Polemik Logo, YARA Desak UIN Kembali Jadi IAIN

ACEHTREND. CO, Banda Aceh -Penetapan karya Fandy Diadline Widi Anugerah sebagai pemenang Sayembara Logo UIN Ar-Raniry telah menimbulkan sikap pro-kontra di masyarakat. Sabagian mengatakan tidak ada aspek Islam dan historis dalam logo itu. Sementara pada sisi lain, status IAIN yang telah diubah menjadi UIN menuntut perubahan mendasar karena kajian di kampus itu tidak lagi fokus pada Islam semata.

“Logo UIN ini adalah konsekuensi dari perubahan status IAIN menjadi UIN. Ketika menjadi UIN, maka dengan sendirinya berdiri fakultas dan jurusan-jurusan sains. Artinya harus ada perubahan logo agar sesuai dengan visi UIN,” kata Safaruddin SH, Direktur Eksekutif Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Senin (17/10/2016), di Banda Aceh.

“Harus dipahami, UIN itu berbeda dengan IAIN. Di UIN dipelajari semua ilmu secara terintegrasi. Jadi, wajar pihak rektorat menghendaki perubahan logo yang mendasar agar sesuai dengan visi baru yang diemban. Saya menilai karya yang dimenangkan itu sudah menjawab pengintegrasian sains dan Islam”, katanya.

Safaruddin menambahkan, pihaknya sudah memprediksi sejak lama bahwa akan ada perubahan-perubahan susulan setelah penghapusan IAIN Ar-Raniry.

“Makanya, YARA dulunya sangat gigih memperjuangkan agar IAIN Ar-Raniry tidak diubah. IAIN harus dipertahankan sesuai dengan visi pendiri Kopelma Darussalam, yaitu adanya kampus umum (Unsyiah), ada kampus Islam modern (IAIN Ar-Raniry) dan ada lembaga pendidikan Islam tradisional (Dayah Syik Pante Kulu),” terang Safaruddin.

“Dulu sudah saya katakan bahwa IAIN harus tetap menjadi kampus kajian Islam dan dikembangkan sehingga menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Sementara kajian-kajian umum biar dipelajari di Unsyiah saja. Jangan saling serobot. IAIN harus mewarnai Unsyiah dengan nilai-nilai Islam. Tapi saat itu, ide saya justru ditolak, bahkan banyak mendapat kecaman. Nah, inilah akibatnya,” kata Safaruddin yang juga Ketua TPM Aceh.

Safaruddin mengusulkan, kalau ingin mengembalikan semangat Darussalam, maka UIN wajib dikembalikan statusnya sebagai IAIN. “Inilah khas Aceh. Ada kampus Islam dan kampus umum dalam satu kompleks.Nggak di tempat lain di Indonesia. Jadi, kitanggak perlu latah dengan mengikuti IAIN Jakarta yang berubah menjadi UIN,” katanya.

“Penghapusan IAIN di tanah Darussalam lebih besar dibanding perubahan logo. Logo itu kan casing, sementara nama lembaga IAIN itu adalah mesinnya. Terasa aneh, waktu diganti casing semua ribut, sementara ketika mesinnya dicopot semua diam membisu,” Safaruddin mengingatkan memori.

“Dalam hal ini saya mendorong agar rakyat Aceh mendesak rektor untuk mengembalikan UIN ke status awal seperti diinginkan pendiri, yaitu IAIN Ar-Raniry. Biarkan IAIN menjadi besar dalam kajian keislaman. Jangan sampai jurusan-jurusan keislaman menjadi anak tiri di rumahnya sendiri. Jadi, bukan hanya minta pengembalian logo, itu sempit sekali cara berpikirnya,” Safaruddin menyarankan. ***