Komunikasi Politik Internasional Mualem

Dunia maya facebook tiba-tiba digoyang gempa informasi tentang pertemuan Muzakir Manaf alias Mualem dengan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Rabbi David N. Saperstein, Selasa (25/10/2016). Dumai “bergetar” karena dinilai bahwa sebagai “perwujudan Aswaja, Mualem dinilai telah lancang karena bersedia bertemu dan pajoh bu cot uroe dengan seseorang yang diasosiasikan sebagai musuh.

Kecaman demi kecaman pun bertebaran di dunia medsos dan dunia nyata. Intinya banyak yang mengecam. Mereka tidak bisa menerima tentang sikap Mualem yang bersedia bertemu dengan perwakilan Amerika Serikat itu. Bagi mereka, Mualem telah mengkhianati Aceh dan harus meminta maaf kepada rakyat Aceh.

Lalu benarkah Mualem telah melakukan tindakan bodoh dan juga telah pula mengkhianati Aceh, karena pertemuan dengan tokoh Yahudi di Amerika itu?

Jawabannya tentu beragam dan juga tergantung kepentingan serta tingkat pendidikan. Sejauh amatan saya, ada dua kelompok yang gencar melakukan penyerangan dengan pola psy war terhadap Mualem. Pertama “lawan politik”. Ini wajar karena pertarungan opini publik untuk mereduksi dukungan untuk mantan Panglima TNA GAM. Kedua, kelompok tuet antine yang melihat peristiwa dengan pengetahuan terbatas. Mereka ini ibarat cangguk dimiyub bruek yang gagap menghadapi hidup.

Dalam kehidupan dunia –kita belum berada di surga– berinteraksi dengan manusia yang berseberangan iman adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak bisa hidup hanta dengan dirinya atau komunitasnya saja. Ia butuh berkenalan atau berhubungan dengan manusia lainnya di luar entitasnya sendiri.

Hal yang sama sudah pula dilakukan oleh penguasa Aceh ketika Aceh Darussalam berjaya. Kala itu Aceh bisa menjadi besar karena menjalin hubungan diplomatik dengan dunia luar, termasuk dengan Amerika Serikat, Inggris dan negara lainnya.

Kembali ke Mualem, saya melihat bahwa apa yang dilakukan olehnya adalah bentuk kemajuan komunikasi politik anak bangsa Aceh. Mualem sadar bahwa membangun komunikasi dengan mereka yang mewakili negara kuat sangatlah penting. Ini sangat berdampak positif bagi Aceh.

Aceh tidak boleh eklusif dengan dirinya sendiri. Aceh harus kembali kosmopolit. Negeri ini harus terkoneksi dengan dunia luar. Bila tenggelam dalam rasa superior yang salah tempat, sungguh bangsa ini hana le dituso droe. Sehingga hana meuoh ban wate meuhubong ngon gob.

Apa yang dilakukan oleh Mualem ketika bertemu Rabbi David adalah sesuatu yang luar biasa. Calon Gubernur yang diusung oleh Partai Aceh itu menjelaskan berbagai hal tentang penerapan Syariat Islam. Termasuk penjelasan tentang Syariat Islam hanya akan diterapkan kepada pemeluknya. Sedangkan di luar entitas Islam hanya perlu menghormati saja, tanpa perlu risau akan dihukum dengan qanun SI.

Apakah penjelasan yang demikian tidak penting? Hei, Mualem menjelaskan itu kepada Dubes Amerika Serikat yang punya koneksi langsung dengan Presiden AS. Mualem berbicara dengan seseorang yang punya pengaruh. Bukan kepada sibuta huruf yang hidup di bawah tempurung. David adalah juru info bagi negara yang sangat tidak memahami Islam.

Amerika Serikat bukanlah sebuah negara kecil. Negeri Kennedy tersebut adalah satu-satunya super power yang masih tersisa di atas muka bumi. Aceh harus punya hubungan dengan negara itu. Untuk membangun itu, kita harus punya komunikasi yang bagus dengan elit di negara tersebut.

Pada akhirnya saya melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Mualem adalah sesuatu yang luar biasa. Ia, layaknya Irwandi, yang mampu berkomunikasi dengan multi pihak. Karena Aceh harus mendapatkan citra positif dari pihak lain, demi terbuka kembali gerbang internasional bagi Aceh.

Satu hal lagi, Aceh masih berada di planet bumi. Kita belum pindah ke mars. []

Foto: Dikutip dari intenet.

KOMENTAR FACEBOOK