Sulaiman Abda, Mengabdi Melampau Dapil

Kumandang azan ashar bergema dari mesjid Gampong Tibang, Banda Aceh. Lelaki bertubuh tinggi besar dan gempal itu segera menuju kulah untuk wudhuk. Sejenak kemudian ia mengimami shalat dengan beberapa makmum, yang kebetulan sedang berada di rumah tempat sang politisi sehari-hari menikmati “liburan”.

Setengah jam sebelum ashar, ia baru saja menerima tamu dari Kabupaten Pidie. Sejumlah lelaki berperawakan macho, bersilaturahmi ke rumah itu. Mereka membawa serta satu eksamplar proposal.

“Insya Allah saya bisa membantu. Tapi tidak bisa penuh. Teungku sekalian harus bertemu dengan anggota DPRA dari dapil Pidie. Kalau tidak salah, ada sekitar tujuh orang. Bicarakan ini ke mereka,” ujar politisi kawakan itu, Selasa (15/11/2016) sembari mempersilahkan tamu-tamunya itu minum.

Namanya Sulaiman Abda. Mantan Ketua KNPI Aceh, politisi Golkar yang lolos ke DPRA dari dapil Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang. Walau dapilnya sudah jelas, ia adalah politisi miliknya Aceh. Ayah dari Ahmad Mirza Safwandy ini tidak bisa “diikat” oleh teritorial. Selama masih dalam lingkup Aceh, maka di sana pula, mantan aktivis mahasiswa itu bisa dan mau mengabdi.

Sulaiman Abda, adalah produk asli Golkar. Ia meniti karier secara perlahan melalui tangga berbagai organisasi, mulai dari terkecil hingga menuju partai politik. Ia tidak besar karena dikarbit. Untuk itu pula, ia memiliki kematangan di atas rata-rata.

Baru-baru ini, sejumlah “mahasiswa” datang ke gedung DPRA, meminta Sulaiman Abda dipecat dari Wakil Ketua dan digantikan dengan Muhammad Saleh. Massa yang kemudian mengaku berdemo karena dibayar oleh seorang politisi lainnya yang mengincar posisi Sulaiman Abda, tidak begitu serius memperjuangkan “aspirasi” yang diteriakkan.

Pun demikian, Sulaiman Abda melihat aksi itu hanya sebagai lelucon politik. “Mereka masih anak-anak dan tidak mengerti duduk persoalan yang sebenarnya. Lupakan saja, nanti mereka juga akan tahu yang mana sutra, yang mana kain biasa,” katanya sembari meracik teh hijau dalam sebuah gayung.

Rumah istirahat, berupa rumah Aceh, tidak pernah sepi dari pengunjung. Rupa-rupa wajah silih berganti datang dan pergi. Kadang yang datang tamu dari barsela, kadang juga dari pantai timur dan utara. Mayoritas memang berhajat dibantu oleh sang politisi.

Sulaiman Abda bukan tipe politisi yang gemar menabur angin surga. Ia mengatakan bisa, bila memang bisa membantu. Dan menggeleng, bila memang tidak bisa atau tidak sanggup membantu. Namun, ia jarang menggeleng. “Saya paham betapa sakitnya ketika ditolak. Kalau bisa melahirkan senyum, kenapa pula harus mengundang sedih?,” Ujarnya.

***
“Semua partai politik sama saja. Tidak ada yang istimewa. Bila diisi oleh sosok yang baik, maka partai itu akan baik. Jadi pesan saya, jangan alergi dan antipati kepada Golkar dan parpol lain. Status kita sama saja,” kata Sulaiman Abda kepada tamunya yang datang membawa proposal.

Para tamu itu mengangguk. “Benar pak, makanya saya datang kemari. Karena kami tahu, bapak adalah salah satu politisi yang paling mudah ditemui oleh rakyat,” ujar salah seorang tamu yang mengaku punya kaitan dengan perjuangan GAM.

Dipuji demikian, Sulaiman tidak jumawa. Ia mengatakan, bila politisi susah ditemui, maka pemilihya harus lebih giat mencari.”Jangan berhenti dan jangan putus asa. Mereka harus Teungku ajak untuk pulang ke dapil untuk melihat kondisi rakyat yang sudah memilihnya,” sarannya.[]

KOMENTAR FACEBOOK