Ini Kata Lukmanul Hakim tentang Uji Ulang Kesehatan dan Langkahnya

ACEHTREND. CO, Banda Aceh – Lukmanul Hakim, paslon kepala daerah dari Aceh Tamiang merasa kecewa dengan uji pemeriksaan kesehatan ulang yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUDZA).

“Saya akan gugat. Ini bukan soal pribadi saya, ini tanggungjawab saya kepada pendukung, ” sebut Lukmanul Hakim di Banda Aceh, Sabtu (22/10).

Lukmanul Hakim menegaskan ada kejanggalan dalam pemeriksaan ulang kesehatan.

Diakuinya, tes kali ini pihak rumah sakit jauh lebih siap dibanding tes yang lalu. “Tapi prosesnya sama saja, tetap tidak transfaran, padahal kita menuntut agar transfaran, ” tambahnya.

Tidak transfarannya karena hasil plenonya tidak mengikutsertakan pihak Panwaslih, dan hasilnya tidak langsung diumumkan, karena ada rapat pleno yang harus dilalui, sehingga tidak tahu apa yang terjadi dalam proses yang tidak transfaran ini.

“Saya sendiri yakin jika saya lewat karena jawaban-jawaban saya jauh lebih baik dari jawaban sebelumnya, ” katanya.

Diakuinya, tidak mungkin bisa menjawab dengan sempurna, tapi di atas 50 persen iya yakin bisa menjawab. “Semua orang juga tidak mungkin bisa menjawab 100 persen, ” tegasnya.

Lukmanul Hakim juga menyatakan adanya kejanggalan karena standar pemeriksaan kesehatan tidak disertakan sehingga tidak diketahui poin apa saja yang diperiksa dan bagaimana katagori nilainya untuk disebut lulus atau tidak lulus.

“Ini semua mestinya dinyatakan secara transfaran, ” kata Lukmanul Hakim.

Kejanggalan kedua, mestinya dalam rapat pleno terperiksa dan Panwaslih diikutsertakan. “Ini tidak, sehingga dimana kita gagal kita tidak tahu persis, ” paparnya.

Lukmanul mengaku kecewa, namun ia menyatakan tidak terlalu bersedih hati secara berlebihan. “Tapi saya ada tanggungjawab terhadap pemberi 18 ribu KTP. Jadi ada kewajiban moral saya mesti mempertanyakan hasil ini, lewat gugatan PTUN, ” katanya lagi.

Terakhir ia mengaku dipaksa untuk menandatangi berita acara pemeriksaan yang ujungnya menyatakan dirinya gagal walau dengan proses yang tidak transfaran.

“Kami ada tiga, dan saya berserta Pak Saifannur dipaksa tandatangani berita acara pemeriksaan, walau dengan resiko harus terima dinyatakan gagal walau prosesnya tidak transfaran, ” pungkasnya. []

KOMENTAR FACEBOOK