita lainnya. Puncak ujian tentu ketika Allah memerintahkan suami Hajar itu untuk mengurbankan sang permata hati yaitu Ismail.

Baginda Nabi Muhammad Saw, sebagai penutup segala ambiya, dalam mendakwahkan Islam sebagai agama yang hak, pun merasakan derita yang luar biasa. Dihina, dicaci, difitnah, hendak dibunuh dan lain sebagainya. Sebagai seorang pemimpin ia tetap kokoh dengan tujuan yang ingin dicapai. Ia tidak pernah bergeming atas semua ujian.

Bukankah orang-orang hebat selalu lahir dari proses yang sangat panjang? Para rasul Allah telah semuanya melalui proses panjang itu.

Lalu apa kunci para rasul sehingga mampu bertahan dalam mendakwahkan tauhid? Kuncinya adalah ilmu yang benar, jujur, ikhlas dan sabar.

Dalam konteks hari ini, Aceh membutuhkan petarung yang ikhlas, cerdas, jujur dan sabar untuk membangun. Aceh butuh pemimpin yang siap zuhud dan pekerja keras untuk mengejar ketertinggalan.

Membangun Aceh tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Karena kunci utamanya adalah ikhlas. Mereka yang mengincar jabatan gubernur dengan menghalakan segala cara, tentu tidak layak untuk memimpin lima juta rakyat Aceh yang sebagian besar masih dilamun kemiskinan.

Sosok kunci yang dibutuhkan Aceh saat ini adalah orang yang jujur, cerdas, ikhlas dan amanah. Untuk itu, siapapun yang merasa dirinya sudah memiliki kriteria yang demikian, sudah sepantasnya untuk masuk ke dalam gelanggang.

Tidak ada yang lebih berhak untuk maju, karena dalam alam demokrasi, siapapun–asal memenuhi syarat– dibenarkan untuk menyalonkan diri. Tentu, dari semua kandidat yang sudah mengajukan namanya, tidaklah sempurna. Semuanya punya sisi lemah. Bila ada yang merasa lebih mampu, mati sama-sama masuk dalam arena.

Pada akhirnya, kita semua harus menyadari bahwa esensi pemimpin adalah keihlasan. Tanpa keihklasan, mustahil bida melahirkan kejujuran. Sepintar apapun seseorang, bila tidak ada rasa ikhlas, ia takkan mampu memimpin Aceh. Karena hakikat pemimpin adalah menderita. []

KOMENTAR FACEBOOK