Peran Kaum Muda dalam Perubahan Sosial

Kontribusi yang diberikan pemuda dalam perubahan sosial sangatlah besar, sejarah mungkin bisa menjadi salah satu bukti nyata atas kegigihan kaum muda dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, keinginan kaum muda Indonesia untuk keluar dari belenggu pemerintahan kolonial Belanda pada saat itu adalah semata-mata karena kecintaan terhadap tanah air. Upaya-upaya nyata pun dilakukan oleh kaum muda dengan membentuk beberapa organisasi kaum muda seperti Jong Calebes Bond, Jong Sumatra Bond, Jong Java, penghimpunan pelajar Indonesia pada tahun 1928 para kaum muda Indonesia mengadakan kongres pemuda di Jakarta, menarik dicermati dalam kongres tersebut menghasilkan beberapa asas atau prinsip fundamental yang harus ditanamkan oleh setiap kaum muda Indonesia di setiap generasinya diantarannya : Pertama mengaku bertumpah darah yang satu, yakni tanah air Indonesia, kedua mengaku bangsa yang satu, yakni bangsa Indonesia, ketiga menjunjung bahasa yang satu yakni bahasa Indonesia. Pada salah satu asas yang dilahirkan pada kongres tersebut adalah dengan mengaku bahasa Indonesia sebagai bahasa tentu hal ini akan menarik kalau kita cermati bahwa Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara-negara di kawasan Eropa seperti Belgia misalnya yang menggunakan empat bahasa nasional sekaligus ironisnya tentu hal ini akan berpengaruh pada identitas nasional bangsa mereka sehingga besar kemungkinan akan memicu keretakan didalamnya, mungkin dalam hal ini penulis dapat mengatakan bahwa perubahan yang dilakukan kaum muda Indonesia tidak hanya terbatas pada tatanan sosial saja melainkan pada seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara garis besar komitmen yang ditanamkan oleh kaum muda Indonesia dalam memberikan pengaruh dalam proses perubahan sosial begitu signifikan dan gemilang, tidak tanggung-tanggung kehadiran kaum muda sebagai agen perubahan agent of change telah menyentuh seluruh lini kehidupan, karena didalam jiwa setiap pemuda Indonesia telah dibekali dengan sikap solidaritas dalam menangani keterpurukan yang dialami oleh bangsa, sikap idealis serta api semangat yang mengalir dalam diri anak muda Indonesia telah memberikan pengaruh yang cukup luar biasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini pemerintah harus jeli dalam memperhatikan perkembangan serta sejauh apa partisipasi kaum muda Indonesia dalam proses pembangunan dengan populasi anak muda Indonesia yang mencapai 37% (62.343.755 juta) dari jumlah seluruh penduduk Indonesia dengan jumlah kaum muda Indonesia yang sangat besar ini bisa menjadi dua kemungkinan yakni bisa menjadi sebuah kerugian sekaligus peluang untuk mempercepat proses pembangunan.

Pemerintah dalam hal ini dituntut untuk menerapkan strategi jitu untuk mengoptimalkan peran anak muda dalam melakukan perubahan yang tidak lain adalah untuk mengangkat keterpurukan bangsa Indonesia, yang menjadi permasalah saat ini tidak sepenuhnya ada pada instrumen yang diberlakukan oleh pemerintah melainkan pada cara pandang atau perspektif kaum muda Indonesia yang masih jauh dari kesan positif, masih banyak kaum muda Indonesia yang mengkritisi kebijakan pemerintah secara anarkis dan terlalu mengedepankan arogansi mungkin hal tersebut bukan hal yang baru ditelinga kita belum lagi menyinggung gaya hidup kaum muda Indonesia yang telah jauh dari jati diri bangsa Indonesia prilaku westernisasi (kebarat-baratan), hendonisme serta sikap materialistik telah menjadi trend di kaum muda Indonesia hal ini tentu akan berdampak buruk bagi kemajuan bangsa dan negara meskipun tidak selamanya dampak globalisasi membawa pengaruh negatif bagi bangsa Indonesia tentunya dalam menyikapi proses globalisasi yang merupakan kelanjutan dari modernisasi perlu kebijaksanaan serta kematangan dalam mengambil kebijakan. Di sisi lain perhatian yang dilakukan pemerintah masih jauh dari kesan memuaskan hal ini dapat kita lihat diberbagai daerah terpencil di Indonesia khususnya wilayah timur Indonesia yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, serta berbagai sarana penunjang lainnya, perhatian penulis mungkin tertuju pada pengembagan intelektual kaum muda Indonesia yang masih sangat minim padahal pendidikan merupakan syarat penting yang harus dimiliki oleh kaum muda Indonesia dalam membangun bangsa dan negara yang maju.

Berbagai kebijakan atau alternatif yang dilakukan oleh pemeintah Indonesia untuk meningkatkan sumber daya manusia khususnya pada generasi muda dengan memberikan beasiswa pendidikan ke luar negeri, upaya pemerintah tersebut seakan sia-sia ketika anak bangsa dihadapkan pada kemewahan negara-negara adikuasa banyak dari mereka memilih untuk melanjutkan hidupnya di negara-negara tersebut. Alasan para kaum muda yang membangun masa depannya di luar negeri tidak lain hanya melihat prospek dunia kerja yang jauh lebih baik dari Indonesia, belum lagi persoalan yang datang dari dalam negeri seperti korupsi yang kian hari telah mendarah daging pada birokrasi pemerintahan, krisis kepemimpinan, narkoba yang telah menjadi jajanan bagi kaum muda Indonesia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tantangan yang dihadapi oleh kaum muda Indonesia datang dari dua sisi baik itu datang dari luar maupun dalam negeri.

Di akhir tulisan ini mungkin kita bisa belajar dari semboyan yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung Toludo Ing Madyo Mangungkarso Tut Wuri Handayani, yang berarti pemuda harus berada pada barisan paling depan dalam melakukan perubahan sosial sebagai penggerak atau kreator perubahan, memaknai lebih jauh semboyan ini ada keharusan sikap tumpang tindih dan semangat berjiabaku dalam mengupayakan cita-cita mulia bangsa Indonesia. Jika semboyan ini di reaktualisasi niscaya masalah atau bahkan tantangan sesulit apapun akan mudah diatasi oleh kaum muda Indonesia. []

KOMENTAR FACEBOOK