Menunggu Gagasan Tentang Bireuen Masa Depan

Walau masih tersisa satu hari lagi, namun semua bakal calon Bupati Bireuen sudah mendaftar pada 21-22 September 2016. Kesibukan di kantor KIP Bireuen pun usai sudah untuk tahapan ini. Enam pasang putra Bireuen kini bersiap untuk menuju estafet selanjutnya. Mungkin, dari semua balon, hanya pasangan H. Husaini M. Amin, SE- Azwar S.Pd yang masih bergumul dengan waktu. Jumlah dukungan sah mereka belum mencukupi.

Dari tiap momen bincang politik, selalu saja–non petahana– berbicara tentang perubahan. Walau demikian hampir semuanya masih berputar pada bincang besar yang belum mengerucut pada persoalan inti yang terjadi. Nyaris semuanya belum mempublikasi dasar perubahan yang ingin dicapai dengan menggunakan data. Demikian pun petahana, selalu bicara lanjutkan, namun juga belum memunculkan data tentang keberhasilan dengan menggunakan data statistik. Absurd. Begitulah yang tertangkap dari semua kesimpulan yang ada.

Rasa politik rimba masih kental. Show of force dan dawa buta masih memenuhi ruang publik, baik di media sosial maupun alam yang lebih nyata. Ada kegamangan yang kemudian dilampiaskan dengan caci-maki, bahkan menjurus fitnah pun dilakukan.

Rakyat awam disuguhkan dengan citra politik busuk. Demokrasi yang membuka kran keterlibatan semua pihak dalam politik pun dibungkam dengan berbagai cara. Agama Islam diterjemahkan sesuka hati. Orang alim agama dihina, Pancasila dihina. Politik dicitrakan kotor, sehingga orang yang punya track record bersih “dilarang” maju. Ada upaya membangun persepsi bahwa orang baik- baik jangan berpolitik. Lantas kalau demikian, kenapa pula rakyat harus bersusah payah memilih orang jahat untuk menjadi ulil amri?

Upaya licik ini, tanpa sadar telah pula hendak mengatakan “Politik itu kotor, orang alim jangan berpolitik. Biar kandidat saya saja yang maju, karena ia busuk dan kotor. Ia aib dan buduk.”

****
Angka rakyat miskin di Kabupaten Bireuen meningkat tajam dalam tiga tahun ini. Bila pada tahun 2012 jumlah penduduk miskin sebanyak 170.683 ribu jiwa. Angka ini justru mencapai 223.632 ribu jiwa pada 2015.

Bila dipersentasekan, maka jumlah penduduk miskin di Bireuen hampir 50%, bila dihitung dari jumlah penduduk Tahun 2013 sebanyak 450.544 jiwa.

Menurut data yang dirilis oleh TNP2K, Bireuen merupakan daerah dengan kemiskinan terbanyak kedua–angkanya sama dengan Bener Meriah– dan Aceh Utara memimpin sebagai daerah paling tinggi menyumbang angka kemiskinan di Aceh.

***

Kemiskinan adalah sebuah persoalan yang melahirkan berbagai persoalan lainnya. Salah satunya adalah pengangguran. Menurut data yang dilansir oleh Databoks, sejak 2007-2013 angka pengangguran semakin meningkat. Pada 2007 jumlah pengangguran di Bireuen berkisar pada angka 12 ribu. Pada 2013 jumlahnya di atas 17 ribu orang.
img_20160922_223732

Dua persoalan ini, pengangguran dan kemiskinan adalah persoalan mendasar yang sedang bergelayut di Bireuen. Tren peningkatan –menurunnya kualitas kesejahteraan– merupakan pekerjaan rumah yang tidak kunjung mampu dijawab oleh pemimpin yang sudah ada.

Untuk pilkada 2017 ini kita –saya pribadi– berharap bahwa kandidat berbicara tentang topik klasik ini. Tentang kemiskinan yang diwariskan secara bergenerasi.

Perubahan yang disuarakan haruslah mengerucut pada rencana yang kelak akan dilakukan. Hal ini tentu membicarakan srategi yang ditempuh kelak bila berhasil menjadi Bupati dan Wakil Bupati Bireuen untuk periode selanjutnya.

Para calon pemimpin yang kini sudah mengajukan diri harus dipaksa untuk bicara tentang Bireuen masa depan. Mereka sudah perlu digiring untuk mengemukakan gagasan pasti. Saya –dan semoga juga anda–sudah harus percaya bahwa arus kebaikan dan perbaikan baru akan berjalan, bila ditopang oleh figur bersih, cerdas, alim, berani juga punya gagasan terukur.

Mari berdialektika dengan menggunakan data![]

KOMENTAR FACEBOOK