Nomor Urut dan Terjemahan Gaib

Komisi Independen Pemilihan (KIP) se Aceh pada Selasa (25/10/2016) sukses menggelar Rapat Pleno Terbuka penarikan nomor urut paslon yang maju dalam pilkada 2017. Masing-masing tim, dalam waktu yang tidak terlalu lama segera punya terjemahan tentang nomor urut kandidat masing-masing. Semuanya pun mengaitkan dengan “restu” langit dan kesertaan indatu.

Dalam upaya “mengeramatkan” nomor urut, dari beberapa tim pemenangan, ada yang sudah mempersiapkan terjemahan tiap nomornya sebelum mereka tiba di tempat acara penarikan nomor urut. Tiap angka sudah memiliki terjemah masing-masing.

Begitu sang kandidat mendapat nomor urut satu, tim langsung mengatakan “Kandidat kami mencerminkan keesaan Allah. Karena Allah itu satu,” teriak mereka.

Kandidat nomor dua pun tak mau kalah. Syahadat hanya ada dua. Sehingga nomor dua telah pun didukung oleh Tuhan. Nomor tiga lain pula cara terjemahnya. Bahwa punca keseimbangan manusia adalah ketika ianya mampu menyeimbangkan antara tiga sumber kerusakan manusia berupa mulut, perut dan fahraj (kemaluan). Nomor empat bahwa tanggal keramat bagi Aceh adalah Empat. Nomor lima ada hubungan dengan rukun Islam. Nomor enam dengan rukun iman. Andaikan ada 1000 kandidat yang maju, sungguh akan ada seribu tafsir angka.

Bila diperiksa secara detail, tiap tim sudah menyiapkan terjemahan per angka. Semuanya positif. Tidak ada terjemahan sial.

Namun karena mereka sadar bahwa mayoritas pemilih adalah irrasional, oleh mereka yang ambil bagian, Tuhan pun dipaksa terlibat secara parsial. Tiap nomor diklaim didukung Tuhan. Seolah-olah semua mereka merupakan “utusan baru” yang dikirim untuk memperbaiki kondisi bangsa setiap lima tahun sekali.

Anehnya lagi, pendukung kandidat yang mendapat nomor urut satu, mengatakan nomor dua dan seterusnya adalah angka sial. Demikian juga sebaliknya. Pada akhirnya, bila dilihat dari sudut pandang partisan, tidak ada nomor yang benar-benar direstui oleh Tuhan, karena semuanya bicara angka keberuntungan dan angka sial.

***
Dalam tradisi Cina, angka memiliki kekuatan gaib. Angka 8 diasosiasikan sebagai nomor paling beruntung.Dengan pengucapan ‘Ba’ dalam bahasa Cina, tidak ada. 8 terdengar mirip dengan kata ‘Fa’, yang berarti untuk mendatangkan keberuntungan. Ini berisi makna kemakmuran, kesuksesan dan status sosial yang tinggi juga, sehingga semua orang bisnis mendukung sangat banyak.

Selain itu, di beberapa daerah Cina, orang lebih memilih untuk membayar lebih banyak uang untuk nomor telepon dengan 8 di dalamnya. Mereka juga mendukung tinggal di lantai delapan gedung. Pada 1990-an, nomor identifikasi kendaraan dengan 8 pernah dilelang untuk 5 juta dolar Hong Kong.

Sedangkan angka nomor 2 biasanya diterjemahkan sebagai perkembangan dan harmoni. Dkorasi di Cina selalu Disiapkan berpasangan, seperti sepasang lilin merah, sepasang bantal, dan bait digantung di dua sisi pintu.

Nomor 6 diucapkan sebagai ‘Liu’, secara tidak langsung artinya homophony- Apakah semuanya lancar. 4 adalah pengecualian bahkan peraturan nomor kedengarannya seperti ‘Si’ (kematian) dalam bahasa Cina. Sama seperti beberapa orang Barat benci angka 13. Orang-orang Cina selalu menghindari Cina 4 dan nomor 14 ketika mereka memilih nomor telepon, nomor kamar atau pilih tanggal upacara.

***
Terjemahan angka adalah bullshit. Itu hanya omong kosong. Tauhid kita bisa bergeser bila mengira Tuhan hadir untuk satu nomor dan meninggalkan nomor lainnya. Angka diciptakan untuk hitungan, sama seperti abjad dilahirkan agar manusia bisa menulis.

Angka atau nomor urut satu tidak lebih unggul dari nomor urut dua. Angka tiga tidak lebih hebat dari empat. Derajat angka akan tetap sama. Hanya sebatas hitungan yang bila ditempatkan di WC tetap tidak mengurangi jumlah, dan bila ditempel di dinding mesjid, hitungannya pun tidak berubah.

Pemilu kita memang selalu saja diramaikan oleh hal-hal yang di luar akal sehat. Semua perihal tentangnya acapkali dikaitkan dengan alam lain. Bahkan tidak jarang, ada kandidat mengaku bertemu –dalam mimpi– dengan orang hebat di masa lalu. Ini dilakukan untuk mencitrakan bahwa ianya adalah next leader yang direstui oleh alam arwah indatu.

Bila angka adalah bullshit. Maka apa pula yang benar? Pilkada adalah ajang memilih pemimpin. Mereka tidak semitos yang digambarkan dalam terjemahan angka. Selama manusia masih mampu diperbudak oleh tiga kekuatan nafsu angkara –mulut,perut, dan fahraj– selama itu pula ianya masih sekedar manusia dhaif.

Ketika mereka masih menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Jahil dalam mengambil keputusan, tidak adil dan cenderung berpikir untuk dirinya sendiri, maja dia bukanlah orang yang tepat untuk menjadi pemimpin umat.

Untuk itu, untuk menentukan pilihan politik, lihat dan pelajari track record si calon. Rekam jejak tidak pernah bisa berbohong. Kemudian perhatikan visi dan misi, sudah sesuaikan dengan RPJM daerah? Juga lihat siapa pendukungnya?

Akhirnya, selamat berkampanye secara sehat. Lupakan angka sebagai mitologi, tapi sosialisasikan nomor urut agar pendukung tidak salah coblos. []

KOMENTAR FACEBOOK