Lidah Liar Politisi

Buya Syafii Maarif sepakat lidah Ahok liar. Dan, menurut pengakuannya, ia telah mengirim pesan agar Ahok pandai menjaga lidah, jangan biarkan lidah itu berkeliaran secara jalang.

Buya lagi-lagi benar, dan begitulah lidah politisi, satu atau dua dan tiga orang. Gara-gara lidahnya yang berkeliaran secara jalang, maka umat ini berada dalam perang.

Dan senjata yang paling tajam di zaman perang hingga zaman orasi dan jurnalistik, bukanlah pedang katana tipe single-edge dari Jepang, bahkan bukan juga pedang Damaskus yang pernah dipakai oleh Salahuddin Al Ayubi dalam Perang Salib III.

Pedang paling tajam melebih tajamnya pedang itu sendiri adalah lidah. Begitu tajamnya hingga lahir ungkapan “lidah memang tak bertulang tapi tajamnya mengalahkan pedang.”

Bayangkan, setiap hari kita makhluk pintar bicara mengeluarkan ribuan kata per hari. Ada yang bilang lelaki sekitar 7 ribu kata perhari dan perempuan sekitar 20 kata per hari. Jumlah ini mengharuskan kita semua untuk menjaga lisan.

Allah dan Rasul menjadikan menjaga lisan sebagai kunci keselamatan hidup, di dunia, bahkan di akhirat.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Begitu dasyatnya dampak lisan yang tidak terjaga. Ya, seperti lidah politisi yang kini membakar kemarahan di sebahagian umat Islam. Atau, lidah politisi yang membuat murka para pendukung kandidat yang telah disebut pembawa laknat.

Itu bukan bermakna tajamnya lidah sama sekali tidak bermanfaat. Lisan Abu Dzar Al Ghifari memang lebih tajam dari pedang sehingga menakutkan bagi penguasa yang melakukan pelanggaran.

Dengan lisannyalah, sesuai nasehat Nabi, ia berjuang mengingatkan penguasa agar tidak tenggelam dalam perebutan kekuasaan untuk tujuan penumpukan harta kekayaan.

“Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih pada hari kiamat,” teriak Abu Dzar, yang kemudian diteriakkan kembali oleh para pendukungnya ibarat demontran meneriakkan lagu perjuangan di depan istana atau pendopo.

Sampai saat ini, khususnya di masa orde baru, Abu Dzar menjadi inspirator bagi demonstran yang berdiri gagah di depan istana, dan tidak pernah takut meski dihadapkan dengon moncong senjata. Teriakan demi teriakan itulah yang akhirnya membuat Soeharto memilih mundur.

Alkisah, Abu Dzar mengakhiri hidupnya di tempat sunyi bernama Rabadzah, pinggiran Madinah, sampai ajal menjemputnya, juga dalam kesunyian. Tapi, lisannya masih tetap tajam bagi semua penguasa di segala zaman, hingga kini, bahkan sampai para aktivis bertekuk lutut berbalik menjadi penjaga kekuasaan dari kekecewaan rakyat kecil yang kecewa, ucapan-ucapan Abu Dzar yang diteriakkan kembali oleh aktivis baru akan tetap tajam, melebihi tajamnya pedang. []

KOMENTAR FACEBOOK