Abdullah Syafii, Bukan Panglima Biasa

12 Oktober 1947, Matangglumpangdua tersenyum. Seorang bayi nan lucu lahir dari rahim seorang perempuan. Kecuali Sang Khaliq, selebihnya tidak ada yang tahu bila bayi lelaki itu adalah seseorang yang kelak akan menjadi sosok besar dalam trah perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Namanya Abdullah Syafii. Seorang pengikut Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Lelaki yang tidak tamat madrasah ibtidayah ini bergabung dengan GAM satu hari sesudah gerakan tersebut diproklamirkan di Gunong Alimon.

Jati diri Abdullah Syafii tidaklah terbentuk dalam GAM. Ia telah menjadi seseorang yang istimewa sejak keluar masuk berbagai dayah di Aceh untuk mempelajari ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah. Dibandingkan watak kombatan, sifatnya jauh dari kesan itu. Ia lebih cocok sebagai inspirator, pendidik sekaligus penasehat. Bawaannya lemah lembut.

Ia juga bukan jebolan maktabat militer Tripoly, Libya. Ia seorang Panglima yang lahir, besar, berlatih dan berjuang di tanoh Aceh. Ia kombatan organik. Di sisi lainnya, Abdullah Syafii juga pernah menjadi pemain teater. Sehingga ia punya kemampuan menyaru untuk kepentingan perjuangan dan menyelamatkan diri. Kombinasi seniman, agamawan dan gerilyawan telah membentuk Sang Panglima menjadi sosok panutan yang sampai sekarang masih memberikan inspirasi.

Kisah tentang betapa ia sebagai sosok panutan, terekam jelas di minda warga Mukim Cubo, Pidie Jaya. Teungku Lah–begitu ia akrab disapa– merupakan sosok pejuang GAM yang mempunyai visi masa depan.

“Ia tidak pernah meminta pajak nanggroe kepada rakyat. Ia rela mengorbankan harta dan kesenangan pribadi demi mewujudkan cita-cita GAM,” ucap seorang Warga Cubo.

Sejarah mencatat, bahwa di bawah kendali Abdullah Syafii, perilaku gerilyawan GAM lebih soft dan humanis. Ia tidak memperbolehkan pengrusakan fasilitas publik seperti sekolah. Ia bahkan mendorong generasi muda Aceh untuk bersekolah setinggi mungkin.

“Cukup saya dan pasukan yang bertempur melawan Indonesia. Kalian harus belajar di bangku sekolah. Bila kelak sudah pintar, bantu bangsa Aceh untuk maju ” ucapnya kepada beberapa pemuda yang minta ikut naik gunung.

Abdullah Syafii juga sosok pejuang yang sangat menyintai lingkungan hidup. Dalam gerak gerilya, ia jarang mengizinkan pasukannya menembak hewan liar. Bahkan pembukaan lahan pun sangat dilarang, kecuali untuk kebutuhan logistik semata.

Catatan tentang kehumanisan Abdullah Syafii kini berserak dalam kepala orang-orang yang pernah mengenalnya. Ia tetap bersemanyam dalam dada tiap insan yang pernah berhubungan dengan sang “jihadis”.

Tentu yang paling fenomenal adalah doanya, ia ingin Allah mencabut nyawanya ketika Aceh mendekati merdeka.

Doa itu dikabulkan. Lelaki keren itu kembali ke pangkuan Sang Pencipta, bersama dengan istri tercinta, pada 22 Januari 2002 di tengah sunyinya rimba Jijiem. Nyawanya dijemput Izrail setelah tubuhnya ditembusi peluru prajurit TNI.

Kini, lelaki luar biasa asal Matangglumpangdua itu telah berada di alam kubur. Ia bersemanyam di Gampong Blang Sukon, Bandar Baru, Pidie Jaya. Di samping nisannya, sang istri juga berbaring di sana. Makam keduanya berada persis di belakang rumah panggung milik mereka yang pernah dibakar oleh TNI.

***
Ketika saya menjejakkan kaki ke Cubo pada akhir 2014, masih ada aura kehilangan di kalangan warga di sana. Mereka bercerita banyak hal tentang Abdullah Syafii kepada saya.

“Ia adalah pejuang yang tahu menempatkan diri. Baginya perang bukan tentang kenangan semata. Perjuangan GAM harus menjadi spirit bagi semua orang Aceh. Senapan ganya sekedar alat bertahan dari serangan lawan. Tujuan perjuangan ini adalah untuk melindungi rakyat Aceh. Rakyat Aceh harus sejahtera, pintar, bertaqwa dan adil,” ujar seorang warga mengulang kalimat Sang Panglima.[]