Mukhlisuddin Ilyas: Hasan Tiro Berbeda dengan Daud Beureueh

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Hasan Tiro adalah sosok yang paling banyak dijadikan objek kajian atau studi dibanding dengan sosok Daud Beureueh.

“Itu karena Hasan Tiro bukan hanya melakukan perlawanan tapi juga menulis apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukannya,” kata Mukhlisuddin Ilyas pada diskusi “Membedah Tiroisme” di Aula Fisip Unsyiah.

Sementara Daud Beureueh, menurut Direktur Bandar Publishing itu, tidak menulis pikirannya dan perjuangannya, melainkan orang lain yang menulis sehingga oleh para pelaku studi tidak bisa dijadikan sebagai data primer. Ini yang membuat Hasan Tiro berbeda dengan Daud Beureueh.

Hasan Tiro, menurut Mukhlis juga sebagai sosok man of inspiration, sosok yang menginspirasi banyak orang. Orang banyak berkisah tentang Hasan Tiro karena terinspirasi, orang banyak melakukan studi juga karena terinspirasi, dan orang banyak mengikuti jejaknya karena terinspirasi.

“Beberapa waktu usai Hasan Tiro meninggal, banyak sekali kisah-kisah tentang Hasan Tiro. 44 orang menulis tentang Hasan Tiro sehingga dalam waktu satu bulan berhasil diterbitkan jadi buku,” kata Mukhlis.

Mukhlis juga mengaku banyak sekali sisi lain dari Hasan Tiro yang masih perlu digali, dan salah satu contoh adalah soal Tas Hitam Hasan Tiro. “Apa isinya, dan kemana Tas Hitam itu sekarang?” tanya Mukhlis mengutip pertanyaan Otto Syamsuddin Ishak.

Bagi Mukhlis Hasan Tiro juga sebagai satu-satunya orang Aceh yang menjadikan Aceh sebagai objek kajian dan studi dari sisi sejarah. “Pada masanya, hanya orang asing yang melakukan studi tentang Aceh,” katanya sambil menegaskan bahwa sebagai ilmuan pikirannya tentang Demokrasi Indonesia dijadikan rujukan oleh Amin Rais terkait tawaran federalismenya.

Di mata Mukhlis, Hasan Tiro juga sosok perekat kolektivitas yang mumpuni. “Hasan Tiro bukan hanya akrab dan menghargai dan menghormati orang daerahnya tapi juga sangat hormat kepada orang Gayo dan lainnya termasuk dengan daerah lain di luar Aceh,” jelas Mukhlis.

Terakhir, Hasan Tiro juga diakui kemampuannya dalam mengangkat kasus-kasus utama dan kasus itu mampu menyedot perhatian dan dukungan banyak pihak terhadap apa yang diangkat oleh Hasan Tiro.

Hanya saja, Mukhlis mengkritik semangat tokoh-tokoh Aceh sekarang yang tidak lagi mengikuti jejak Hasan Tiro dalam soal menulis. Mukhlis memberi contoh soal perundingan GAM dan RI.

“Belum ada buku perundingan yang ditulis oleh juru runding GAM. Berbeda dengan juru runding RI yang umumnya sudah menulis kisah seputar perundingan,” sebutnya dengan menegaskan bahwa orang Aceh banyak sekali pemikirannya tapi kurang mendokumentasinya dalam bentuk buku. []

KOMENTAR FACEBOOK