PK Mahanandia

1975 adalah sebuah sejarah bagi PK Mahanandia seorang seniman miskin yang berkulit hitam berambut keriting. Ia bertemu dengan Charlotte Von Schedvin—seorang perempuan muda yang memiliki darah bangsawan Swedia—yang berkunjung ke India dalam rangka liburan. Kemampuan tangan PK dalam memainkan warna dan sketsa, telah melahirkan cinta antar keduanya.

PK adalah sebuah nista. Di negerinya yang dicitrakan oleh sinema penuh peradaban, ia bukan siap-siapa. Bahkan PK haram menyentuh dan disentuh. Seniman miskin itu berasal dari kasta Dalit. Kasta ini ada namun tidak pernah dianggap ada oleh manusia di negeri Hindustan.

Bahkan untuk perkara ibadah saja, PK dan bangsa Dalit lainnya harus berjuang teramat keras. Mereka kerap dilempari ketika ke kuil. Mereka yang “alim” dan “shalih” –karena tiap minggu ke kuil—tetap saja melihat PK dan Dalit lainnya sebagai sesuatu yang nista.

“Derajatku di bawah anjing dan sapi,” kata PK kepada CNN suatu ketika.

Pendidikan, bagi manusia seperti PK, adalah sesuatu yang mustahil. Mereka boleh menimba ilmu di sekolah, tapi dilarang masuk ke dalam kelas. Hingga, pada usia 9 tahun, ia diperbolehkan masuk ke dalam ruangan kelas. Itupun karena ada kunjungan dari pengawas sekolah yang berasal dari Inggris. Walau demikian, PK tetap terasing. Ia hanya diperbolehkan duduk di belakang, tanpa boleh menyentuh dan tak boleh disentuh. PK adalah sampah!

Adalah istri orang Inggris itulah, yang entah oleh apa, setelah berakhirnya kunjungan, menuju ke tempat PK duduk. Ia mengalungkan bunga ke leher lelaki miskin itu. Perempuan bule itu bercakap-cakap dan menyentuh kepala PK.

PK menangis. Baru kali itu ia diperlakukan sebagai manusia. Perlakuan itu datang dari orang lain. Kafir, karena tidak percaya pada dewa-dewa Hindu yang bejibun banyaknya.
***
Bagi bangsa Hindustan, kasta adalah segala-galanya. Mereka mengukur manusia, bukan dari kemampuan, apalagi ketaqwaan. Nilai derajat yang dibangun berdasarkan nilai yang dilahirkan secara picik oleh manusia-manusia yang beragam kepentingannya.

PK adalah korban. Mungkin di masa kasta itu dilahirkan, nenek moyangnya berasal dari kalangan miskin, sehingga tidak punya tempat untuk menyetarakan derajat. Dalit, adalah riwayat kekalahan sebuah komunitas. Oleh “politik” yang dimixing dengan agama, kemudian mereka diasosiasikan sebagai kelas terendah, yang derajatnya di bawah anjing dan sapi.

Tapi PK adalah pekerja keras. Ia pemimpi besar. Dengan sepeda—setelah menjual semua hartanya di India, ia melewati delapan negara selama empat bulan. Ia mendayung sepeda sejauh 3.600 km. Demi satu tujuan, ingin menikahi sang pujaan hati yang setelah kepulangannya ke Swedia, hanya bisa berkorespondensi dengan PK. Gayung bersambut. Mereka menikah.
Eropa—Swedia—khususnya Charlotte Von Schedvin dan keluarganya memperlakukan PK sebagai manusia seutuhnya. Tanpa sekat, tanpa kelas.
***
PK adalah wujud lain dari wajah manusia yang menempati bumi. Homo sapien kerap tidak bisa menghormati—konon lagi berbagi—dengan manusia lainnya. Mereka menciptakan kelas. Klan yang kuat menindas yang lemah. Kelompok miskin diciptakan sebagai budak. Dibiarkan miskin dan kemudian dilumpuhkan lewat berbagai stigma sosial. Ekonomi tak merata. Bila ada yang melawan, akan dibasmi. Bila perlu dibantai sampai habis.

Manusia kerap lupa bahwa ia dan insan lainnya tidaklah berbeda. Sama-sama menggunakan mulut untuk makan, minum dan bicara. Serta menggunakan dubur untuk buang air besar. Belum ada satu pun klan manusia yang kaya, menggunakan jemari kaki untuk buang hajat.

Perilaku manusia kerap berlawanan dengan ajaran agama. Bila dalam berbagai teks, agama selalu bicara tentang cinta dan penghormatan terhadap sesama, maka manusia, justru dengan menggunakan agama pula, melakukan penindasan terhadap manusia lainnya.

Agama kerap menjadi candu bagi mereka yang mendompleng. Agama hanya sebatas formalitas ketika hadir di forum-forum “intelektual” dan gagal maujud dalam perilaku. Bila PK di India dibuang oleh sistem kasta dalam agama Hindu, maka di lingkungan kita, status sosial menjadi tolak ukur untuk menghargai atau tidak menghargai seseorang manusia. Kemampuan intelektual, kejujuran serta pekerti yang mulia, kerap dikesampingkan.

Maka tidak heran bila akhir-akhir ini, mereka yang memiliki uang banyak—tidak peduli sumbernya halal atau haram—akan dielu-elukan sebagai orang baik. Bahkan diberikan berbagai jabatan “publik” kualitas imtaq dan iptek tidak lagi menjadi ukuran.

“Ia layak, karena punya uang. Bukankah untuk jabatan yang demikian uang adalah jawaban. Soal isi otak, bisa diisi pelan-pelan,” demikian kilah umum.
***
PK menyadari—banyak di antara kita yang justru tidak sadar—bahwa pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk melawan penindasan. Ia bersama istrinya yang bule itu bekerja keras siang dan malam. Pada akhirnya, mereka menjadi sponsor beasiswa bagi kasta Dalit di India.

Dalit harus bangkit. Bukan dibangkitkan oleh orang lain—karena orang lain itu yang merasa klan mereka lebih tinggi, tetap melihat Dalit sebagai sampah—tapi harus bangkit melalui perjuangan orang Dalit itu sendiri. Demikian mimpi PK.
Pada 2005, ia masuk nominasi peraih nobel perdamaian. Luar biasa!

Karena perjuangan yang luar biasa, kini ia pun diterima sebagai orang yang luar biasa di India. Ia mendapatkan gelar kehormatan di salah satu universitas di sana. Bayangkan, seorang yang drop out dari sekolah seni, kemudian dielu-elukan. Bahkan Pemerintah India pernah menjemputnya dengan helikopter, ketika ia berkunjung ke sana. Ternyata, “keagungan” PK telah melunturkan kasta. Ia Dalit. Tapi Dalit yang berbeda.

KOMENTAR FACEBOOK