Ruhut Sebut Ahok dan Donald Trump Mirip, Mirip Apanya?

ACEHTREND. CO, Jakarta – Juru bicara tim pemenangan Ahok – Djarot, Ruhut Sitompul, menganggap calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan calon Gubernur DKI petahana, Basuki Tjahaja Purnama memiliki kesamaan.

“Sekarang lihat (pemilihan presiden) Amerika Serikat, Donald Trump sama Ahok mirip enggak? Mirip kan. Nah sama, (Ahok) pasti menang,” kata Ruhut, saat dihubungi wartawan, Rabu (9/11/2016).

Saat ini, kata Ruhut, masyarakat menginginkan seorang pemimpin yang memiliki karakter tegas. Meski tak sedikit aksi penolakan, Ruhut tetap meyakini Ahok dapat mengungguli dua pesaing lainnya, yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan.


“Ya, pokoknya Ahok tetap menang (pilkada) satu putaran. Ahok enggak bisa dibendung,” kata Ruhut.

Apa maksud Ruhut mengatakan Ahok mirip dengan Donald Trump? Apakah gayanya atau juga termasuk pikiran, tindakan dan programnya? Berikut dampak terpilihnya Trump terhadap umat Islam, sebagaimana dilansir BBC Indonesia, Kamis (10/11).

Kaum muslim, baik di AS maupun di luar negeri

Saat berkampanye beberapa bulan lalu, Trump telah melontarkan beragam pernyataan yang mengkhawatirkan umat muslim. Dia pernah mengemukakan gagasan untuk memantau masjid-masjid di AS dan ingin agar umat Islam diawasi aparat sebagai langkah melawan terorisme.

Bahkan, pada Desember 2015 lalu, Trump menyerukan diberlakukannya upaya terpadu agar kaum muslim tidak memasuki Amerika Serikat.

Sejumlah media di AS melaporkan bahwa Trump ingin memiliki data semua umat muslim di AS, namun Partai Republik belakangan membantahnya dan menyebut bahwa itu merupakan kesalah-pahaman setelah seorang wartawan menanyakan hal itu dan Trump keliru memahami pertanyaannya.

Namun, ketika seorang wartawan NBC bertanya kepada Trump perbedaan antara pendataan warga muslim dan aksi Nazi mendata warga Yahudi pada Perang Dunia II lampau, Trump menjawab, “Coba Anda beritahu saya.”

Kaum muslim yang diuntungkan

Sulit untuk mengetahui apa keuntungan hasil pilpres AS 2016 ini bagi komunitas muslim. Beberapa penulis dari kalangan muslim menyebut bahwa mereka hanyalah kaum minoritas yang tidak coba dijangkau oleh Trump selama kampanye pilpres.

Kaum muslim yang khawatir

Para pengkritik menuding Trump memainkan ketakutan terhadap Islam atau Islamofobia dan stereotipe negatif untuk menarik perhatian warga AS selama kampanye.

Ucapan Trump terhadap orang tua prajurit AS yang gugur, Kapten Humayun Khan, meliputi klaim bahwa ibu mendiang, Ghazala Khan, “tidak diizinkan berbicara” saat mendampingi suaminya dalam Konvensi Nasional Demokrat karena perintah agama. Komentar Trump kemudian dibantah Ghazala Khan, yang menyebut bahwa dia tidak berbicara lantaran menahan kesedihan mendalam.

Kontroversi Trump terkait umat muslim tak berhenti di situ. Setelah penembakan massal di San Bernardino, California, yang menewaskan 14 orang, Trump mengeluarkan pernyataan pers berisi seruan ‘larangan secara menyeluruh’ terhadap umat muslim memasuki wilayah AS.

Seruan itu mengundang respons dari umat muslim di luar AS, termasuk di Indonesia.

“Idealnya Trump menerapkan diplomasi politik yang universal dan¬†humble¬†(rendah hati), terutama ke negara-negara Muslim,” kata Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Helmy Faishal Zaini.[]