Umat Islam Tidak Benci Ahok?

Tidak ada bukti kuat bahwa muslim benci Ahok. Bukti yang kuat justru sebaliknya, muslim tidak membenci, bahkan Ahok sendiri mengakuinya.

Buktinya, pada Pilkada 2005 di Belitung Timur, ia menang di kantong suara muslim. “Di Belitung Timur saya didukung 93 persen ummat muslim kok,” ujar Ahok di Jakarta, Sabtu (14/7/2012).

Tidak masuk akal Ahok bisa menang menjadi anggota legislatif dan menjadi bupati di daerah Muslim jika Ahok dibenci oleh muslim, kecuali main curang dan main intimidasi. Jadi, yang paling masuk akal adalah karena muslim tidak membenci Ahok.

Begitu juga saat di DKI Jakarta. Tidak masuk akal Jokowi dan Ahok menang jika Muslim memiliki kebencian terhadap salah satunya, misalnya kepada Ahok karena bukan muslim. Buktinya, keduanya terpilih dengan 53,82 persen suara.

Kenapa Ahok tidak dibenci oleh umat Islam? Jawabannya bisa panjang sekali. Sederhananya karena Muslim dilarang membenci semua ciptaan Allah, termasuk manusia. Pada diri manusia ada Nur Ilahi dan Nur Muhammad. Jadi, bagaimana mungkin membenci makhluk ciptaan Allah, yang semuanya ada berawal dari adanya Nur Muhammad?!

Bahwa ada sejarah kemarahan pada manusia benar adanya, dan al quran merekam dan memberi tahu muslim dan semua manusia. Disepanjang sejarah peradaban manusia, dua karakter yang saling kontradiktif secara tajam selalu ada, poros perdamaian versus poros perang-konflik.

Kisah Qabil, Firun dan Abu Jahal adalah contoh poros konflik dan perang, dan para nabi mulai dari Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad adalah contoh poros perdamaian.

Orang-orang, bisa saja menjadi Qabil masa kini jika ia secara individu menjadi manusia perusak, pengacau, penyebar kebencian, fitnah, pembuat onar, dan perusak di bumi.

Penguasa, bisa jadi juga menjadi seperti Firun masa kini yang mempertahankan kekuasaan demi citra dan kenikmatan dan kesenangan dengan menghalalkan segala cara, menipu, menggusur, termasuk mengerahkan kekuatan militer untuk membunuh, dan bila perlu menjadikan kekuasannya sebagai pusat penentu segalanya alias tuhan.

Dan, juga sangat mungkin pemimpin non formal di masyarakat, menjadi seperti sosok pemimpin sipil Abu Lahab, yang terjebak dalam ideologi dan doktrin “gila” dan menolak gagasan perubahan, dengan mempropaganda bahwa idiologinyalah jalan waras bagi revolusi mental.

Kembali ke topik bahasan, umat Islam tidak membenci Ahok, yang menjadi perlawanan muslim adalah ketika ada individu, penguasa dan pemimpin sipil yang bertindak seperti Qabil, Firun dan Abu Jahal.

Model Qabil, Firun, dan Abu Jahal itu bisa saja ada pada semua orang, mau dia beragama yahudi, nasrani, budha, hindu, ateis, dan juga sangat mungkin juga ada di kalangan Muslim. Apakah Ahok manusia suci? Tidak, ia juga bisa tergelincir menjadi “Qabil, Firun, atau juga Abu Jahal. ” Bukan hanya Ahok, tapi juga orang lain, termasuk penulis sendiri.
Jadi, jika umat Islam berbalik marah, dan bahkan memerangi, itu bukan membenci manusianya, melainkan membenci perangainya, tindakannya, apalagi jika sifatnya sudah menyerang, baik secara fisik (tradisional) maupun secara non fisik, seperti serangan secara idiologi, politik, ekonomi, budaya dan lainnya.

Semua perbuatan yang merusak apalagi sampai sudah menyerang disebut perilaku kafir, dan siapapun pelakunya, wajib diperangi, namun tetap tidak boleh secara berlebihan, dan ujungnya tetap harus mengutamakan perdamaian.

Misalnya, ini hanya misalnya. Jika Ahok tersilap atau sengaja melakukan keonaran, apalagi yang sifatnya sudah menyerang, hingga merusak perjanjian anugerah Pancasila sehingga berpotensi terjadinya kekacauan, padahal semua terikat saling hormat menghormati antar pemeluk agama, maka kekafiran (perilaku merusak perdamaian) Ahok perlu diperangi sampai Ahok kembali menjadi bagian dari poros perdamaian, bukan lagi bagian dari poros konflik dan perang.

Apa bukti Ahok kembali ke Poros Perdamaian? Sederhana, ia tidak pagi menyerang, membuat onar, dan menjadi pribadi, kelompok, atau sosok yang merusak perjanjian anugerah Pancasila.

Sikap poros perdamaian yang dipelopori oleh Nabi Muhammad ini bukan hanya berlaku untuk Ahok, tapi juga berlaku untuk semuanya. Tapi, sekali lagi, tidak boleh berlebihan, brutal, melampaui batas, dan main paksa, sebab yang bisa memberi hidayah hanya Allah Swt. Tugas muslim adalah memberi peringatan dengan cara terbaik.

Apakah Ahok akan kembali terpilih nantinya sekalipun ia tetap kukuh untuk menjadi bagian dari Poros Konflik? Semua sangat mungkin, karena qabil, Firun dan Abu Jahal juga ada pendukungnya. Kita doakan saja, semoga Allah memberi hidayah, bukan hanya kepada Ahok tapi kepada semua calon lainnya agar siapapun yang terpilih nanti DKI Jakarta menjadi Pusat Poros Perdamaian. Amin. []

KOMENTAR FACEBOOK