Tiroisme

Alm. Tengku Hasan di Tiro

Andai Hasan Tiro masih hidup, maka usia penerus trah keluarga Tengku Chik Di Tiro ini genap 91 tahun (25 September 1925 – 25 September 2016). Tapi deklarator GAM ini sudah meninggal, 6 tahun yang lalu, tepatnya 3 Juni 2010 usai memimpin perlawanan panjang untuk satu misi yang dipahaminya sebagai panggilan takdir atau tugas sejarah keacehan yaitu Aceh merdeka (Aceh-Freedom).

Meski ayah dari anak semata wayang, Karim Tiro itu, sudah tiada tapi buah dari pohon perjuangannya masih bisa dinikmati hingga kini. Para pengikut setianya (Tirois) yang kini tergabung dalam Partai Aceh atau yang sudah berseberangan adalah “penikmat” utama dari pohon tiroisme. Bagaimana dengan Aceh dan seluruh rakyatnya?

Memang, secara teritori misi Aceh merdeka tidak tercapai. Tugas sejarah Hasan Tiro hanya sampai pada musim buah MoU Helsinki. Pertanyaannya, adakah tugas sejarah Hasan Tiro dilanjutkan oleh para Tirois? Adakah tanda-tanda buah yang dihasilkan dari pohon perlawanan Hasan Tiro akan menjadi bibit baru untuk menghadirkan pohon kemerdekaan diri (self-freedom) bagi orang Aceh.

Kemerdekaan diri, bukan kemerdekaan teritori adalah tujuan dari insan moderen yang saat ini sering disebut dengan capaian kebebasan waktu, kebebasan pikiran, kebebasan finansial, bahkan kebebasan politik. Dengan modal kemerdekaan diri, sangat mungkin untuk kembali menjadi diri yang mulia. Sebagaimana kita ketahui, Hasan Tiro memahami kemuliaan bukan disebabkan harta dan tahta melainkan sebanyak apa pengorbanan yang diberikan kepada negeri.

Mencintai Aceh itulah pohon pemikiran penting Hasan Tiro (Tiroisme). Bagi Hasan Tiro, Aceh adalah negeri warisan pendahulu yang harus diperjuangankan. Bukan untuk mencari penghidupan atas Aceh tapi bagaimana mengacehkan kehidupan agar semua orang Aceh menjadi hidup secara Aceh. Di mata Hasan Tiro, Aceh adalah martabat yang ditopang oleh orang Aceh yang hidup mulia dengan pengorbanan.

Mencintai Aceh juga sikap yang mencerminkan penolakan atas penjajahan, penundukan, dan perampokan atas hak Aceh. Sikap ini bukan bermakna bahwa orang Aceh boleh menindas orang lain atau sesama agar bisa menguasai Aceh. Menolak pendudukan agar orang Aceh yang memiliki hak atas karunia Allah di bumi Aceh dapat membelanjakan karunia Allah itu di jalan yang dibenarkan menurut alam pikiran orang Aceh yang bersumber pada kesadaran agama.

Itulah mengapa Hasan Tiro dikabarkan sangat terinspirasi dengan surah at taubah 34-35. Jadi, mengelola Aceh bukan bermakna kesempatan untuk menumpuk-numpuk harta, apalagi memilikinya dengan jalan tidak halal. Tidak juga meroyalkan penggunaan harta di jalan yang mungkar.

Mencintai Aceh juga bukan menutup diri hanya menjadi Aceh dan mengabaikan dunia. Aceh, menurut Hasan Tiro haruslah mendonya. Aceh adalah komunitas dunia dan pernah memiliki pergaulan di tingkat dunia yang ditopang dengan kemampuan diplomatik yang dihormati.

Dengan pahaman ini maka Aceh sangat mementingkan pendidikan untuk mendukung terwujudnya pergaulan ditingkat donya. Aceh sendiri pada masanya pernah menjadi pusat peradaban yang dikunjungi oleh komunitas dunia. Mustahil Aceh mendonya bila manusia-manusia Aceh tidak pintar dan tidak memiliki identitas keacehan yang kuat.

Dengan cara pandang ini kita berharap agar pesan dasar dari Tiroisme tidak begitu cepat dilupakan, apalagi oleh para Tirois. Hasan Tiro, pada masanya pernah mengalami kesunyian dalam rangka meramu ulang jalan pembebasan Aceh. Semoga kesunyiannya di alam kubur tidak sampai membuat kita orang Aceh melupakan pesan dasarnya tentang mencintai Aceh. Saleum peACEHeart

KOMENTAR FACEBOOK