Jiwa yang Merdeka

Zaini Djalil, Ketua DPW NasDem Aceh

Ketika diminta menjadi Calon wakil Gubernur Aceh yang mendampingi Tarmizi Karim oleh Pak Surya Paloh, saya tidak langsung menjawab. Selama satu minggu saya bergelut dengan pikiran sendiri. Karena sebelumnya, saya tidak pernah menyiapkan diri sebagai wakil gubernur, apalagi gubernur. Saya ingin mengorbitkan oleh orang lain.

Namun tantangan dari Pak Surya Paloh saya jawab dengan mengaku siap melaksanakan arahannya. Namun demikian, pasca memikul tanggung jawab itu, saya selalu berdoa kepada Allah “Ya Allah, andaikan keputusan ini salah. Bila saja kelak Aceh tambah rusak di tangan saya, maka gagalkanlah pencalonan ini,”.

Rasa takut dengan campuran keringat dingin adalah jawaban dari kekhawatiran atas sikap yang saya ambil. Namun, sebagai politisi dan juga putra Aceh, saya pun bertempur dengan waktu bekerja dengan segenap amunisi untuk memuluskan jalannya pasangan Tarmizi Karim-Zaini Djalil menuju Pilkada 2017.

Pada akhirnya sejarah memutar kompas, saya harus berhenti di tengah jalan. Menjelang pendaftaran bacalon di KIP Aceh, saya diminta mundur. Ada proses politik yang kemudian telah melahirkan orang lain. Saya tidak kaget. Juga tidak kecewa. Dengan sikap legowo saya memilih untuk menarik diri.

Pasca kejadian itu, banyak sindiran maupun fitnah yang ditujukan kepada saya. Suara-suara sumbang tersebut merambat sedikit kencang. Namun demikian dukungan pun tidak kurang sama sekali. Untuk kedua sikap itu, saya ucapkan terima kasih. Dalam kondisi terjepit, seorang manusia tentu acapkali bisa melihat siapa yang sejatinya sebagai teman dan siapa pula yang menunggang dalam gelap.

Sahabat restorasi di manapun anda berada. Ketika saya memutuskan untuk menjadi kader dan pengurus Partai NasDem, Zaini Djalil sudah berkomitmen untuk menjalankan semua aturan dan cita-cita partai dengan sebaik mungkin NasDem harus menjadi role model perpolitikan tanah air, bahwa parpol adalah “rumah” untuk melahirkan Indonesia yang punya gagasan membangun segenap elemen bangsa, tanpa intimidasi, tanpa KKN dan sifat buruk lainnya.

Bagi saya, semua dinamika yang terjadi dalam politik praktis adalah pembelajaran yang sangat berharga. Nyaris tidak ada satupun “aura” politik yang tidak mengajarkan sesuatu kepada para politisi yang benar-benar belajar dari berbagai ruang dan situasi.Karena tidak ada yang benar-benar khatam ilmu politik.

Gagasan NasDem dengan restorasinya tentu akan menemui banyak kendala. Baik dari internal maupun eksternal. Banyak yang tersinggung, tidak sepakat dengan gagasan yang kami perjuangkan. Politik tanpa mahar merupakan salah satu tamparan bagi pelaku politik transaksional.

Kami di NasDem, sejatinya tidak pernah ingin menampar siapapun. Karena kami hanya ingn kembali ke tujuan awal politik dan partai politik yang pernah dikonsepkan oleh faunding father bangsa ini. Bahwa parpol harus menjadi mesin yang menghasilkan kesejahteraan bagi segenap anak bangsa. Walau penuh rintangan, kami ingin kembali ke cita-cita awal itu. Ada atau tanpa dukungan, kami sedang berjalan ke sana.

Pada akhirnya, untuk melahirkan kondisi politik yang ideal dan ramah bagi setiap orang, maka dunia politik harus dimasuki oleh mereka yang tidak ambisius dengan dengan menghalakan segala cara, pembelajar, jujur dan haruslah berjiwa merdeka. Orang-orang yang bermental budak tidak cocok duduk dalam dunia politik. Karena kehadirannya hanya akan membawa kekacauan.

Bagi mereka yang berjiwa merdeka, tentu tidak akan menggunting dalam lipatan. Ia akan seiya sekata dengan tujuan dan cita-cita partai. Karena kesepakatan yang ia setujui telah memenuhi standar nilai kebenaran.

Bila anda bertanya kepada saya, secara kongkrit apa tujuan saya berpolitik dan memilih NasDem sebagai rumah? Saya tentu akan menjawab: saya ingin memperbaiki Aceh, semampu saya. Kenapa NasDem? Karena partai ini sesuai dengan misi saya. Mari bergerak dan tetap istiqamah memperjuangkan keadilan. Restorasi Indonesia! []

KOMENTAR FACEBOOK