Latah Boleh, Tapi Jangan Terlalu

Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah menyerahkan secara simbolis mobil operasional kepada 8 ulama dayah di Aceh, di Pendapo Gubernur Aceh, Selasa 27/09. Gubernur menyebutkan, dengan bantuan tersebut, para ulama bisa lebih mudah dalam mensyiarkan islam di Aceh.

Banda Aceh, 28 September 2016
Kemarin malam (27/09/16) ketika sedang menunggu bus untuk meluncur ke Kuta Raja, seperti biasa saya utak-atik facebook untuk menghilangkan kejenuhan karena bus yang ditunggu tak datang-datang.

Begitu layar facebook terbuka, terpampanglah sebuah foto yang rupanya sedang menghebohkan jagad maya di Aceh. Dalam foto itu, Tgk. H. Usman Ali yang dikenal dengan Abu Kuta Krueng nampak sedang mencium (dengan kening) tangan Gubernur Aceh (Zaini Abdullah) sembari tangan kirinya memegang kunci besar.

Mungkin karena terlihat tidak lazim, maka berbagai komentar pun bermunculan di facebook. Pro-kontra pun meledak. Masing-masing netizen membuat penafsiran yang beragam. Ada yang menyebut Abu Doto tidak punya adab karena dia tidak merendahkan kepalanya ketika tanggannya dicium Abu Kuta Krueng. Ada pula yang berpendapat seharunya Abu Doto-lah yang mencium tangan Abu Kuta Krueng. Sebagian yang lain justru terkesan menyalahkan Abu Kuta karena mencium tangan Abu Doto hanya karena diberi mobil. Dan segudang penafsiran lainnya yang tidak mungkin diuraikan di sini.

Setelah membaca berbagai rupa komentar di facebook, saya pun membuat sebuah status yang sebenarnya tidak terlalu serius, dan bukan pula main-main.

Menurut pendapat awam saya, apa yang terpampang di foto tersebut adalah pemandangan biasa yang bisa kita jumpai di mana saja. Lagi pula kita semua tahu bahwa Zaini Abdullah adalah sosok umara (Gubernur) di Aceh, sedangkan Abu Kuta dikenal sebagai ulama. Lagi pula dari segi usia, nampaknya Zaini Abdullah lebih tua dari Abu Kuta. Dengan demikian aksi cium tangan yang dilakukan oleh Abu Kuta tidak-lah merendahkan derajat beliau. Demikian pula dengan Zaini Abdullah yang mengizinkan tangganya dicium Abu Kuta tidaklah bermakna bahwa Zaini Abdullah kurang adab.”

Saya melihat apa yang terpampang di foto tersebut hanyalah sebuah suasana keakraban di mana lain orang lain pula caranya. Ada orang yang menunjukkan keakrabannya dengan saling peluk tanpa harus mempermasalahkan siapa yang duluan memeluk. Ada juga yang menciptakan keakraban dengan saling lempar senyum tanpa harus diperiksa siapa yang senyumnya paling lebar. Tentu setiap orang memiliki strategi tersendiri untuk mengekspresikan suasana hatinya tanpa perlu intervensi pihak lain.

Lagi pula, foto penyerahan mobil bantuan, tepatnya mobil pinjaman sebagaimana diriwayatkan oleh beberapa sumber kepada para tokoh agama tersebut bukanlah satu-satunya foto yang bisa ditafsirkan sesuka hati. Maksudnya, di facebook juga banyak beredar foto lain yang sebagiannya menujukkan bahwa tidak hanya Abu Kuta yang mencium tangan Zaini Abdullah, tetapi Zaini Abdullah pun sempat mencium Abu Kuta. Cuma saja foto tersebut kurang diminati oleh sebagian netizen mungkin karena terlihat biasa saja. Kan kita suka yang aneh-aneh?

Di musim-musim politik seperti sekarang ini, apa pun bisa dijadikan isu demi kepentingan politik masing-masing. Foto yang terlihat bisa saja bisa disulap menjadi sesuatu yang luar biasa. Seorang kandidat yang hanya berfoto di podium kosong pun dengan berbagai kreasi bisa dibuat sebagai alat propaganda, dengan mengkampanyekan bahwa si kandidat tersebut sedang berpidato di gedung PBB. Bahkan uniknya lagi, dulu ada seorang politisi yang kononnya akan membuka kantor PBB di Aceh. Bahasa kerennya, semua bisa diolah demi kepentingan politik.

Namun sayangnya, terkadang kita terlalu latah. Tragedi foto Abu Kuta dan Abu Doto sebagaimana telah disinggung di atas adalah salah satu bentuk kampanye politik yang tanpa disadari telah mencemarkan harga diri orang lain.

Namun demikian, tulisan ini bukanlah ruang pengadilan, sehingga siapa yang telah bermain dalam tragedi foto tersebut adalah tidak penting untuk dibahas apalagi dihakimi. Yang jelas, tentu ada yang terluka dengan ulah sebagian kita yang terkadang kebablasan.
Penting diingat bahwa politik itu juga punya etika. Latah silahkan, tapi jangan terlalu, seperti kata Bang Roma. Wallahu Alam.

KOMENTAR FACEBOOK