Mahasiswa, Organisasi dan Idealisme

Mahasiswa Bireuen sedang melakukan demo menuntut polisi menindaklanjuti kasus dugaan ijazah palsu yang digunakan oleh Bupati Bireuen. Foto sebagai ilustrasi tulisan. Sumber foto: Juang news.com

Oleh Muammar*
Mahasiswa merupakan agent of change (pelaku perubahan) yang dituntut untuk mampu menjawab problematika yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Kondisi masyarakat saat ini yang sudah dibutai oleh sistem sangat membutuhkan Mahasiswa yang bisa berperan sebagai obor pencerahan dalam kegelapan, akibat pembodohan terstruktur yang dilakukan oleh pihak tertentu. Namun pada kenyataannya, mahasiswa saat ini sering menafsirkan tujuan dirinya hanya untuk mengejar selembar ijazah, sehingga mereka cenderung apatis dan tidak peka dalam memahami kondisi masyarakat.

Sejarah telah membuktikan, banyak peristiwa penting yang menentukan arah perjalanan bangsa telah mampu dilakukan oleh mahasiswa. Salah satu peristiwa penting yang dimotori oleh mahasiswa adalah lahirnya orde reformasi. Orde reformasi lahir dari hasil perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap sudah tidak pro terhadap rakyat pada masa orde lama dan orde baru. Reformasi menjadi tujuan utama perjuangan mahasiswa pada saat itu, ini merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar lagi. Keberhasilan mahasiswa dalam memperjuangkan lahirnya reformasi merupakan bukti nyata mahasiswa sebagai agen perubahan yang dituntut untuk mampu menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Menurut Knopfermacher, mahasiswa adalah insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang semakin menyatu dengan masyarakat), mendapatkan pendidikan dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Ini merupakan kondisi ideal yang diharapkan dari para mahasiswa, mereka tidak hanya mendapatkan hak untuk pendidikan tetapi juga menjalani proses untuk semakin menyatu dalam masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang berpengaruh lansung terhadap kehidupan masyarakat sebagai wujud respon mahasiwa dalam menjawab kebutuhan masyarakan sesuai dengan kondisi zaman.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dalam menjalani proses pendidikan di universitas, kondisi ideal mahasiswa seperti yang diharapkan oleh masyarakat mulai terkikis. Orientasi mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk menyatu dalam masyarakat sebagai tujuan akhir menjadi bias. Seperti yang diungkapkan oleh Mahayana, dalam menjalani proses pendidikan di perguruan tinggi mahasiswa dapat terbagi kedalam enam kelompok. Namun disini penulis hanya memaparkan tiga kelompok mahasiswa yang menurut penulis menarik untuk dikaji.

Pertama, mahasiswa underdog, yaitu mahasiswa yang umummnya datang dari perdesaan, merasa tidak ada yang dibanggakan tujuannya berusaha menjadi mahasiswa yang baik motivasinya tinggi untuk kuliah. Kedua, mahasiswa anak mami, yaitu mahasiswa yang berasal dari keluarga menegah keatas, sungguh-sungguh kuliah tetapi tidak peduli tentang kegiatan non-akademik, kerjanya tidur di kos, ke kampus dan pulang kampung. Tujuannya untuk segera menyelesaikan kuliah dengan baik agar dapat kerja. Ketiga adalah mahasiswa unggulan, mereka berasal dari keluarga terpelajar, secara kapasitas intelektual dan finansialnya memadai, sering memanfaatkan masa kuliah untuk menempa diri di organisasi atau kegiatan akademik ilmiah lainnya.

Berdasarkan pendapat Mahayana tersebut, penulis melihat bahwa mahasiswa secara tidak sadar telah terkelompokkan akibat perbuatan mereka sendiri. Sehingga hal ini menjadi dilema bagi mahasiswa dalam menjalani proses menjadi kaum intelektual yang bermasyarakat. Jati diri para mahasiswa saat ini sudah jauh dari kondisi ideal, orientasi mereka menjadi bias akibat terkikis oleh kehidupan saat ini yang semakin apatis dan mementingkan diri sendiri.

Kondisi seperti ini bukan tanpa sebab, lemahnya budaya membaca menjadi indikator bahwa mahasiswa tidak berada dalam jalur yang tepat dalam menjalani proses untuk mejadi kaum intelektual. Mereka sepertinya hanya ingin hidup seperti air DAS (Daerah Aliran Sungai) yang hanya mengalir mengikuti suatu alur atau sungai kehidupan di perguruan tinggi. Mereka seakan cenderung menjadi korban perubahan, bukan menjadi insan yang membawa perubahan. Seharusnya mereka menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menuntun mereka berada di jalur yang tepat dalam mempersiapkan diri menjadi kaum intelektual dalam masyarakat.

