Membela Kepalsuan

Seorang anak muda tiba-tiba chat, ia protes karena namanya ikut ditulis sebagai salah seorang penerima hibah ayam petelur bersumber dari APBA 2013. Tak tanggung-tanggung, dalam data itu, ia menerima 2000 ekor. Namanya ikut ditulis dalam list, bersama belasan pemuda yang beralamat di Bireuen.

Seorang teman saya–aktivis mahasiswa– pernah mendapat ancaman dari akun facebook yang mengaku seorang santri dari salah satu dayah di Bireuen. Oknum santri itu tersinggung dengan aksi demo mahasiswa di Bireuen, terkait dugaan ijazah palsu yang digunakan oleh Bupati Bireuen, Ruslan M. Daud pada pilkada 2012. Bagi santri itu, demo mahasiwa telah mencoreng citra dayah yang selama ini dikesankan bersih dan religius.

Hari ini, Kamis (29/9/2016) KMPA Pidie mengancam akan melaporkan KIP Pidie ke DKPP karena dinilai mendiamkan “fakta” bahwa salah seorang bacalon bupati telah menggunakan ijazah palsu untuk maju pada Pilkada 2017.

Dua hari lalu, seorang jurnalis di Bireuen diancam dan dibully oleh akun-akun timses salah satu bakal calon bupati, karena ia menulis berita tentang seorang timses yang dilaporkan ke polisi karena dianggap menebar kabar bohong di media sosial.

Setelah lebaran Idul Adha, di Bireuen juga beredar rekaman suara tentang kecaman seorang ulama yang dianggap kharismatik, terhadap Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab. Lelaki yang disapa dengan nama Tu Sop–dalam rekaman itu– disebutkan telah menggelapkan bantuan Mualem sebesar 28 miliar. Menghancur leburkan PT. Yadara serta tak layak duduk sebagai Bupati karena negeri ini –Indonesia– dipimpin oleh PKI dan di Aceh dipimpin oleh Wahabi.

Bahkan wakil Tu Sop, dr. Purnama Setia Budi, SpOG disebutkan oleh agamawan itu sebagai Wahabi.

***
Agama Islam kerap dijadikan jualan menjelang pemilu di Aceh. Ulama kerap “dilarang” maju dengan alasan bahwa di bawah NKRI Islam tidak akan bertumbuh. Namun di sisi lain, banyak pula agamawan yang bergabung dalam berbagai organisasi agama di bawah Pancasila. Seperti MPU dll. Agamawan juga banyak yang dijadikan sebagai penasehat.

Tentu ini kontradiksi. Ada pertentangan yang serius dalam menerjemahkan boleh atau tidaknya ulama dalam kancah politik praktis. Karena ketika bergabung dengan organisasi pemerintah, atau ketika menerima sumbangan dari pemerintah, semua sumbernya sama. Ya sama dengan sumber untuk menggaji bupati dll, yaitu uang yang bersumber dari negara Pancasila.

Fakta lainnya ada semacam penerjemahan yang ambigu tentang makna ulama sebagai pewaris para nabi. Ulama–oleh sebagian ulama– menerjemahkan bahwa ulama tidak boleh terjun untuk memimpin umat secara langsung. Karena bagi mereka politik sangat kotor. Bila ulama diartikan sebagai warisatul ambiya, maka umara disimpulkan sebagai warisatul Firaun.

Tentu kita harus bertanya, jikalau benar ulama tidak boleh terjun dalam politik praktis, lalu kenapa pula sebagian ulama memberi restu kepada kandidat non ulama untuk maju. kenapa Ia mendukung warisatul Firaun? Ada apa ini?. Bukankah ketika memberi restu, ia ikut mendorong seseorang menjadi pewaris Firaun?

Agama kerap dipolitisir adalah fakta. Orang yang punya track record baik, acapkali dicitrakan tidak layak untuk duduk sebagai penguasa. Karena bila berhasil duduk, citranya akan rusak.

Ini tentu pemahaman sesat tentang orang baik. Di satu sisi para agamawan berbicara perbaikan moral bangsa, namun di sisi kedua, agamawan pun kerap menolak agamawan berintegritas untuk ambil bagian berusaha merebut kekuasaan dan bekerja untuk memperbaiki tatanan yang sudah rusak.

***
Teman saya yang aktivis itu, walau dikecam dan diancam –Beberapa temannya yang ikut demo ijazah palsu merapat ke orang yang sebelumnya didemo– tetap tidak goyah. Baginya sekali layar terkembang surut berpantang. Ia tak peduli berapa banyak orang yang memusuhinya karena sikapnya yang demikian. Karena ia maju tak gentar membela yang benar.

Sama seperti anak muda yang namanya dicatut sebagai penerima hibah ayam petelur tahun 2013, ia meminta saya membantunya untuk membongkar praktik jahat itu. Bahkan sebelumnya ia mengaku pernah pula diancam akan ditembak karena mempertanyakan hal tersebut.

Bagi mereka yang sudah menghamba pada kuasa dan uang, membela sesuatu yang salah adalah lumrah. Mereka tidak peduli bahwa sikapnya demikian telah menzalimi orang yang tidak bersalah.

Pun demikian, tidak ada kejahatan yang abadi. Menangnya para penjahat bukan karena mereka kuat, tapi bercerai-berainya orang baik. Ketika orang baik diam, maka orang jahil akan merajalela.

Bila kelak Tu Sop dan dr. Pur tidak menjawab bahwa semua tudingan dalam rekaman itu hanya fitnah belaka, maka akan semakin banyak orang stupid akan berdosa, karena rekaman tersebut terus menerus disebar. []

KOMENTAR FACEBOOK