Rawok

Rawok adalah sebuah misteri. Dalam sebuah legenda disebutkan bila ia adalah seorang manusia yang punya gagasan besar. Suaranya yang membahana–kerap membuat orang terkagum-kagum ketika mendengar ceramahnya– adalah modal untuk meyakinkan banyak orang bahwa ia sosok yang berbeda. Ia sulit ditebak. Karena anggukannya belum tentu mengiyakan.

Dalam mitologi Negeri Gampong Pungget–Dalam hikayat orang terbuang– Rawok disebut sebagai petualang. Ia mampu berkelana dari satu negeri ke negeri lainnya. Kerajaannya tidak begitu besar. Tapi ia kerap tampil bak orang-orang yang sangat berkuasa.

Dikisahkan dalam mitologi itu, pada suatu ketika ia hendak menguasai sebuah negeri yang bernama Alue Chung. Ia memanggil panglima terbaik pada sebuah koloni kecil yang berada di bawah kekuasaannya. Ia meminta sang panglima untuk berperang.

“Kita membutuhkan negarawan yang loyal dan penuh dedikasi. Seorang pejuang tangguh yang idealis. Bukan penghamba kuasa, tapi punya mimpi untuk membangun bangsa,” ujarnya kala itu.

Zulkarnen Djula adalah panglima terpilih itu. Berkat kekuatan kata Rawok ia mengangguk. Maka, dengan kekuatan yang ada–dibantu oleh batalyon tempurnya yang dipenuhi para ksatria– Ia bertempur. Berdarah-darah dan penuh air mata.

Tatkala puncak pegunungan Alue Chung mulai nampak, setelah puluhan pertempuran mereka lalui, tiba-tiba Rawok mengirimkan surat. Zulkarnen Djula diganti. Seluruh batalyon gempar. Panglima terbaik mereka dicopot. Padahal kemenangan sudah di depan mata.

“Tuan Panglima dibutuhkan negara untuk tugas yang lain,” begitu penutup surat Rawok.

Zulkarnen Djula pun pulang. “Kalian tetap harus berperang. Negara ini harus kita bela, ada atau tanpa aku,” katanya kepada pasukan yang terlihat kecewa atas keputusan Rawok.

Leman Kleng–Seorang detektif negara asal Indonesia– pernah berkata: “Kita selalu terjebak dalam pusaran kepentingan elit. Kita yang berdarah-darah di medan juang, tapi para petinggi tanpa hati mengambil kebijakan apapun, sekehendak hati.

Mereka begitu gampang mengobarkan perang. Kemudian berlama-lama meneguk untung. Selanjutnya berhenti dan menuduh kita sebagai penjahat.

Kemudian, koran-koran akan menulis nama mereka sebagai pahlawan dan melempar para petempur ke lubang jamban dengan label penjahat perang,”

Seorang pembaca Hikayat Orang Terbuang menyebutkan, Rawok adalah oportunis sejati. Ia susah ditebak. Dikepalanya hanya ada kekuasaan dan bisnis. Ia tak peduli tentang kehancuran orang lain.

“Rawok adalah raja kecil yang licik. Pria berberewok itu memang kejam,” sebutnya.[]

KOMENTAR FACEBOOK