Ketika Laweung Memanggil Pulang dan Pesona Guha Tujoh

Sudah lama tidak pulang ke kampung, sejak Idul Fitri yang lalu.

Tadi pagi setelah menghadiri acara open house di rumah bang Wandi, langsung pulang. Sangat rindu kepada almarhum Ayah. Anak-anak sudah beberapa kali mengingatkan, mereka mau berziarah ke makam kakek mereka.

“Baba, ayyo pulang ke Laweueng, lihat Abusyiek”, itu kata yang terucap dari mulut Myiesha, anak ketiga yang baru berumur tiga tahun, sebelum tidur malam sebelumnya.

Kami pulang di penghujung libur hari raya. Tidak banyak kendaraan di jalan. Dengan speed 50-60 kilometer perjam, kami nikmati pemandangan. Indah memang kalau sedang tidak terburu-buru.

Selewat Saree, kami singgah makan siang di depan penangkaran gajah di kaki gunung Seulawah. Yasmina, Anoshka, Myiesha, yang biasanya harus dikejar-kejar untuk makan, makan siang dengan lahap sebab sekali-kali melihat gajah lewat di seberang jalan memutar membawa pengunjung dan pawang.

Kami duduk tidak lama, sebab angin seperti mati, tidak berhembus, hawa panas menyerang. Saree yang dulu dingin sedingin kawasan Puncak di pulau seberang, sekarang menjadi panas. Hutan pinus yang dulu menghijau, sudah berubah menjadi kebun pisang dan coklat.

Kami melanjutkan perjalanan. Sampai di Simpang Beutong, belok ke kiri menuju Laweueng, jalanan sepanjang 7 kilometer sebagian bagus dan sebagian bopeng. Semoga tahun 2017, tahun politik, bisa membawa perubahan dan bopeng-bopeng di jalanan itu dihilangkan.

Ketika sampai di Blang Ceundee, kiri kanan jalan hamparan sawah kering. Tidak ada air. Di sebelahnya ada persawahan Blang Pawod, ratusan hektar terhampar, juga tanpa air.

Ketika sedang menikmati hamparan sawah dan perbukitan, tiba-tiba sebuah truk besar menyerobot kanan kendaraan kami, tidak peduli jalan kecil, memaksa mendahului kami. Beberapa motor dari depan, terpaksa menepi, memberi jalan kepada truk itu. Eh, setelah lewat satu, di belakangnya truk lain juga menyerobot. Ah, rupanya truk tentara. Ada beberapa prajurit duduk di dalam truk. Di dindingnya tertulis Yon Armed 17. Ada tiga truk yang melintas meninggalkan debu tebal di jalan kecil itu. Mungkin ada pembaca yang mengenal komandan batalyon tersebut, atasannya supaya mengingatkan kepada para prajurit muda itu untuk bersikap sopan-santun di jalanan untuk menjaga keselamatan masyarakat.

img-20160916-wa0006

Sesampai di Laweueng, langsung menuju kuburan Ayah dan Kakek dengan semua keluarga, kemudian bertakziah ke rumah salah seorang sanak saudara yang meninggal dunia, dan mengunjungi makcek yang sakit.

Guha Tujoh
Ketika hendak pulang, istri berkata, ” baba Yasmina, kami ini orang Laweueng juga, masak belum sampai ke Guha Tujoh?”.

Guha Tujoh adalah sebuah komplek gua besar yang terletak di perbatasan antara Laweueng dan Batee. Zaman dahulu sering dijadikan tempat kaluet, khalwat para ulama dan aulia. Saat ini menjadi salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi pengunjung. Di seluruh Aceh, ketika kita perkenalkan diri berasal dari Laweueng, pasti orang akan menambahkan, “Guha Tujoh yaa?”.

Kemudian kami mengajak beberapa keluarga di Laweueng dan kami pun bersama-sama ke sana. Setelah melewati Meunasah Cot, kampung terakhir di Laweueng, sedikit mendaki ke arah timur. Kira kira 3 kilometer, ada simpang dengan portal, itu simpang pabrik semen yang akan dibangun. Kami melewati simpang tersebut, kira-kira dua kilometer, ada simpang kedua. Itulah simpang menuju Guha Tujoh.

Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan beberapa ratus meter, wow terlihatlah pintu gua yang sangat indah. Namun sayang, keindahan pintu sedikit tertutup dengan beberapa kedai yang menjual minuman dan makanan. Tidak cukup jarak untuk memotret keindahan pintu Guha Tujoh dari jauh.

img-20160916-wa0005

Memang tidak salah masyarakat mencari rizki di kawasan tersebut, namun akan lebih indah lagi, kalau kedai-kedai itu ditata dengan rapi beberapa puluh meter dari gua dengan tidak menutupi mulut gua.

Guha Tujoh sangat indah. Stalaktit dan stalagmit berbagai macam dan rupa. Kami sedikit berkeliling di seputaran mulut gua, dan tidak masuk ke dalam. Untuk masuk ke dalam, ada pintu seperti sumur, dan di dalamnya sangat luas, dan indah. Kami berencana dalam kunjungan selanjutnya akan masuk ke dalam.

Sesampai di Guha Tujoh, istri dan anak-anak langsung berkata, “nah, saat ini kami sudah sah menjadi orang Laweueng, sebab sudah sampai ke Guha Tujoh”.

img-20160916-wa0002

Setelah itu, kami kembali. Di jalanan pulang pemandangannya sangat indah, di jalanan itu, salah satu titik magis gunung Seulawah bisa dilihat. Seulawah Agam dan Seulawah Dara, seolah bersanding dua, bak pengantin. []

KOMENTAR FACEBOOK