Kembalinya Politisi Nirzona

Wakil Ketua DPRA, Ketua IPHI, dan Ketua IKA Unsyiah, Sulaiman Abda (By Mahruza Murdani)

Tidak ada manusia yang sesuci Muhammad. Namun penyakit terbesar manusia adalah lupa berterima kasih. Namun, di tangan orang-orang yang berbudi, mereka yang lupa diri kerap terselamatkan. Mereka tidak pun dibuang, walau tak kan lagi pernah dipercaya.

Kiranya dengan pernyataan Ketua Golkar Aceh, TM. Nurlif, cukuplah untuk menghentikan polemik politik tentang status Sulaiman Abda, Wakil Ketua DPRA yang sempat “dikulkaskan” karena sengketa di tubuh Golongan Karya Aceh.

“SK penunjukan kembali Sulaiman Abda sebagai Wakil Ketua DPRA mewakili Partai Golkar sudah kami terima dari DPP Partai Golkar akhir September 2016,” kata Nurlif sebagaimana dikabarkan Serambi Indonesia.

Ketika ia digoyang, banyak orang yang sebelumnya ia beri kesempatan membangun karir, berbaris meninggalkan dirinya. Ia dibiarkan sendiri berjuang untuk memulihkan nama dan hubungan dengan Jakarta. Ia kerap diejek sebagai “Mantan Wakil Ketua” oleh mantan anak asuhnya, juga oleh mereka yanga apriori terhadap dirinya.

Sulaiman Abda bukan seseorang yang maksum. Ia manusia biasa yang tetap punya kesalahan. Baik dalam memberikan pendapat, bahkan ketika mengambil keputusan. Salah satunya ketika memutuskan berpihak kepada Agung Laksono. Ia pun lengser dari kursi Ketua Golkar Aceh.

Kala ia jatuh itu, dunia mulai terang benderang. Ia mulai bisa meihat dengan jernih siapa sebenarnya kawan dan lawan di tubuh partainya sendiri. Tidak sedikit yang mencoba mendongkelnya untuk terdepak ke luar gelanggang. Agar ia benar-benar putus dari mata rantai politik Aceh.

Saya yakin bahwa Sulaiman Abdarisau. Namun ia bukan tipe yang meledak-meledak. Ia tetap diam sambil terus bergerak keliling negeri. Ia tidak pernah bisa diikat pada satu zona politik. Ia politisi nirzona. Karena baginya Aceh tidak boleh tersekat oleh daerah pemilihan. “Saya putra Aceh. Harus hadir di mana saja sesuai dengan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya pada sebuah kesempatan.

Kini, Nurlif sudah memberikan jawaban yang terang benderang. Status Sulaiman Abda dipulihkan. Ia kembali ke parlemen sebagai Wakil Ketua.

Pada sebuah kesempatan, saya pernah bertanya : Bila diberikan kesempatan, apakah Bapak akan melakukan pembalasan terhadap mereka yang telah menzalimi anda?,”

Ia menjawab: “Saya tidak punya cukup waktu untuk berbuat hal yang demikian. Saya ini orang tua yang harus mengasuh dan mendidik. Bahwa dengan peristiwa ini saya bisa mengenal lebih dekat siapa saja yang selama ini berkawan dengan saya, itu benar. Saya juga belajar banyak hal dari peristiwa ini. Pengalaman adalah guru terbaik.” []

KOMENTAR FACEBOOK