Safety Player dan Kepura-Puraan

Dalam dunia politik praktis ada satu istilah yang sangat populer dan selalu menjadi kosakata utama ketika orang membahas soal politik, yaitu; “Safety Player”. Istilah ini sebenarnya pengembangan dari istilah “player” yang artinya “pemain”. Sayangnya, meskipun kata ini sebenarnya bisa dimaknai secara netral sebagai sinonim dari kata “pemain politik”, tetapi cenderung berkonotasi negatif. Sehingga ketika disebutkan bahwa si polan adalah seorang “pemain” atau “player”, maka makna yang langsung terbayang adalah, bahwa tokoh tersebut adalah orang yang “licin”, “licik”, “berbahaya”, “pintar”, dst, tergantung konteks pembicaraan.

Istilah “safety player” adalah istilah yang lebih khusus lagi, bermakna “pemain yang selalu cari aman”. Di dalam dunia sepakbola, istilah pemain yang selalu cari aman ini adalah pemain yang “cerdas”. Biasanya dia tak pernah mau mengambil risiko apapun yang mengarah pada cedera fisik ketika berhadapan dengan pemain lawan, apalagi jika lawan tersebut cenderung bermain keras, atau permainan sedang berjalan sengit serta emosional. “Safety Player” menghindari segala macam benturan, dan kontra fisik, dia lebih mau melepaskan peluang atau bola yang sebenarnya bisa direbutnya daripada mengambil risiko fisik yang berbahaya. Tetapi disisi lain, seorang safety player dianggap tidak memiliki determinasi dan loyalitas tinggi terhadap kubu yang dibelanya. Pemain ini bisa saja mengabaikan kemenangan timnya asal dia selamat.

Persamaan keunggulan “safety player” dalam sepakbola, meski tak sepenuhnya sama, tampaknya mirip sekali dengan “saftey player” di dalam dunia politik. Seorang “safety player” cenderung bisa berkarir lebih panjang di dalam dunia sepak bola, karena jarang mengalami cedera fatal, meskipun sangat tidak disukai oleh kesebelasan yang lebih mengutamakan determinasi, loyalitas, dan esprit d’corps. Di dalam politik, seorang “safety player” biasanya akan terus bisa bertahan dalam gelombang politik seberat apapun, karena sikapnya yang tidak mau konfrontatif, diplomatif dan bisa mengambil hati semua pihak, bahkan lawan-lawan politiknya. Pemain politik seperti ini bisa berkompromi dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dan dengan musuhnya pun bisa berdiplomasi. Ketika konfrontasi politik berakhir dengan banyak korban berjatuhan dan seluruh tim cedera, seorang “Safety Player” tetap akan bertahan, dan meneruskan karirnya.

Ketika konflik politik di kubu Partai Demokrat paska kasus “century”, dan gelombang konflik internal di partai itu semakin parah semasa pemerintahan kedua Presiden SBY sekitar tahun 2010, muncul istilah “durna”, yang merupakan nama tokoh pewayangan dalam kebudayaan Jawa. Durna adalah seorang “safety player” yang bisa memanfaatkan kedudukannya sedemikian rupa, sehingga tetap selamat ketika pecah perang “bharatayuda” antara Pandawa dan Kurawa, karena Durna bisa bermain dua kaki. Di dalam kahasanah politik Aceh terkenal pula istilah “Panglima Tibang”, yang merupakan contoh “safety player”, yang dapat masuk ke kubu mana saja, karena kemahiran diplomasis, keramahtamahan, dan tidak konfrontatif.

Di dalam sepakbola, Lionel Messi adalah salahsatu jenis “safety player”, yang mampu tetap bertahan dari pertarungan-pertarungan keras dan sengit yang dilancarkan Real Madrid terhadap Barcelona. Tidak ada orang yang membenci Messi, bahkan musuhnyapun menyukainya karena ia “cerdas” dan tidak konfrontatif. Di Manchester United pernah ada Berbatov pemain asal Bulgaria, yang sebenarnya sangat cerdas, tetapi tidak mau mengambil risiko dan selalu bermain aman, sehingga meskipun dia adalah pemain hebat, karirnya tidak terlalu menonjol karena tidak disukai oleh kebanyakan pelatih yang mengandalkan determinasi tinggi, loyalitas dalam pertarungan serta esprit d’corps.

Tetapi tentu saja membandingkan sosok “safety player” di dunia politik dengan sepakbola tidak “apple to apple”. Karena “Safety Player” dalam sepakbola bisa diterima secara moral karena sang pemain harus memprioritaskan keselamatannya selama bermain. Sedangkan di dalam politik, seorang “safety player”, sebenarnya sulit sekali dibedakan dengan seorang “avounturir”, “bermuka dua”, dan lebih parah hampir tidak ada bendanya dengan seorang “pengkhianat” karena pemain seperti ini, meletakkan nilai dan prinsip hanya sebagai atribut dan buka dasar dari sikap serta tindakan politik. Karakter pemain politik seperti ini, ketika seluruh timnya sedang berada dalam satu posisi yang sifatnya konfrontatif terhadap lawan, maka sang “Safety player” akan muncul sebagai orang bijak dan tetap mampu berkomunikasi dengan lawannya menggunakan pendekatan diplomasi, sampai kita sulit membedakan, apakah yang bersangkutan adalah lawan atau kawan. Dengan kata lain, “safety player” dalam politik sebenarnya adalah bentuk lain dari Kepura-puraan. Ia bukan sesuatu yang hitam atau yang putih. Ia senantiasa abu-abu. []

KOMENTAR FACEBOOK