Berdasarkan kondisi permasalahan diatas, penulis ingin mengajak para mahasiswa untuk kembali berada di jalur yang tepat sebagai agent of change. Jalur tersebut salah satunya adalah organisasi.

Organisasi berasal dari bahasa yunani yaitu ‘organon’ artinya alat, bagian, anggota atau badan. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), organisasi adalah kesatuan (susunan) yang terdiri dari bagian-bagian (orang) dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan tertentu. Lebih lanjut lagi, beberapa pengertian organisasi dari beberapa ahli lainnya juga menarik untuk dicermati. Seperti yang diungkapkan oleh Thomson, organisasi adalah suatu integrasi dari sejumlah spesialis-spesialis yang bekerja sama dengan sangat rasional dan impersonal untuk mencapai beberapa tujuan spesifik yang telah diumumkan sebelumnya. Sedangkan menurut psikolog Schein, organisasi adalah suatu koordinasi yang dilakukan secara rasional pada setiap kegiatan oleh sejumlah orang dalam mencapai tujuan secara umum dengan pembagian fungsi dan pekerjaan lewat hirarki yang memiliki tanggung jawab dan otoritas.

Dari beberapa penjelasan tentang organisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah kumpulan orang-orang sadar yang berusaha untuk bekerja sama demi memperjuangkan tujuan organisasi dan kepentingan bersama dengan masyarakat. Jika mahasiswa tertarik dan mau terjun lansung dalam organisasi maka pengalaman dan kapasitas intelektual juga akan bertambah.

Mahasiswa jangan hanya mengadopsi pemikiran secara tradisi. Descrate mengatakan “aku befikir makanya aku ada”, mahasiswa bukanlah siswa ataupun pelajar yang hanya berharap ilmu dari seorang guru, tetapi mahasiswa selain memperoleh ilmu dari perguruan tinggi juga harus mampu mengkaji sendiri pengetahuan dari berbagai sumber yang ada. Sehingga kita bisa membawa arah hidup mencari jati diri yang seutuhnya, tidak hanya bergantung kepada orang lain..
Berdasarkan pengalaman penulis, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa akan lebih menarik jika kita terlibat aktif dalam sebuah wadah organisasi. Banyak hal yang ditawarkan oleh organisasi untuk membantu pengembangan diri bagi mahasiswa. Sehingga menurut penulis, mahasiswa yang belum masuk organisasi masih di pertanyakan kemahasiswaannya. Namun, banyaknya jumlah organisasi yang bermunculan dikalangan mahasiswa menjadi dilema bagi mahasiswa dalam memilih organisasi yang tepat untuk digelutinya.

kemudian. Organisasi dapat di bagi kedalam dua arah, yaitu organasisasi internal dan external kampus, tetapa ada juga yang mengatakan sebagai organisisasi masa dan organasissi kader.. secara yuridis organasasi internal kampus msudah ada payung hukum yang tercantum dalam statuta (UU No 12 Tahun 2012) tentang pendidikan tinggi, kewenangan pengaturan sepenuhnya ada di tangan pimpinan perguruan tinggi.

Organisasi internal kampus meliputi Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Unik Kerja Mahasiswa (UKM) di fakultas ada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM F) di tingkat universitas ada Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM UNIV). Organisasi internal kampus ini bisa masuk dalam kategori daerah, Nasional maupun Internasional.Keunggulan ini tentu menjadi daya pikat yang luar biasa bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan dari dalam organisasi internal kampus.

Selain itu mahasiswa juga bisa mengenal dan bereksperimen dalam oraganisasi eksternal kampus. antara lain ada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) organisasi ini lahir 5 febuari 1947 merupakan salah satu organisasi pengkaderan tertua di Indonesia dan telah banyak berkontribusi nyata untuk republik ini. kemudian Pelajar Islam Indonesia (PII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA PP) Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMuR), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) atau sejenisnya yang tertampung di bawah KNPI.
Dari berbagai organisasi yang ada diinternal maupus eksternal kampus , setidaknya sudah bisa kita lihat mudah-mudahan dapat menimbulkan pertanyaan pada dari kita masing-masing, kapan kita harus memiliki organisasi? Bagi mahasiswa yang berperan aktif dalam organisasi menyimpulkan bahwa perguruan tinggi merupakan sebagai kampus pertama maka organisasi sebagai kampus kedua bagi kita semua. jangan mengangap berorganisasi itu dapat membuat kita sibuk, padahal tanpa kegiatanpun kita asik tidur di kos dan bermalasan.

*Penulis adalah Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (Hmi) Komisariat Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP UNSYIAH) Periode 2015-2016.

KOMENTAR FACEBOOK