Ternyata Plt Gubernur Aceh Juga Akrab di Daerah Konflik

ACEHTREND.CO, Banda Aceh -Soedarmo sudah pasti jadi Plt Gubernur Aceh. Besok, Kamis (27/10) Mayor Jenderal yang diajak Mendagri Tjahjo Kumolo untuk memimpin Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum di Kemendagri ini akan diresmikan. Akankah Soedarmo akan kikuk dan kaku mengemban tugas di Aceh yang pernah dilanda konflik panjang?

Dari hasil penelusuran, ternyata adik leting Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo ini sudah akrab bertugas di daerah konflik, seperti di Timor Timur dan Maluku Utara.

Di Timor Timur semasa masih menjadi bagian dari Indonesia,
Soedarmo pernah bertugas tiga kali di Timor Timur. Pertama, ia pernah ditugaskan hingga 1984. Setahun kemudian, pada 1985 kembali ditugaskan sebagai Danramil di  Manatuto Tim-tim. Terakhir, Soedarmo pada kembali ia ditugaskan ke Dili, Timor-Timur pada 1994.

Daerah konflik lain adalah Maluku Utara. Dari penuturannya kepada media, di Maluku Utara Soedarmo bertugas mengumpulkan informasi intelijen.

Ia bercerita, untuk menjalankan tugasnya mengumpulkan informasi, ia menanam orang-orangnya di dua kelompok bertikai. Dengan begitu ia mendapatkan informasi akurat jika akan ada serangan.

Jadi, ia selalu dapat informasi, kapan, jam berapa, dan dimana kelompok A atau B yang berkonflik akan melakukan serangan. Informasi itulah yang kemudian ia pasok ke aparat yang bertugas.

Masih berdasarkan penelusuran di berbagai media, ada sebuah kejadian yang sampai sekarang masih ia ingat.

Saat itu, dia sudah menyampaikan informasi, bahwa pada hari A, jam sekian, kelompok B bakal menyerang kampung C. Namun, pengamanan terhadap kampung C tak diperketat.

Akibatnya, benar saja, kelompok B memang menyerang dengan kekuatan besar. Kampung C pun luluh lantak. Banyak anak-anak yang jadi korban. Dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan ‘pembantaian’ yang tak berkemanusiaan itu.

”Kita pernah berperang, saling tembak menembak. Tapi, menyaksikan anak-anak yang tak berdosa jadi korban, saya tak bisa menahan emosi,” kata Soedarmo dengan suara tergetar, sebagaimana dilansir beberapa media.

Aceh juga pernah dilanda konflik, bahkan konflik yang panjang dan keras, sehingga dampak dan perilaku konflik masih belum lekang secara utuh. Dan kini, Aceh kembali memasuki musim Pilkada yang sangat mungkin juga memicu konflik.

Kita berharap, dengan pengalaman panjangnya bertugas di daerah konflik, dengan nuansa konflik ideologi (Timor Timur) dan konflik horizontal (Maluku Utara) maka konflik politik di Pilkada tidak sampai mendatangkan korban kekerasan apalagi korban jiwa. Semoga!

KOMENTAR FACEBOOK