Suara Almuslim Gelar Seminar Aceh di Gerbang Nusantara

ACEHTREND.CO,Bireuen- Lembaga Pers Mahasiswa Suara Almuslim (LPM SA) menggelar seminar nasional bertajuk: Aceh di Pintu Gerbang Nusantara, Rabu (26/10/2016) di aula M A Jangka, Universitas Almuslim, Bireuen. Hadir sebagai pemateri Teungku Taqiyuddin Muhammad,Lc dan Haekal.Afifa, SIP.

Teungku Taqiyuddin, dalam paparan materinya menyampaikan tentang kemegahan Aceh masa lalu, serta ilmu pengetahuan yang maju pesat kala itu. Termasuk juga tentang tokoh-tokoh besar di era lampau di dua peradaban besar yaitu Samudera Pase dan Aceh Darussalam.

Aceh kala itu, terang Abu Taqiyuddin, merupakan negara kosmopolit. Penduduknya cerdas. Mereka mampu menguasai berbagai bahasa di dunia. Aceh mampu membangun diplomasi dengan bangsa lain di luar Asia.

“Kekalahan Aceh bukan karena tidak mampu meladeni Bangsa Eropa yang memerangi indatu kita. Tapi karena adanya pengkhianatan di internal,” ujar Teungku Taqiyuddin yang merupakan peneliti di CISAH dan MAPESA.

Haekal Afifa, Direktur Institut Peradaban Aceh, dalam kesempatan itu mengatakan saat ini Bangsa Aceh sudah kehilangan harga diri. Sehingga banyak yang merasa rendah diri di depan orang lain.

Hilangnya identitas sebagai Bangsa diakibatkan oleh berbagai serangan kebudayaan dan politik. Awalnya disebabkan oleh jatuhnya pendidikan di kalangan rakyat Aceh.

“Pasca digabungkannya Aceh dengan Indonesia, bangsa kita semakin lemah. Dengan konsep pendidikan sekuler, pemaksaan transmigrasi masuk ke Aceh, serangan budaya melalui mass media, dan nasionalisasi tanpa konsep yang jelas, Rakyat Aceh kehilangan identitasnya,” ujar Haekal.

Kedua pemateri itu juga menggugat nusantara dalam konteks politik dan budaya. Karena menurut mereka kata nusantara tidak pernah ditemukan dalam manuskrip Aceh dan Melayu. Bila dimaknai kemudian dalam bentuk penjabaran kepulauan dalam konteks Indonesia, mereka mengatakan Aceh bukan sebagai gatenya. Tapi sebagai rumah bagi nusantara.

“Ada dua rumah bagi nusantara yaitu Aceh dan Sunda Kelapa. Kita jangan terjebak dalam pendefinisian orang lain, sehingga kita lupa siapa diri kita. Seolah-olah bangsa ini kecil dan orang lain superior ” kata Haekal. []

KOMENTAR FACEBOOK